Dari Gajah, Beruang hingga Raflesia

Yusuf Ibrahim menggendong tabung pralon sepanjang dua meter yang tersumbat di satu ujungnya. Ujung lainnya menyerupai laras meriam. Dia memasukkan butiran karbit bercampur air ke dalam tabung, lalu memercikkan api dari koreknya. Bom!

“Ini meriam untuk menghalau gajah,” kata Yusuf, warga Desa Buket Keumuneng di Kecamatan Teunom, Aceh Jaya. Gajah sumatra (Elephas maximus sumatranensis), salah satu mamalia unik Indonesia, masih berkeliaran di sini dan kadang merusak ladang desa-desa.

Ahmadi dan petani sedesanya mengusir gajah tanpa membunuhnya. Buket Keumuning dan desa-desa sekitar di Mukim Sarah Raya terletak di daerah aliran sungai Teunom, yang merupakan bagian dari Hutan Ulu Masen. Meski kadang mengesalkan penduduk, gajah sumatra adalah salah satu satwa dilindungi dan menjadi simbol keragaman hayati tak ternilai Hutan Ulu Masen.

Lupakan Arun dengan cadangan gasnya yang mulai menipis. Simbol kekayaan Provinsi Aceh sekarang dan masa depan mungkin adalah Hutan Ulu Masen. Jika terlestarikan, dia bahkan merupakan kekayaan ternilai bagi Aceh sepanjang masa.

Seluas 750 ribu hektar, atau 12 kali kota Jakarta, Ulu Masen merupakan separo wilayah tangkapan air yang yang menghidupi 17 sungai besar di seluruh provinsi itu. Bersama Hutan Gunung Leuser, yang berdekatan dengannya, Ulu Masen membentuk satu ekosistem hutan tropis terluas di Asia Tenggara, sekitar 2,3 juta hektar.

Ulu Masen mungkin tidak seterkenal Hutan Gunung Leuser yang diproklamasikan sebagai taman nasional dan cagar biosfer warisan dunia oleh Unesco. Tapi, kekayaan alam dan lanskapnya yang indah tak bisa diabaikan. Meski ada problem penebangan dan perubahan hutan menjadi lahan perkebunan, ladang dan pertanian, hutan Aceh masih dinilai sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia.

Tidak hanya mencukupi kebutuhan air jutaan penduduk di lima kabupaten, Ulu Masen juga rumah bagi aneka satwa dan tumbuhan—salah satu hutan tropis dengan keanekaragaman hayati tertinggi di Indonesia. Yang paling istimewa, dia juga merupakan salah satu rumah terakhir bagi empat mamalia unik Indonesia yang hampir punah: orangutan (Pongo abelii), gajah, badak (Dicerorhinus sumatranensis) dan harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae).

Di samping mamalia itu, Ulu Masen mengandung beragam mamalia lain, reptil, burung dan binatang amfibi. Survai Flora Fauna International pada 2003 juga menemukan mamalia seperti macan kumbang (Felis bangalensis), beruang madu, rusa (Carvus unicolor), tapir, kambing gunung, landak, trenggiling, bajing, siamang (Hylobates syndatylus), kedih (Prebytes thomasi), ungko lengan putih (Hylobates lar), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), beruk (Macaca nemestrina), dan lutung (Prebytis cristata).

Ular phiton dan kura-kura adalah kekayaan reptilia Ulu Masen lainnya disamping ular hijau dan ular mati ekor. Hutan ini juga salah satu surga bagi para pengamat burung, mengandung ratusan spesies burung.

Pada 2007, Flora-Fauna International Program Aceh telah mengidentifikasi setidaknya 189 spesies burung di Ulu Masen, antara lain rangkong (Great hornbill), rangkong badak (Rhinocheros hornbill), cucakrawa (Pycnonotus zeylanicus), raja udang, ayam hutan, dan burung pelatuk.

Dan seperti di hutan-hutan tropis lain, hewan antropoda dan serangga berkuasa baik dari segi jenis maupun penyebarannya di sini: laba-laba (arachnida), lipan (Chilopoda), kupu-kupu dan capung.

Ulu Masen juga menyimpan air yang kemudian mengalir ke belasan daerah aliran sungai. Sungai-sungai ini berisikan aneka ikan air tawar, yang sebagian memiliki makna ekonomi bagi warga di dua tepiannya.
***
Kicau burung bersahut-sahutan pada sore hari di ketinggian bukit, sementara empat gajah mandi di Sungai Ie Jereneuh—sungai yang, sesuai namanya, memiliki air sangat jernih. Empat gajah itu sudah dijinakkan dan dilatih di lahan seluas sekitar 2 hektar milik Satuan Tanggap Konservasi (Conservation Response Unit-CRU) Sampoiniet, Flora-Fauna International (FFI) Program Aceh.

“Kami melatih gajah untuk berpatroli di sini,” kata Ahmadi, kepala mahout (pawang gajah) di situ. Di samping memantau gajah liar, patroli juga bertujuan meminimalkan penebangan pohon secara liar yang belakangan ini masih mengancam keutuhan Hutan Ulu Masen.

Gajah adalah salah satu hewan yang sangat terkenal di Aceh sejak abad ke-16, dan memperoleh gelar kehormatan seperti Teuku Rayeuk atau Po Merah. Meski diancam oleh penyusutan hutan, jumlah gajah di provinsi ini masih cukup besar, diperkirakan mencapai sekitar 800 ekor, atau sekitar 30% dari populasi hewan ini di seluruh Sumatra. Di luar India, gajah terutama hanya ditemukan di pulau ini.

“Kompleks latihan gajah” Kawasan CRU Sampoiniet terletak di kaki Gunung Masen. Nama Ulu Masen sendiri memang diambil dari nama gunung itu. Warga Aceh lain percaya, nama ini berasal dari nama sungai yang diberikan oleh Teuku Umar, salah satu pahlawan melawan kolonialisme Belanda berabad lalu. Syahdan, dalam sebuah perjalanan, Teuku Umar menemukan sungai berair asin dan diberilah nama “Krueng Masen” (Sungai Asin). Sungai ini berhulu di Gunung Masen.

Sampoiniet terletak di Kabupaten Aceh Jaya, wilayah administratif yang menguasai bagian terluas (35%) Ulu Masen. Hutan Ulu Masen memiliki ketinggian beragam, dari kawasan pantai hingga pegunungan berkabut di atas 1.500 meter dari permukaan laut. Hutan ini merupakan irisan dari lima kabupaten: Aceh Besar, Aceh Barat, Pidie, Pidie Jaya dan Aceh Jaya.

Dengan cakupan seluas dan seberagam seperti itu, Ulu Masen tak hanya kaya akan berbagai jenis fauna, tapi juga flora, tetumbuhan. Dan gajah liar juga punya peran dalam pelestarian tetumbuhan.

Seperti hewan lain gajah membantu penyebaran biji-bijian tanaman hutan sehingga proses peremajaan hutan berlangsung. Tapi, berbeda dengan hewan lain yang lebih kecil, gajah juga punya peran menjarangkan tanaman, sehingga cahaya matahari bisa menjangkau dasar hutan serta membantu kerja jasad renik yang menghidupi tanaman maupun hewan.

Di lantai Hutan Ulu Masen ini hidup bunga warna-warni, anggrek dan jahe-jahean seperti Rizanthes dan Amorphopallus. Tapi, yang istimewa, di sini tumbuh pula bunga Raflesia, bunga bangkai yang terkenal seantero dunia.
***
Lima ekor sapi peliharaan berjemur di bawah langit terik di bantaran Sungai Teunom yang jernih airnya—sedemikian jernih hingga nampak batu kerikil dan ikan-ikan berenang.

Teunom adalah sungai terpanjang di kawasan Ulu Masen. Dia mengalir ke Samudra Hindia di barat Aceh. Di Sarah Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, sungai ini dangkal dan selebar sekitar 50 meter, tapi bersih airnya.

Memandang ke arah hulu, kita bisa menyaksikan lapis demi lapis gunung terjal yang kian kabur ditelan kabut langit berawan di kejauhan.

Beberapa bukit terjal itu menghasilkan air terjun yang indah. Lanskap menawan adalah berkah lain hutan Ulu Masen yang bervariasi dari pantai hingga gunung berkabut.

Di dekat pantai, hutan daratan rendah Ulu Masen juga memiliki pohon unik yang dikenal dengan pohon pencekik (Depterocarpus sp). Pohon ini hidup seperti parasit bagi pohon lain, menjulur hingga pucuk-pucuk pohon tinggi. Dari atas kemudian dia akan menjatuhkan akar-akar baru yang memperkuat batang dan tubuhnya sendiri, sambil melilit dan mencekik pohon inangnya hingga mati. Pohon pencekik ini merupakan penyedia utama buah-buahan bagi satwa, yang pada gilirannya akan
menyebarkan biji ke seluruh hutan dataran rendah.

Pohon pencekik dikenal juga sebagai pohon raksasa. Dengan akarnya yang menjulur-julur, hanya diperlukan tiga pohon ini untuk menutupi kawasan seluas satu hektar. Itu sebabnya, hutan dataran rendah juga biasa
disebut hutan dipterocarpacea.

Naik dari kawasan pantai, di atas 500 meter dari permukaan laut, adalah hutan pegunungan dataran rendah. Kawasan Ulu Masen pada bagian ini memiliki hamparan rawa-rawa yang kaya akan pohon pinus. Aceh kaya akan pohon pinus ini, meskipun tidak khas Aceh. Pinus sumatra ini juga bisa ditemui di Semenanjung Indochina, tapi hanya satu-satunya jenis pinus yang tumbuh di selatan garis khatulistiwa.

Di samping cocok untuk peremajaan lahan kritis, karena tumbuh di lahan kurang subur dan tahan kebakaran, pohon pinus memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena kayunya menyediakan aneka manfaat, untuk konstruksi ringan, mebel, pulp, korek api dan sumpit. Bagian dalamnya bisa disadap dalam bentuk getah, resin maupun terpentin.

Hutan rawa Ulu Masen itu juga dihuni oleh Nepenthes sp, tanaman pemakan serangga, salah satu ciri lahan hutan yang ber-ph asam.

Makin tinggi, keragaman hayati Ulu Masen diduga makin kaya, hanya saja belum cukup dieksplorasi. Hutan pegunungan atau hutan lumut Ulu masen ada pada ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut. Berbeda dari banyak tempat lain, hutan di Gunung Seulawah Agam, Pidie, masih memiliki tanah ber-ph netral, bukan asam, sehingga sampai puncaknya yang berkabut masih tertutup rapat oleh vegetasi.

Puncak tertinggi di Ulu Masen adalah Gunung Peut Sagoe (2.700 meter), dengan empat puncak yang saling berdekatan, dan salah satunya adalah Gunung Tutung yang masih aktif.

Meski belum banyak dieksplorasi keragaman hayatinya, Hutan Ulu Masen setidaknya sama kaya vegetasinya dengan hutan tropis Sumatra lain. Hutan Sumatra tercatat memiliki lebih dari 10.000 jenis vegetasi.
***
Desa Buket Keumuneng di Teunom seperti desa mati yang sedang hidup kembali. Di mana-mana hanya rumah dan bangunan hangus atau roboh yang ditumbuhi ranggas dan semak-belukar. Pada masa konflik Gerakan Aceh Merdeka dan Tentara Nasional Indonesia, desa yang pernah dihuni 600 keluarga ini dibakar. Penduduknya mengungsi.

Pada 2005, setelah Aceh kembali damai, satu per satu warga seperti Yusuf Ibrahim mencoba mencari peruntungan di sini, membangun ladang dan tanah pertanian. Tapi, kini mereka menghadapi tantangan baru: konflik dengan gajah liar yang sering merusak ladang mereka.

Gajah-gajah itu keluar dari habitatnya yang rusak pada tahun-tahun sebelumnya. Badan Planologi Departemen Kehutanan mengungkapkan, dalam kurun waktu sembilan tahun, hutan Aceh menyusut 500 ribu hektare atau setara 14 persen dari total luas 3,6 juta hektar di seluruh provinsi itu.

Penyusutan luas hutan secara dramatis terjadi dari 1994 hingga 2003. Greenomics memperkirakan kerusakan hutan hutan Aceh mencapai 200 ribu hektar hanya dalam dua tahun (2002-2004). Ironisnya, 60 persen kerusakan justru terjadi di kawasan yang memiliki status hukum sebagai kawasan konservasi dan hutan lindung.

Penurunan luas kawasan hutan, sebagian besar disebabkan konversi hutan untuk kebutuhan pemukiman, lahan pertanian, perkebunan, dan industri. Penyebab lainnya adalah aktivitas penebangan liar dan kebakaran hutan. Perdamaian membawa berkah positif bagi masyarakat Aceh, tapi juga menawarkan tantangan baru dalam pengelolaan hutan, terutama di Ulu Masen. Di masa konflik, sebagian besar hutan Aceh masih lestari karena ekonomi terhenti dan jarang ada orang yang merambahnya, kecuali gerilyawan GAM. Belakangan baik petani, dan terutama petualang penebang pohon, makin bebas memasukinya.

Puncak kerusakan hutan terjadi pada 2006 yang mencapai 375 hektar hanya dalam setahun, sehingga memaksa Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, pada 6 Juni 2007 mengumumkan penghentian (moratorium) total penebangan hutan di Aceh selama jangka waktu 15 tahun.

Tapi, menghentikan laju kerusakan Ulu Masen punya tantangan lebih besar. Meski memiliki fungsi ekologis sangat penting, Hutan Ulu Masen merupakan kawasan ekosistem yang belum memiliki status hukum. Ada ratusan ribu keluarga Aceh tinggal di hutan itu. Bagaimanapun,

Flora-Fauna International (FFI) justru menganggap ini sebagai batu ujian menarik: bagaimana melindungi wilayah hutan yang tidak berstatus hukum.

FFI-Program Aceh harus menjalin kerjasama luas. Lembaga ini bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Departemen Kehutanan, dan pemerintah kabupaten untuk mendukung pelestarian Ulu Masen dan pemanfaatannya secara berkelanjutan.

Tapi, itu saja tidak cukup tanpa dukungan masyarakat yang memang secara legal mukim dan hidup di Ulu Masen yang luas. Lembaga ini tidak hanya berkampanye tentang pelestarian hutan, tapi juga membantu masyarakat mencari alternatif sumber penghidupan di luar pekerjaan menebang pohon. Lembaga ini membantu masyarakat mengorganisasikan diri untuk melestarikan hutan serta memberikan pelatihan aneka rupa.

Yusuf Ibrahim tidak hanya dilatih menghalau gajah tanpa membunuhnya, tapi juga bisa belajar tentang pembibitan budidaya tanaman pangan dan palawija, serta bagaimana memanfaatkan hasil hutan bukan-kayu.

Hanya dengan itu hutan Aceh, khususnya Ulu Masen, menjadi berkah bagi hidup jutaan Yusuf, dan mungkin bagi manusia di Bumi, mengingat hutan ini sangat kaya akan keragaman hayati dan sedikit dari paru-paru bumi yang masih tersisa.****

One thought on “Dari Gajah, Beruang hingga Raflesia

  1. I found your weblog on google and read just a few of your different posts. I just added you to my Google Information Reader. Sustain the nice work. Look ahead to reading extra from you within the future.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s