Ulu Masen, Sumber Kehidupan Rakyat Aceh

Satu Jumat di Bulan Juli silam, saya terbangun dari tidur saat hari masih pagi. Saat itu saya berada di Desa Sarah Raya, Teunom, Aceh Jaya. Selain karena dinginnya udara di Sarah Raya, rencana untuk menyusuri Sungai Teunom hari itu membuat saya bangun pagi.

Sungai Teunom adalah adalah salah satu sungai besar di Aceh. Sungai, warga setempat menyebutnya krueng, hulunya berada di wilayah Kabupaten Pidie. Sedangkan sebagian hilirnya berada di wilayah Aceh Jaya.

“Sarah Raya merupakan desa terakhir di Sungai Teunom untuk wilayah Aceh Jaya,” kata Syamsudin, Ketua Mukim Serah Raya.

Dengan menggunakan perahu bermotor tempel bertenaga 25 PK, saya menyusuri Sungai Teunom. Arus sungai yang sangat deras cukup menghambat laju perahu. Pada beberapa tempat, riam dan bongkahan batu menyulitkan Muhammad Ansari, mengemudikan laju perahu. Karena air sungai tengah surut, hingga tiga kali saya turun dari perahu.

Jika air tengah surut, itu akan menjadi berkah buat Ansari dan warga Aceh Jaya lainnya. Mereka dapat mencari ikan dengan mudah dan meyusuri sungai untuk menuju ladang dengan tenang. “Tapi kalau air tinggi, kami susah,” katanya.

Hal yang paling ditakutkan Ansari adalah naiknya air sungai secara tiba-tiba. “Sering kali cuaca sangat cerah, tapi tiba-tiba air menjadi keruh dan naik,” katanya. “Kalau sudah begitu menyingkir dari sungai dan berdoa segera usai.”

Sebagai daaerah yang berada di hilir kawasan Ulu Masen, Aceh Jaya menjadi daerah pertama yang jadi korban rusaknya hutan.

Juni 2007 Gubernur Aceh, Irwandi mendeklarasikan sebuah moratorium yang berkaitan dengan semua kegiatan penebangan hutan. Menuut Irwandi ada beberapa tujuan utama dari kebijakan itu. Pertama, agar tersedianya waktu untuk meninjau ulang status terakhir hutan-hutan Aceh. Kedua untuk merancang kembali strategi pengembangan dan manajemen hutan yang tepat dan berkelanjutan. Dan ketiga meninjau kembali mekanisme pelaksanaan yang lebih kuat dan lebih efektif untuk mencegah pelanggaran terhadap kebijakan itu.

Upaya gubernur menetapkan kebijakan itu, menurut Zulfan Monika, staf Fauna & Flora International (FFI) yang menemani saya menyusuri Sungai Teunom, sangat tepat. “Kini kita sudah tidak melihat kayu-kayu gelondongan yang meluncur di sungai ini,” katanya.

Memang benar apa yang dikatakan Boy, panggilan akrab Zulfan. Dalam perjalanan itu saya melihat pohon-pohon besar masih membentengi sungai dengan rapatnya. Padahal, posisinya di pinggir sungai akan memudahkan perambah membawa hasil tebangannya ke kota.

Usai bergoyang diatas riaknya air Sungai Teunom, saya tiba di air terjun. Beragam burung dan kupu-kupu menyambut kedatangan kami. “Selama datang di surga Ulu Masen,” kata Boy.

Untuk menjaga kelestarian Ulu Masen, FFI tengah berupaya menjadikan penyusuran Sungai Teunom hingga air terjun ini menjadi paket wisata pendidikan. “Sehingga warga punya tamu yang bisa diajak menikmati kekayaan alam ini,” kata Boy.

Dengan itu, sambung Boy, warga akan menjaga kelestarian alam ini dan mereka punya pendapatan dari penyewaan perahu dan penjualan makanan.  “Sehingga tidak akan tergoda cukong kayu untuk mengepulkan asap dapur dengan menebang pohon,” imbuhnya.

Untuk mencapai itu ternyata butuh waktu panjang. “Kami masih mempertimbangkan berbagai hal dan membekali warga dengan berbagai ketrampilan,” katanya.

Upaya menjaga kelestarian Ulu Masen juga tidak hanya dilakukan di hilir. Di Mane, Kabupaten Pidie, FFI juga berupaya mengajak warga menjaga kelestarian hutan. “Tentunya cara mengajaknya bukan hanya sekadar imbauan,” kata Yasser Premana, Koordinator Livelihood FFI Program Aceh. “Kami mendengar, kami berpikir, dan kami turun bersama warga.”

Usai mengunjungi surga Ulu Masen dengan menyusuri Sungai Teunom, saya mengikuti aktivitas Yasser bersama timnya. Saat itu FFI tengah membagikan bibit kopi bagi kelompok tani dibawah payung Koperasi Geumpang Jaya, Kabupaten Pidie.

Dengan bertani pada kebun yang tetap, warga tidak akan membuka ladang lagi di hutan. “Dengan bimbingan FFI, pelan-pelan pola tanam kami berubah,” kata Edi Saputra, Sekretaris Koperasi Geumpang Jaya.

Agar tidak diganggu gajah, kata Edi, kita harus menananam yang tidak disukainya. “Kopi dan coklat yang kami tanam,” katanya.

Dengan adanya pendapatan rutin yang cukup, kata Yasser, warga akan ikutserta menjaga kelestarian hutan. “Karena Sungai Teunom mengalir dari Geumpang ke Aceh Jaya, maka FFI hadir di keduanya. Kita ingin warga di hulu dan di hilir saling memahami kondisinya dan ikutserta menjaga Ulu Masen dengan cara masing-masing,” papar Yasser.

Dewa Gumay, jurubicara FFI mengatakan selain mendampingi warga di kawasan Ulu Masen, pihaknya juga bergerak pada tataran kebijakan. “Moratorium dan Aceh Green yang digagas gubernur menjadi modal penyusunan kebijakan pelestarian dan pengelolaan  Ulu Masen,” katanya.

Soal status kawasan hutan seluas 750.000 hektar itu, Dewa tak mau status taman nasional disandang Ulu Masen. “Kalau itu nantinya akan dikelola pemerintah pusat, dan warga akan terusir dari tanah leluhurnya,” kata Dewa.

Dalam pengelolaan Ulu Masen, sambung Dewa, pihaknya ingin dikelola oleh sebuah badan. “Karena mencakup lima kabupaten, maka lima daerah itu harus terlibat,” katanya. “Sehingga Ulu Masen akan menjadi berkah bagi rakyat Aceh sendiri.”***

One thought on “Ulu Masen, Sumber Kehidupan Rakyat Aceh

  1. You can’t believe how long ive been on the lookout for something like this. Scrolled through 5 pages of Google outcomes couldnt discover diddly squat. Quick search on bing. There this is…. Actually gotta start utilizing that extra often Thank you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s