Menambah Nilai Kehidupan Desa

Hari Minggu di akhir Juni silam, saya mengunjungi Kota Garut. Dari Jakarta, saya pergi saat mentari baru terbit. Sampai di Kota Garut, matahari belum berada tepat di atas kepala. Setidaknya pejalanan dari Jakarta ke Garut ditempuh sekitar empat jam. Siang  itu saya menuju kantor Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Priangan. Pada masa lalu Bakorwil adalah pembantu gubernur yang mengkoordinasikan pembangunan beberapa kabupaten/kota dalam satu wilayah karesidenan. Di sana saya menjumpai ratusan pelajar Garut yang tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri.

Usai ujian nasional 2009, bagi Nita Siti Farida bukan waktu untuk bersenang-senang. Bersama ratusan pelajar SMA di Garut, Nita mengisi hari-harinya dengan belajar. “Tapi suasana dan cara belajarnya berbeda dengan di sekolah. Disini sangat menyenangkan dan pelajaran mudah dipahami,” kata Nita. Kondisi menyenangkan yang dimaksud Nita adalah suasana belajar bernama SuperCamp. Ini adalah program yang digelar Asgar Muda, kelompok mahasiswa asal Garut pada berbagai perguruan tinggi. Program ini dibuat untuk membekali lulusan SMA di Garut yang akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri. “Pada 2009 ini adalah SuperCamp ketiga yang kami gelar,” kata Iqbal Gozali, ketua pelaksana SuperCamp 2009.

Awalnya, Iqbal dan rekan-rekannya di Asgar Muda melihat banyak anak-anak Garut yang tidak siap menghadapi ujian masuk perguruan tinggi negeri. Sementara itu, bimbangan belajar masih merupakan program yang mewah bagi masyarakat Garut.

Pada tahun 2007, SuperCamp diikuti 250 pelajar dari jurusan IPA, 60 persen lulus ujian masuk masuk perguruan tinggi negeri. “Pada tahun 2008 diikuti 250 pelajar dari jurusan IPA dan IPS, sekitar 50 persen yang lulus,” ujar Iqbal.

Proses belajar di SuperCamp sebenarnya tak berbeda dengan di sekolah. Hanya saja, pengajarnya yang merupakan mahasiswa menganggap siswanya sebagai adik. “Kita memposisikan pengajar sebagai teman belajar, jadi siswa tidak sungkan untuk bertanya,” kata Adi Rahadian, salah satu pengajar SuperCamp yang hadir pada minggu yang cerah itu.

Selain belajar setiap hari Senin hingga Jumat, setiap Sabtu para pelajar mengikuti tryout. “Dengan berlatih menjawab soal-soal, siswa diajak membiasakan diri ke dalam suasana ujian. Selain itu, hasil tryout menjadi panduan bagi panitia untuk melihat perkembangan siswa,” kata Iqbal.

Selama pembekalan para pelajar ini bukan hanya mata pelajaran yang diuji pada ujian masuk perguruan tinggi negeri saja yang mereka dapat. Setiap hari Minggu, siswa diberikan berbagai materi dan permainan untuk memperkuat motivasi dan membuat suasana menyenangkan.

Pada hari Minggu akhir Juni silam misalnya, para peserta SuperCamp menyimak pengalaman para karyawan Chevron. “Kami ingin memberikan wawasan kepada peserta bahwa untuk meraih sukses kita harus mengoptimalkan masa-masa kuliah,” kata Hadi Kuswoyo, Community Affairs Chevron di Darajat. Selain itu, Hadi dan rekan-rekannya ingin menunjukkan bahwa sangat banyak profesi yang dapat dipilih para siswa. “Jangan sampai mereka hanya tahu dokter dan pegawai negeri saja profesi itu. Sehingga mereka akan tahu jurusan mana yang sebaiknya mereka pilih untuk meraih profesi yang sesuai dengan minat dan bakatnya,” kata Hadi.

Ketua Umum Asgar Muda, Goris Mustaqim mengatakan bahwa Asgar Muda merupakan perkumpulan mahasiswa asal Garut yang kuliah di kota-kota besar, seperti Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. Goris sebenarnya berharap anak-anak muda Garut yang berkuliah di kota besar dapat kembali ke daerah asal untuk menerapkan ilmunya membangun Garut. “Kalau tidak oleh anak mudanya, oleh siapa lagi Garut dibangun. Mahasiswa kan sebagai agen perubahan,” kata Goris bersemangat.

Selain menggelar SuperCamp saban tahun, Asgar Muda juga mengembangkan beragam potensi sumber daya Garut. Kegiatan itu melibatkan anak-anak muda Garut yang kuliah di kota besar. Bagi Goris, masa depan ada di daerah, bukan di kota. “Daerah mempunyai potensi besar yang bisa dikembangkan,” ujarnya. Ia terlihat begitu optimis.

Di hari kedua, dalam perjalanan saya di wilayah Garut, saya mengunjungi berbagai kelompok masyarakat di Kecamatan Pasirwangi. Di kecamatan yang berada pada daerah dataran tinggi ini, Chevron mengolah energi panas bumi menjadi energi listrik, yang memberikan andil dalam pasokan listrik Jawa-Bali. Di sana, Chevron membantu berbagai kelompok masyarakat agar mampu meningkatkan taraf hidupnya.

Bertani merupakan aktivitas sebagian besar warga Pasirwangi, Kabupaten Garut. Begitu pula dengan Encang, yang menjabat sebagai Sekretaris Desa Bunisari. Pria berusia 38 tahun ini juga memiliki beragam tanaman di sekitar rumahnya. Sawi, bayam, tomat, dan kubis yang ia tanam tumbuh subur. Untuk menjaga kesuburan tanamannya, Encang kerap memberi pupuk. Akan tetapi bukan pupuk buatan pabrik yang dipakai para petani kebanyakan.

Encang memupuk tanamannya dengan pupuk olahannya sendiri. “Pupuknya campuran dari kotoran kambing dan rumput sisa makanan kambing,” kata Encang dengan berbinar.

Di halaman rumah Encang terdapat kandang kambing. Kandang yang terbuat dari kayu itu tampak kokoh. Atapnya berlapiskan genteng. Kandang komunal milik kelompok itu setidaknya mampu menampung 50 ekor kambing. Beternak kambing baru dilakukan Encang sejak September 2008. Dan dia beternak secara berkelompok dengan tetangganya. Dengan delapan anggota kelompok ternak Doa Bersama, Encang mendapat bantuan ternak dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Sedangkan keterampilan beternak kambing dan mengolah kotoran kambing menjadi pupuk diperolehnya dari beberapa pelatihan.

Maryati Puspitasari, pengajar Fakultas Pertanian Universitas Garut mengatakan bahwa program peternakan di Desa Bunisari ini merupakan program kolaboratif antara pemerintah, swata dan perguruan tinggi. “Dinas sosial memberi kambing, Chevron membantu kandang dan modal usaha, serta Universitas Garut menjadi pendamping,” katanya.

Berkat bantuan pendamping, kelompok ternak Doa Bersama kini punya pendapatan dari berbagai sektor. Hasil pertanian, ternak ayam, dan pupuk kompos menjadi sumber pendapatan sehari-hari anggota kelompok ternak. “Sambil nunggu kambing beranak-pinak, sehari-hari kami hidup dari menjual sayuran, telur ayam, dan pupuk kompos,” kata Encang.

Kelompok ternak Doa Bersama mampu mem produksi pupuk kompos hingga 50 karung dalam 21 hari. “Harga jual kompos sekarang Rp 4.000 per kilogram. Lumayan buat mengepulkan dapur,” kata Acep, anggota kelompok ternak Doa Bersama.

Pupuk kompos yang dibuat kelompok ternak ini cocok untuk tomat, sawi, dan kubis. Bahkan sebuah perkebunan jeruk di Kecamatan Samarang, Garut telah menjadi pelanggan kompos buatan kelompok ternak ini. “Keunggulan kompos ini pada jeruk, sewaktu panen daun tetap utuh. Sedangkan kalau pakai pupuk buatan pabrik waktu panen daun jeruk rontok,” Maryati menjelaskan kepada saya.

Di Desa Bunisari, selain kelompok Doa Bersama, program peternakan kambing juga dijalankan oleh Kelompok Ternak Makmur. Dengan jumlah anggota kelompok mencapai 28 orang, kelompok ini memelihara 53 ekor kambing. “Dulu kami mendapat bantuan 42 ekor. Berkat bimbingan pendamping dari Universitas Garut dan Chevron kini terus berkembang,” kata Aye Saefudin, ketua Kelompok Ternak Makmur. Apabila kelompok Doa Bersama membuat pupuk kompos dan beternak ayam sebagai kegiatan pendampingnya, Kelompok Makmur memilih ternak belut dan lele dumbo.

Maryati mengatakan, usaha dampingan yang dilakukan kelompok itu sesuai dengan minatnya masing-masing. “Mereka sudah berpikir untuk maju, dan punya pandangan jangka panjang,”  katanya. “Seharusnya ini menjadi model pengembangan masyarakat yang dapat dilakukan pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan.”

Yang Anda lihat ini kelompok yang sudah berkembang dan mempunyai semangat, kata Maryati saat kami meninggalkan Desa Bunisari. “Awalnya banyak warga yang mencibir program ini. Mereka inginnya bantuan jalan dan lain-lain,” katanya.
Ternak kambing yang menjadi salah satu program pengembangan masayarakat yang digagas Chevron juga dilakukan di Desa Padaawas, Garut. Di desa ini, ternak kambing dilakukan oleh para pemuda anggota karang taruna dengan bimbingan dari Dompet Dhuafa.

Dendi Rahdian, pendamping program ternak pemuda Padaawas dari Dompet Dhuafa mengatakan, selain diajak beternak para pemuda juga diajak untuk meningkatkan kualitas  hidup dan wawasan. “Sehingga mereka mampu menjadi penerus yang berkualitas dan siap mejalani hidup,” katanya. Elin

Slamet, Ketua Program mengaku mendapat manfaat dari program ini. Sejumlah manfaat inilah yang telah membuka semangat baru para warga desa. “Bukan hanya masalah beternak kambing saja yang kami dapat, tapi cara berorganisasi dan mengembangkan potensi diri untuk bekal hidup kelak juga kami dapat,” kata Elin.

Mengoptimalkan Fungsi Sosial Masjid
Masjid umumnya dikenal sebagai tempat beribadah bagi umat muslim. Namun di Pasirwangi, Garut, fungsi sosial masjid sangat menonjol. Ade Tating, janda berusia 43 tahun menjadi salah satu warga yang memperoleh manfaat dari fungsi sosial masjid. Bahkan, berkat program KUM3 (Komunitas Usaha Mikro Muamalat Berbasis Masjid) Masjid Nurul Iman, Ade yang menghidupi tiga anak serta satu cucu itu mampu keluar dari usaha buruk.

Berkat bantuan modal usaha dari KUM3 Masjid Nurul Iman, Ade berhenti berjualan minuman keras. “Dulu kondisinya terjepit dengan modal sedikit dan ingin mendapat uang mudah. Berkat bantuan modal usaha dari mesjid, saya bisa membuka warung kecil-kecilan,” kata Ade.

KUM3 sebenarnya program kredit bantuan modal usaha yang digulirkan Chevron untuk warga miskin di Kecamatan Pasirwangi, Garut. Uniknya program ini menjadikan mesjid sebagai basis aktivitasnya. “Selain berupaya meningkatkan aspek ekonomi jamaah mesjid, KUM3 juga ingin meningkatkan kualitas ibadah para anggotanya,” kata Wawan Hernawan, pengurus KUM3 Masjid Nurul Iman.
Tingkat pengembalian kredit pada program ini sangat baik. Pasalnya, setiap peminjam akan mendapat pendampingan rutin setiap pekan. “Kita berbagi pengalaman usaha dan membahas cerita sukses dan kesulitan anggota setiap pekan. Dan pada forum itu juga pembinaan rohaninya juga diberikan,” kata Ujang Sudarman, dari Baitulmal Muamalat, pendamping program KUM3. “Dan ada aturan tak tertulis. Karena meminjam ke mesjid mereka jadi takut punya hutang ke mesjid.”

Triyanto, salahsatu penerima kredit modal usaha KUM3 mengatakan dengan adanya program ini dirinya kini terbebas dari rentenir. “Dulu modal usahanya dari rentenir. Kalau usaha sedang lancar bisa bayar cicilan, tapi kalau sedang sepi, tak bisa bayar dan bunganya terus berlipat,” kata pengrajin peti kayu itu.
Sebagai daerah penghasil sayuran, permintaan peti kayu di Pasirwangi sangat tinggi. Untuk mengirim sayuran tersebut ke pasar, sayuran dikemas dengan peti kayu agar tidak rusak. Menurut Ujang, kesuksesan program KUM3 terletak pada pengurus, pendamping, dan anggota. “Program ini menempatkan semua pihak dalam satu keluarga yang saring membantu dan memotivasi,” katanya.

Di Kecamatan Pasirwangi, terdapat empat mesjid yang menjalankan program KUM3: Masjid Nurul Iman, At-taqwa, Al-Hidayah, dan Nurussalam.

Mari kita tengok sejenak salah satu desa yang ada di wilayah Pasirwangi. Di Desa Talaga masjid juga bukan hanya tempat beribadah semata. Setiap siang hingga sore, Masjid Nurul Amin menjadi tempat belajar warga. Disini bukan hanya belajar agama layaknya di masjid-masjid lainnya. “Bahkan siswanya juga mengenakan seragam SMP, karena mereka mengikuti program Paket B,” kata Siti Zenab, pengurus Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Nurul Amin. Saat ini terdapat 30 siswa yang mengikuti pendidikan setara SMP di masjid itu.

Menurut Euis, panggilan Siti Zenab, awalnya PKBM ini hanya menyelenggarakan program Paket A, setingkat SD. “Tapi karena untuk sekolah ke SMP sangat jauh, maka dibuka program Paket B,” katanya.

Haji Bunyamin mengatakan bahwa PKBM ini mulai dibuka tahun 2003. Pada saat itu, kegiatan belajar-mengajar tadi mendapat dukungan dana dari pemerintah. Akan tetapi, dukungan itu tidak berlangsung lama. “Karena saya merasa di desa terpencil ini butuh sekolah, maka semua anggota keluarga diajak untuk mengelola dengan sukarela,” kata perintis PKBM Nurul Amin ini.

Bunyamin juga mengatakan, dukungan bagi kegiatan belajar seperti ini sangat minim. “Padahal, untuk mencerdaskan bangsa secara tepat di daerah terpencil yang model kelompok belajar seperti ini,” katanya.

Kini PKBM Nurul Amin berencana membuka program Paket C, setara SMA. “Saat ini banyak lulusan SMP di Talaga. Selain lokasi SMA yang sangat jauh, kondisi ekonomi warga juga sangat memprihatinkan. “Sekolahnya sekarang gratis, tapi ongkos dan berbagai kebutuhan lainnya tetap saja dianggap berat oleh warga Talaga yang merupakan buruh tani,” kata Euis.

Untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan siswa dan pengajar, PKBM Nurul Amin kini tengah merintis pembangunan perpustakaan. “Ternyata bukan hanya siswa dan guru saja yang mau membaca di perpustakaan, tapi warga desa lainnya yang bisa membaca kerap ke perpustakaan juga,” imbuh Euis.

Upaya mencerdaskan warga desa terpencil yang dilakukan Haji Bunyamin dan keluarga ini mendapat dukungan dari Chevron. “Kami sangat menghargai upaya Haji Bunyamin dan keluarga yang mau secara sukarela memberikan pendidikan bagi tetangganya,” kata Hadi Kuswoyo. Dengan demikian, Chevron ikut membantu melengkapi sarana belajar dan perpustakaan PKBM Nurul Amin. “Bahkan, para karyawan juga ada yang ikut jadi relawan untuk berbagi pengetahuan disini,” imbuh Hadi.

Desa Talaga sungguh terpencil. Perjalanan sore itu dari Talaga menuju tempat saya menginap di wilayah pusat kota Garut mencapai 30 kilometer. Bukan hanya itu, jalan yang kami lalui berkelok-kelok serta sangat sempit. Jalan itu hanya cukup dilalui satu kendaraan saja. Tidak ada angkutan umum dari pusat Kecamatan Pasirwangi ke Talaga.

Menyokong Warga Perangi TBC
Kecamatan Pasirwangi, Garut yang berada pada dataran tinggi berudara sejuk. Tapi dibalik kesejukan itu terdapat satu penyakit yang penderitanya cukup banyak, tuberculosis (TB). Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut dr. Hendy Budiman, M.Kes, di Pasirwangi jumlah terduga (suspek) TB mencapai 727 kasus. “Sedangkan untuk Kabupaten Garut mencapai Rp 25.219 orang,” kata Hendy.
Penyakit TB merupakan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri mikobakterium tuberkulosa berbentuk batang dan bersifat tahan asam. Akibatnya, dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA).

R. Maya Nurmayati, kepala Puskesmas Padaawas, Kecamatan Pasirwangi mengatakan tingginya penderita TB disana karena kesehatan lingkungan. “Selain memang iklimnya, kondisi rumah disini rata-rata ventilasi udaranya sangat minim,” katanya.

Faktor lainnya, kata Maya, tata cara pertanian yang dilakukan oleh sebagian besar warga pasirwangi sangat boros dengan pestisida. “Celakanya hampir semua warga tidak menyadari faktor-faktor itu. Mereka beranggapan bahwa TB adalah penyakit keturunan,” imbuh Maya.

Untuk mendukung tenaga kesehatan yang berperang melawan TB di Pasirwangi, Chevron membantu Puskesmas Padaawas. Bantuannya berupalabo ratorium serta beragam peralatan pendukungnya. Selain itu, digelar berbagai pelatihan bagi para kader posyandu agar mereka dapat mendeteksi tanda-tanda penderita TB.

Memupuk Jiwa Wirausaha
Awal April 2009, belasan pemuda berkumpul di kantor Kecamatan Sukaresmi, Garut. Mereka belum saling mengenal. Hanya undangan mengikuti pelatihan membuat kaos yang membawa mereka datang ke kantor kecamatan. Setelah berkumpul 13 orang, mereka langsung berangkat ke Bandung. Selama dua pekan mereka belajar segala aspek teknik pembuatan kaos.

Begitu kembali ke Garut, mereka bersepakat untuk membuat kelompok pengrajin kaos Katjapangan. “Dalam bahasa Indonesia katjapangan adalah buah bibir. Kami ingin kaos produksi Sukaresmi menjadi buah bibir,” kata Ihsan Anwari, ketua kelompok katjapangan kepada saya.

Kelompok yang didampingi oleh PUPUK (Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil) ini mendapat dukungan dari Chevron. “Kelompok pemuda ini diharapkan menjadi wahana belajar berwirausaha para pemuda di Garut,” Hadian Hendra Cahya, pegiat PUPUK menerangkan dengan bersemangat.

Setelah mengikuti pelatihan dan mempunyai modal kerja, kini Katjapangan sudah mulai berkarya. Kaos yang mereka buat ingin menjadi cinderamata khas Garut. “Sehingga desainnya menunjukkan ciri khas Garut. Motif domba Garut menjadi salahsatu andalan,” kata Ihsan.

Saya berkesempatan menyaksikan peragaan menyablon yang dilakukan kelompok ini. Mereka memproduksi kaos dengan hati-hati. Pasalnya, teknik sablon yang dilakukan kelompok ini tidak sederhana. Komposisi warna dan desainnya penuh gradasi. “Memang lebih sulit, tapi kami ingin membuat kaos yang tidak murahan,” kata Ihsan.

Baru saja Katjapangan membuat produk contoh, peminat sudah banyak. Sebuah gerai oleh-oleh khas Garut telahn siap menampung. Bahkan, Dicky Chandra, Wakil Bupati Garut sudah bersedia menjadi model untuk materi promosi Katjapangan.
PUPUK yang menjadi mitra Chevron bukan hanya mendampingi kelompok pemuda Sukaresmi. Di Kecamatan Samarang, PUPUK mendampingi dua koperasi, di Desa Sukakarya dan Desa Suka Laksana. Koperasi Karya Mandiri di Desa Sukakarya menjadi kelompok yang mengolah akar wangi menjadi peci. Akar wangi yang selama ini diolah menjadi minyak atsiri, di tangan anggota koperasi berubah wujud menjadi peci cantik nan wangi.

“Sudah banyak yang mengayam akar wangi menjadi taplak meja atau hiasan lainnya. Maka kami menganyamnya menjadi peci,” kata Farida, pengurus Koperasi Karya mandiri.

Upaya mengolah akar wangi menjadi cenderamata unik juga dilakukan Koperasi Bina Laksana, di Desa Suka Laksana. Disini, mereka mengolah akar wangi menjadi bergam tas cantik. “Awalnya disini merupakan sentra tas lipat. Jadi membuat tas merupakan keahlian mereka sejak dulu. Hanya saja kini mereka mengembangkan usaha dengan membuat tas dari akar wangi,” kata Hadian.

Oban Sobana, Kepala Desa Suka Laksana mengatakan pendampingan dan motivasi yang diberikan PUPUK bersama Chevron mampu memacu kreatifitas warga. “Yang asalnya membuat tas dari kain, kini mulai menggarap akar wangi. Nilai jualanya juga menjadi lebih tinggi,” kata Oban.

Menerangi Desa dengan Pikohidro
Pada hari terakhir di Garut, saya menuju sebuah desa di daerah Garut Selatan. Perjalanan pagi itu sangat menyenangkan. Hamparan kebun teh di Cikajang yang disinari mentari pagi menyegarkan mata saya. Kecamatan Cihurip, yang akan saya kunjungi hari itu dari Kota Garut ditempuh sekitar tiga jam.

Akhir Februari 2009 menjadi awal kehidupan yang lebih bermakna bagi warga kampung Awilega dan Cilutung, Cihurip Garut. Sejak saat itu, warga kedua kampung dapat beraktivitas pada malam hari dengan leluasa. Listrik dapat mereka dinikmati di desa yang jaraknya sekitar 100 km dari Kota Garut.

Listrik yang mereka nikmati bukanlah berasal dari jaringan PLN. Walaupun kabel-kabel yang menghubungkan setiap rumah di sini tak berbeda dengan kabel PLN. Warga Cihurip itu dapat menikmati listrik atas kerja keras para mahasiswa Institut Teknologi  Bandung dengan dukungan Chevron.

Untuk menghasilkan listrik, kelompok mahasiswa itu memanfaatkan Sungai Ciparanje. Mereka memasang turbin kecil di aliran sungai itu. “Pembangkit ini kapasitasnya hingga 5.000 Watt, jadi namanya pikohidro,” kata Testantoro Randi Putra, mahasiswa Teknik Elektro ITB.

Menurut Randi, pikohidro yang mereka bangun saat ini mampu menerangi 89 rumah dan satu mesjid. “Total daya untuk menerangi dua kampung itu 2.600 watt,” kata Randi menunjukkan kinerja turbin yang telah terpasang itu.

Yadin, warga Awilega merupakan orang yang menjembatani aksi mahasiswa ITB di kampung terpencil itu. “Saya berjualan di kampus. Lalu curhat ke mahasiswa agar bisa membuat pembangkit listrik di kampung saya,” katanya. Mendengar cerita Yadin yang kampungnya belum mendapat listrik, kelompok mahasiswa ITB ini merancang sebuah pembangkit mini yang cocok untuk dipasang di Cihurip. “Berkat dukungan Chevron, akhirnya pikohidro ini dapat diserahkan oleh rektor ke masyarakat,” kata Aep Saaefudin, mahasiswa teknik elektro ITB.

Yusuf Sajiri, warga Awilega mengatakan setelah adanya listrik, dirinya makin tenang. “Pergi ke mesjid malam-malam sudah terang, dan keamanan kampung juga semakin terjaga,” kata Yusuf. Warga pun tenang dengan sejumlah kreativitas yang apik.***

2 thoughts on “Menambah Nilai Kehidupan Desa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s