Sepenggal Paris van Java

JUMAT pagi di penghujung April 2009, bersama beberapa kawan saya jalan-jalan pada beberapa ruas jalan di Bandung. Kami memulai perjalanan di depan Hotel Aston, Jl Braga Bandung.

Dari Hotel Aston yang berada di area Braga City Walk, kami menyusuri Jalan Braga ke arah selatan. Kami berbagi tugas, ada yang bertugas mencari koordinat, memotret, membuat video, dan mengumpulkan berbagai informasi tempat-tempat yang kami anggap menarik. Toko buku, galeri lukisan, toko busana dan toko kamera di Jalan Braga kami dokumentasikan.

Di depan bangunan bernomor 20, kami berhenti. Ulu, kami memanggil mojang Bandung bernama Nurul Wachdiyyah itu menjelaskan bahwa itu adalah restoran tua di Bandung. Ulu juga mempromosikan roti kadet dan ice cream Sumber Hidangan, nama restoran lawas itu yang katanya rasanya sangat nikmat.

Tak ada papan nama yang dapat menerangkan tempat itu dengan jelas. Hanya selembar kertas kecil yang menempel di kaca dengan tulisan, “Sumber Hidangan d/h Het Snoephies, sejak tahun 1929.”

Tergoda rayuan Ulu, saya memaksa semua kawan untuk istirahat sejenak disana sambil membuktikan promosi Ulu. Dekorasi restoran ini membuat kita seolah masuk ke zaman lain begitu melangkah melalui pintunya. Dindingnya sebagian dari batu  sebagian dari kayu. Bagian kiri restoran dipakai untuk menjual berbagai macam roti isi. Sebagian proses pembuatan roti juga berbaur dengan etalase yang memajang aneka macam roti yang dibuat Sumber Hidangan.

Pada bagian kanan, ada ruang luas dengan beberapa meja. Kursi besi bulat dan agak rendah menjadi penghuni utama ruangan itu. Beberapa lampu unik tergantung di langit-langit yang lumayan tinggi khas bangunan tua. Kesan tua juga ditunjukkan dengan adanya barang-barang kuno, misalnya timbangan, dan mesin kasir tua masih berfungsi. Di belakang mesin kasir itu terdapat radio kuno berukuran besar yang terpajang.

Begitu roti kadet dan ice cream yang kami pesan datang, langsung kami santap. Rotinya masih panas, karena memang baru diangkat dari oven. Setelah mengoleskan ice cream pada roti, saya santap roti kadet itu. Aroma roti yang wangi dan hangat berpadu dengan ice cream yang bertekstur agar kasar membuat lidah menari menikmati kelezatan sajian Sumber Hidangan.

Usai menghabiskan roti dan ice cream dan menikmati suasana tempo doeloe di sana, kami melanjutkan perjalanan. Dari Jalan Braga, kami belok kanan menuju kawsan Cikapundung. Bursa koran Cikapundung, bursa elektronik dan bursa buku menjadi titik-titik yang kami dokumentasikan di kawasan Cikapundung. Bursa buku di Cikapundung itu ada sejak tahun 1980-an. Di sini, kita dapat memperoleh berbagai buku dan majalah. Baik yang baru maupun yang bekas. Tak jarang di Cikapundung juga kita dapat memperoleh buku-buku langka maupun buku kuno.

Usai membongkar tumpukan buku di Cikapundung, kami berjalan lagi ke kawasan Banceuy. Di kawasan pertokoan Banceuy kita dapat melihat jejak sejarah perjuangan Bangsa. Pertokoan Banceuy itu berdiri pada lahan bekas penjara Banceuy. Dimana Presiden Soekarno dulu dipejara disana.

Dari Banceuy perjalanan dilanjutkan ke arah barat menyusuri Jalan ABC. Pada perempatan pertama belok kiri, masuk ke Jalan Alkateri. Tak jauh dari perempatan itu puluhan orang tampak mengerumuni satu warung di atas trotoar Jalan Alkateri. Belasan kursi plastik di samping warung telah penuh dengan orang yang makan dalam bungkusan.

Lotek Alkateri, nama warung yang kami kunjungi siang itu. Lotek merupakan makanan yang terdiri dari berbagai sayuran dengan bumbu kacang, mirip gado-gado di Jakarta. Jika kita makan disini, lotek tidak disajikan dalam piring. Ibu Oom akan menyodorkan lotek pesanan kita yang dibungkus kertas nasi. Bentuknya kerucut, agar mudah dipegang saat menikmatinya.

Lotek Alkateri ini usianya cukup tua, hadir di pusat Kota Bandung sejak tahun 1984. Walau berada di atas trotoar dengan kursi seadanya, para pembeli dari berbagai kalangan rela untuk antri. Saat kami datang ke sana Jumat siang itu, lotek telah ludes. Dalam satu hari, lotek Alkateri bisa terjual sampai 200 bungkus. Oom membandrol satu bungkus lotek bertabur bawang goreng dan kurupuk itu seharga Rp 6 ribu.

Di depan Oom menjajakan lotek, ada Asep yang menawarkan cendol. Tidak seperti cendol lainnya yang berwarna hijau atau merah yang biasa kita jumpai di Bandung. Cendol yang terbuat dari tepung aren itu berwarna putih. Cendol itu telah lama mendampingi lotek disana. Sejak tahun 1995, cendol menjadi pasangan di Jalan Alkateri yang diburu penikmat kuliner. Hampir semua yang menyantap lotek racikan Oom akan memesan cendol. Hanya dengan Rp 2.500, kita bisa menikmati cendol segar dan dingin yang disajikan dari gentong.
Karena tak kebagian lotek dan hanya memperoleh dua gelas terkakhir cendol, kami berlima tak lama disana. Perjalan berlanjut ke arah utara, lalu belok kanan kemudian menapaki trotoar Jalan Banceuy. Pabrik Kopi Aroma yang menjadi tujuan akhir kami siang itu.

Bagi penikmat kopi, nama Kopi Aroma Bandung pasti sudah tidak asing.  Pabrik pengolahan kopi itu berdiri sejak tahun 1930. Dan suasana, proses pengolahan serta peralatan yang dipakai masih seperti saat pabrik kopi itu dirintis oleh Tan Houw Sian di masa penjajahan Belanda. Jalan Banceuy No. 51, tetap dipertahankan sebagai tempat penjemuran, gudang penyimpanan, pabrik pengolahan, sekaligus toko Kopi Aroma.

Kenikmatan Kopi Aroma hasil dari proses pengolahan yang unik dan butuh waktu lama. Sebelum dimasak, biji kopi matang di pohon itu dikeringkan hanya dengan sinar matahari. “Lalu dibungkus dengan karung goni, kemudian disimpan bertahun-tahun sebelum diolah,” kata Widyapratama, pengelola Kopi Aroma saat ini. Untuk jenis Robusta penyimpanannya selama 5 tahun, sedangkan jenis Arabika disimpan dulu selama 8 tahun.

Tradisi pengolahan itu tetap dipertahankan karena berkaitan erat dengan kualitas rasa kopi yang dijualnya. Seperti ayahnya dulu, Widya turun ke lapangan memilih sendiri biji kopi di perkebunan langganannya. Sebab, ia tetap ingin mempertahankan kualitas rasa kopi produk perusahaannya yang tidak besar itu. Perjalanan kami hari itu berakhir di Kopi Aroma.

Perjalanan kami saat itu merupakan bagian dari acara Workshop Pemetaan Partisipatif yang digelar National Geographic Indonesia. Sehari sebelumnya, kami mendapatkan berbagai pengetahuan soal peta. Jalan-jalan nikmat penuh makna yang kami lakukan Jumat siang merupakan sesi pengumpulan data lapangan.

Hari Sabtunya, semua peserta yang terbagi beberapa kelompok itu memaparkan hasil perjalanannya masing-masing. Kami menyusuri kawasan Braga dan Banceuy. Kelompok lainnya ada yang menyusuri kawasan Cikutra, kawasan Gedung Sate, Kawasan Tamansari, hingga kawasan Dago di bagian utara Kota Bandung.

Lalu, data-data yang kami kumpulkan di lapangan dimasukkan ke PetaKita yang digagas oleh National Geographic Indonesia. Menurut Tantyo Bangun, Editor In Chief National Geographic Indonesia, pemetaan partisipatif yang berbasiskan situs web ini merupakan respon atas teknologi internet pada masa kini. “Pemetaan yang melibatkan publik untuk berpartisipasi dan memperkaya kebutuhan data spasial dengan tema tertentu. Jadi semua orang bisa berkontribusi untuk membagi pengalaman pada orang lain,” kata Tantyo pada workshop yang digelar di Gedung Sabuga Bandung.

Melalui layanan “Google Earth”, kita bisa mencari suatu lokasi dalam peta yang merupakan potret dari arah langit. Kita juga dapat melihat setiap lorong jalan, perempatan, tikungan, bahkan pintu rumah dengan sudut pandang mata kamera. Tak berhenti disitu. Kita pun dapat memutar kamera 360 derajat, nengok kanan-kiri, atas-bawah, mirip game-lah.

Untuk membangun layanan ini, dengan mobil yang dilengkapi kamera, Google menelusuri kota, lorong, dan mengambil jutaan gambar sepanjang jalan yang dilalui.

Di Indonesia, sepertinya punya tradisi yang berbeda. Kita tumbuh bukan dalam budaya membaca peta. Kita tumbuh dalam budaya tegur sapa, ngobrol, biacara. Tak ada peta di mobil kita, tak ada peta di rumah kita.

Memang kita sepertinya tak butuh itu. Toh kalau kita tersesat ada ribuan orang di jalan yang dapat kita tanya. Jika kita tanya, dengan gaya yang khas mereka biasanya menjawab, “Lurus saja, nanti belok kanan, belok kiri. Di situ ada tikungan, mentok, ada pos kamling. Nanti disana nanya lagi aja.”

Sumarno Harjokartono, salahsatu praktisi pemetaan yang ikut membekali kami saat itu mengatakan bahwa kita memang masih kurang peduli dengan peta. “Padahal dengan adanya peta, kebijakan dan perencanaan pembangunan tataruang dapat terbantu dengan mudah. Bahkan warga juga bisa tahu luasan dan kondisi kawasan dengan fungsinya,” kata Sumarno. Jadi, lanjutnya, agar kebutuhan kita sebagai manusia yang membutuhkan petunjuk-petunjuk dapat dipenuhi, kita mulai saja sendiri memetakan sesuai minat dan kebutuhan sendiri.

Membaca peta adalah bagian tak terpisahkan dari tradisi membaca, berpikir, dan menganalisis. Buta baca peta akan menyebabkan “greget” dari sebuah informasi tidak akan tersampaikan. Ketika belajar sejarah, kita diajarkan bahwa Belanda membangun jalan pos yang menghubungkan sisi barat dengan sisi timur Pulau Jawa. Tidak ada yang istimewa.

Padahal kalau informasi itu disampaikan dengan dilengkapi peta rasanya akan lain. Dengan memberi prespektif geografis, asosiasi dan informasi, maka kita akan menangkap informasi itu lebih “greget.” Bukan sekadar jalan yang menghubungkan Anyer dengan Panarukan saja, tapi kita juga bisa membayangkan jalur yang dilaluinya yang berupa pantai, gunung. Termasuk dengan kota-kota yang dilaluinya.

Popo Dedi Iskandar, salahsatu peserta workshop itu mengatakan jalan-jalan dengan panduan peta itu sangat menyenangkan. “Saya biasanya hanya melintasi ruas-ruas jalan di Bandung begitu saja. Tidak tahu di kawasan tersebut ada tempat-tempat menarik,” katanya. “Bahkan bisa dinikmati dengan jalan kaki setelah tahu jalurnya.”

Ahmad Yunus, seorang peserta lainnya mengatakan bahwa inisiatif National Geographic Indonesia ini sangat baik. “Ajaklah komunitas-komunitas yang ada untuk memperbanyak informasi di PetaKita. Semakin beragam komunitas yang menyumbang semakin beragam pula informasi yang ada,” kata Yunus.***

National Geographic Indonesia Traveler Vol.1, No. 4, 2009

2 thoughts on “Sepenggal Paris van Java

  1. wah, kapan di Bali???? Denpasar harus dipetakan ulang tuh. Kan sekalian makan2 seru kaya kang asep ini. Salam kenal ya, cuma baru kenal nama besarnya saja di beberapa majalah.

    lusa lalu kang yunus sempat mampir di rumah. semoga segera menikah ya dia, pasti butuh pelukan usai zamrud katulistiwa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s