Di Laut Mereka Memanen Rumput

Warga Karya Jaya, Pulau Buton Sulawesi Tenggara mengepulkan asap dapurnya dari budidaya rumput laut.

Warga Karya Jaya, Pulau Buton Sulawesi Tenggara mengepulkan asap dapurnya dari budidaya rumput laut.

Jalesveva jayamahe, di laut kita jaya. Dan harusnya, kejayaan juga menyangkut kesejahteraan jiwa dan raga penduduk yang tercukupi kebutuhan pangan, sandang, papan, dan pendidikan pada seluruh pulau di Nusantara.

Robo, warga Desa Selmona, Kepulauan Aru (Provinsi Maluku), kini mampu mengepulkan asap dapurnya sepanjang tahun tanpa berutang. Itu salah satunya berkat pemasukan dari usaha pembudidayaan rumput laut.

Bagi penduduk kepulauan seperti Robo dan para warga Desa Selmona lain yang dikaruniai lahan berupa laut nan luas, budidaya rumput laut merupakan kegiatan yang sangat menjanjikan.

“Selmona kini semakin hidup karena rumput laut,” katan Robo. “Kami sudah tidak sulit makan dan dapat membiayai sekolah anak di kota.”

Budidaya rumput telah memberi jalan keluar bagi warga Selmona dari belitan masalah ekonomi. Warga tekun menggeluti budidaya rumput laut sejak awal. Kegiatan ini makin berkembang dengan dorongan Yayasan Sitakena untuk menumbuhkan peluang hidup lebih baik bagi warga.

Mereka datang mendukung warga untuk melihat potensi desa yang dapat dikembangkan dengan beradaptasi pada iklim yang berubah. Dan solusi yang mereka pilih adalah mengajak warga membudidayakan rumput laut.

Ladang rumput laut di Buton
Meningkatnya kualitas hidup Robo dan warga Desa Salmona di Kepulauan Aru juga dinikmati Tahinuddin di Desa Sulaa, Pulau Buton (Provinsi Sulawesi Tenggara).

Pada 2006, Tahinuddin bersama tujuh orang temannya yang membudidayakan rumput laut membentuk kelompok pengelola budidaya rumput laut bernama Sabar Menanti. Jaringan Pengembangan Kawasan Pesisir (JPKP) Buton, sebuah lembaga sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Pulau Buton membantu kelompok tersebut.

Pada saat panen rumput laut pertama kali, Tahinuddin memperoleh 1,2 ton rumput laut kering. Pada saat itu harga di Bau-Bau, kota utama di Pulau Buton, mencapai Rp 4.900 per kilogram. Sehingga, pada panen pertama itu Tahinuddin mendapatkan hasil sebesar Rp 5.880.000, dari modal awal sekitar Rp 2 juta.

“Pada 2007, saya sisihkan hasil penjualan untuk menambah modal. Dengan modal Rp 3,5 juta, hasil panen berikutnya dapat 2,1 ton,” kata Tahinuddin. “Harga jual saat itu mencapai Rp 6.200 per kilogram, jadi saya bisa mendapat uang Rp 13.020.000.”

Persoalan penduduk pulau kecil warga yang tinggal di kawasan pesisir pantai biasanya dikenal sebagai nelayan penangkap ikan. Tapi mahalnya biaya untuk melaut karena naiknya harga bahan bakar membuat sebagian besar nelayan tidak bisa pergi mencari ikan.

Iklim yang berubah tak menentu juga membuat bingung nelayan menentukan waktu yang tepat melaut. Perubahan iklim membuat nelayan miskin yang menggunakan perahu kecil tak mau mengambil resiko berhadapan dengan ombak besar yang bisa datang kapan saja tanpa bisa diterka.

Nelayan di Pulau Jawa pada saat berhenti melaut masih memiliki pilihan pekerjaan lain, terutama menjadi pekerja kasar pada berbagai sektor. Tapi bagi nelayan yang tinggal di pulau-pulau kecil dan terpencil yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara, tak ada pilihan lain.

Ombak besar yang mengepung tempat tinggalnya dan siap menelan apa saja memaksa nelayan di pulau-pulau kecil tak melaut karena resikonya terlalu mahal. Artinya, berbeda dengan nelayan di Pulau Jawa yang masih punya pilihan pekerjaan alternatif, para nelayan di pulau-pulau terpencil kehilangan pekerjaan sama sekali pada saat ombak tinggi.

Warga di Kabupaten Kepulauan Aru merupakan salah satu komunitas yang tidak bisa memperoleh pendapatan sepanjang tahun karena terpencil dan berubahnya iklim itu.

Desa-desa yang berada di pulau-pulau yang menjadi gugusan Kepulauan Aru, untuk menuju Dobo, ibukota kabupaten itu harus menggunakan perahu dengan menyusuri lautan hingga beberapa jam. Misalnya warga Desa Selmona yang posisinya di utara Kepulauan Aru, membutuhkan waktu hingga tujuh jam dengan perahu bermesin diesel ganda untuk mencapai Dobo.

Titik terang

Rumput laut juga memberi berkah bagi warga Selmona, sebuah desa terpencil di Kepulauan Aru, Maluku.

Rumput laut juga memberi berkah bagi warga Selmona, sebuah desa terpencil di Kepulauan Aru, Maluku.

Berhasilnya budidaya rumput laut yang dilakukan kelompok Sabar Menanti di Buton, kata Asman, pegiat JPKP, karena rajin merawat dan punya semangat untuk hidupnya berubah menjadi lebih baik.

“Dengan berkelompok mereka saling belajar bagaimana merawat rumput laut yang baik. Hasilnya sangat luar biasa. November 2008, Tahinuddin mampu menghasilkan 3 ton dengan harga jual mencapai Rp 32 juta,” papar Asman.

Sejak Januari 2008, Tahinudin bersama anggota kelompok Sabar Menanti lainnya mulai melakukan pengembangan usaha. Selain membudidayakan rumput laut, mereka juga melakukan pembibitan rumput laut. Mereka merasakan kegiatan ini sebagai peluang usaha yang menjanjikan.

“Dengan makin banyaknya orang yang membudidayakan rumput laut, kian banyak pula permintaan akan bibit rumput laut yang baik,” kata Tahinuddin.

Pembibitan rumput laut perlu waktu lebih singkat antara Januari hingga Mei sepanjang tahunnya. “Kami menyesuaikan waktu pembibitan dengan waktu penanaman rumput laut oleh kawan-kawan pembudidaya di Pulau Buton dan sekitarnya,” lanjut Asman.

Penjualan bibit rumput laut oleh kelompok Sabar Menanti ini mampu mencapai 360 ikat. Dengan harga jual untuk satu ikat mencapai Rp 50 ribu, mereka memperoleh pendapatan hingga Rp 18 juta dalam satu periode pembibitan.

Kelompok Sabar Menanti membuat pembibitan rumput laut di Desa Wantopi, Buton. Dari situ mereka memasarkan bibit tersebut di kota Bau-bau dan Kabupaten Buton. Dengan membudidayakan rumput laut yang digelutinya sejak tiga tahun ini, Tahinuddin dan anggota kelompok Sabar Menanti, Desa Sulaa itu hidup kian sejahtera.

“Dari hasil rumput laut, saya bisa membeli perahu bermotor untuk merawat rumput laut dan sepeda motor untuk di darat,” katanya.***

7 thoughts on “Di Laut Mereka Memanen Rumput

  1. wah banyak produk tuh yang bisa dihasilkan dari rumput laut. bisa dikonsumsi. bisa juga untuk kosmetik, bisa dijual, bisa
    yang dibawah mungkin lebih nambahin lebih bisa buat apa lagi.
    fokus terus deh usahanya

  2. Kalo saya mau beli bibit rumput laut kemana?? khususnya diwilayah bangka belitung kalo ada yg tahu mohon hubungu saia di nomor 081515100922

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s