Dahlia Mekar di Hutan Karet Lubuk Beringin

Perempuan Lubuk Beringin, Berserikat Memperkuat Ekonomi Desa

Perempuan Lubuk Beringin, Berserikat Memperkuat Ekonomi Desa

Dahlia adalah nama bunga, dan para perempuan memujanya. Di sebuah desa pedalaman di Pulau Sumatra, Indonesia, para perempuan menjadikan dahlia nama sebuah lembaga kredit mikro yang mereka kelola bersama.

Seperti bunga, lembaga kredit mikro Dahlia— tepatnya Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Dahlia— juga tumbuh dari kecil. Ia berawal pada saat lembaga swadaya masyarakat (LSM) pelestarian lingkungan hidup Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi melakukan pendampingan terhadap masyarakat Desa Lubuk Beringin, Provinsi Jambi. Dari Jakarta, Ibukota Indonesia, desa ini sekitar satu jam penerbangan ke arah barat laut, berlanjut dengan perjalanan darat di jalan tanpa aspal menembus hutan dan perkebunan selama lima jam.

Melalui Proyek Konservasi dan Pembangunan Wilayah Terpadu Taman Nasional Kerinci Seblat (ICDP TNKS) pada 1998 hingga 2002, KKI Warsi mendorong masyarakat— perempuan dan laki-laki— memperkuat dan mengembangkan lembaga desa untuk meningkatkan ekonomi dan mengelola sumberdaya alam yang lestari.

KKI Warsi mendorong kaum perempuan berhimpun dan bertemu tiap Jumat siang.  Mula-mula para perempuan, khususnya muslimah, berkumpul untuk mengaji bersama.  Usai mengaji, mereka arisan untuk menghimpun dana di kalangan masyarakat sendiri.  “Mereka memulainya pada Agustus 2000, “ kata Rudy Syaff,  penasehat KKI Warsi.

Tiap bertemu, masing-masing anggota Dahlia menyetor Rp 2.000, dengan rincian Rp 1.000 untuk arisan dan Rp 1.000 untuk iuran pengajian. Dari berkumpul dan mengaji, para perempuan anggota Dahlia membentuk unit usaha simpan pinjam. Untuk modal awal, setiap anggota menyetor simpanan pokok Rp 5.000 dan Ro 1.000 simpanan wajib bulanan.  “Pada pertengahan 2001, anggota sudah dapat meminjam dengan pembayaran dicicil 10 bulan dan jumlah pinjaman maksimal Rp 100 ribu,” kata Nur Asiah, Ketua KSM Dahlia.

Nur Asiah dan para perempuan anggota Dahlia kini sudah bisa tersenyum. Dari uang yang mereka kumpulkan melalui arisan, mereka bisa mendapatkan sumber dana. Sebelum ada Dahlia, warga mengandalkan tengkulak karet untuk mendapatkan dana segar untuk keperluan mendadak. Di situ, warga meminjam uang dengan membayarnya dengan karet, tapi tengkulak menentukan harganya di bawah harga pasar. “Kami tentu senang dengan pertumbuhan Dahlia, mengingat ini bermula dari obrolan di sungai saat mencuci pakaian,” kata Nur Asiah.

Pada siang hari, giliran kelompok perempuan (muslimah) Lubuk Beringin pertemuan. Mereka mengaji dan membahas berbagai soal— lingkungan, pendidikan, dan ekonomi. Di situ, para perempuan dalam Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Dahlia, lembaga keuangan mikro di Desa Lubuk Beringin, juga bertemu rutin.

Dahlia kini merintis untuk menjadi koperasi yang berbadan hukum pada satu saat nanti. Sambil berjalan, mereka menata unit simpan pinjam dan mengelola usaha penyewaan peralatan pesta, kerajinan rumah tangga, dan kebun produktif. Tiap tahun Dahlia menggelar rapat anggota tahunan (RAT) yang merupakan forum musyawarah tertinggi dan pembagian sisa hasil usaha (SHU).

“Kami membagikan SHU dan sebagian kami sisihkan untuk modal usaha dan kas desa sebagai biaya konservasi. Kami ajak anggota untuk peduli terhadap kelestarian lingkungan,” kata Muhammad Jufrie, fasilitator Dahlia yang juga perangkat Desa Lubuk Beringin.

Lubuk Beringin merupakan desa mandiri yang sangat tergantung dengan alam. Warga desa mengandalkan pemasukan dari hasil sadapan getah karet. Mereka juga membangun jaringan listrik dari tenaga air sungai. “Jika lingkungan rusak, hutan rusak, kincir tak bisa berputar dan Lubuk Beringin akan gelap,” kata Jufrie.

Dahlia kini memiliki aset mencapai Rp 200 juta dan menjadi tulang punggung ekonomi Desa Lubuk Beringin.  Kekayaan yang telah besar itu tidak membuat warga berdiam diri. “Kami tengah berjuang untuk memasarkan karet langsung ke pabrik, agar harganya semakin baik dengan memutus rantai distribusi panjang,” ucap Nur Asiah.

Umpama bunga, Dahlia dari hutan karet Lubuk Beringin ini kini telah mekar penuh. (*)

4 thoughts on “Dahlia Mekar di Hutan Karet Lubuk Beringin

  1. salam..

    saat ini saya menjual CD cara berkebun dahlia yang benar, hanya dengan harga 60 ribu/CD (sdh msk ongkos krm). CD bukan berisi ebook PDF atau paparan data melainkan video interaktif/audio visual bagaimana prakteknya langsung di lapangan. dan ada juga buku panduannya (berwarna + bergambar) harga 60 ribu.

    jika berminat silahkan hub.saya di 081-911857815 atau email rozi679@gmail.com.

    terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s