Akhiri Kisruh Air di Cirebon pada Hari Air Sedunia dengan Kerjasama

Hari ini, 22 Maret, warga dunia tengah memperingati Hari Air Sedunia. Di berbagai belahan bumi, orang tengah berkampanye untuk menjaga sumber air agar tetap lestari. Dan kini, di Cirebon kisruh urusan air masih terus berlanjut.

Kota Cirebon dan Kuningan masih sengit berseteru soal sumber air Paniis. Kota Cirebon tidak mau membantu biaya konservasi yang dibutuhkan Kuningan untuk menjaga kelestarian sumber mata air Paniis. Padahal sumber air Paniis merupakan sumber kehidupan bagi warga Kota Cirebon.

Menurut Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan, ketersediaan air per kapita di Pulau Jawa hanya sekitar 1.750 meter per kubik per tahun pada tahun 2000, jauh di bawah standar kecukupan minimal 2.000 meter kubik per kapita per tahun. Jumlah tersebut diperkirakan akan semakin menurun hingga mencapai 1.200 meter kubik per kapita per tahun pada tahun 2020.

Bukan hanya air bersih saja yang bakal sulit diperoleh di Cirebon, air untuk keperluan pertanian juga diambang krisis. Pada musim kemarau silam, padi-padi yang sebagian besar berumur dua bulan tidak memperoleh air. Akibatnya, ribuan petani yang sawahnya kekeringan itu gagal panen. Padahal untuk modal menanam padi, sebagian besar petani berhutang.

Kesulitan memperoleh air bagi pertanian dapat memicu masalah sosial. Petani yang frustasi karena sawahnya terancam gagal panen emosinya dapat dengan mudah meluap. Tentunya jika ribuan petani frustasi akan menimbulkan masalah baru yang rumit dan komplek.

Krisis air di Cirebon sesunguhnya sudah dapat diketahui jauh-jauh hari. Pohon-pohon yang tumbuh di Gunung Ciremai dan sepanjang aliran sungai kondisinya terancam punah sejak beberapa tahun terakhir. Padahal, pohon-pohon itu berfungsi memperkuat dan melestarikan area tangkapan air.

Berkurangnya pohon-pohon di Gunung Ciremai, menyebabkan sumber air di Ciremai juga mulai berkurang jumlahnya. Bahkan sumber air yang lenyap tersebut jumlahnya mencapai ratusan.

Krisis air di Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan) perlu mendapat perhatian segera. Semua daerah di Ciayumajakuning harus bersama-sama memikirkan kelestarian sumber air dan pengelolaannya yang benar. Karena jika kelestarian sumber-sumber air itu tidak terjaga krisis air yang kini terjadi akan terulang kembali setiap musim kemarau, bahkan kondisinya bisa lebih parah.

Kini saatnya bukan mementingkan daerah sendiri. Bukan saatnya memperbanyak pundit-pundi kas daerah karena menjual air pada warganya. Semua daerah di Ciayumajakuning harus bahu-membahu dan bekerjasama. Cirebon tidak bisa hidup sendidri tanpa dukungan Kuningan. Begitu juga dengan sawah di Indramayu dan Cirebon sangat tergantung dengan kelestarian pohon-pohon di Daerah Aliran Sungai Cimanuk yang berada di daerah lain.

Kerjasama antar daerah merupakan kunci dalam pembangunan Ciayumajakuning. Karena di Kuningan terdapat Ciremai yang menyimpan sumber air, Kuningan punya peran untuk menjaga kelestariannya. Dan karena Cirebon mengandalkan sumber air dari Kuningan, Cirebon juga wajib membantu Kuningan menjaga kelestarian sumber air itu. Jika kisruh air tidak segera usai, pembangunan akan tersendat dan rakyat semakin melarat.***

6 thoughts on “Akhiri Kisruh Air di Cirebon pada Hari Air Sedunia dengan Kerjasama

  1. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA DATANG PANEN
    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia. NPK yang terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita.
    Produk ini dikenalkan sejak tahun 1969 oleh pemerintah saat itu, karena berdasarkan penelitin tanah kita yang sangat subur ini ternyata kekurangan unsur hara makro (NPK). Setelah +/- 5 tahun dikenalkan dan terlihat peningkatan hasilnya, maka barulah para petani mengikuti cara tanam yang dianjurkan tersebut. Hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1985-an. Saat itu Indonesia swasembada pangan.
    Petani kita selanjutnya secara fanatis dan turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK dan pengendali hama kimia saja.
    Mereka para petani juga lupa, bahwa penggunaan pupuk dan pengendali hama kimia yang tidak bijaksana dan tidak terkendali, sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
    System of Rice Intensification (SRI) pada tanaman padi yang digencarkan oleh SBY adalah cara bertani yang ramah lingkungan, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas hasil juga lebih baik, belum mendapat respon positif dari para petani kita. Mungkin ini walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam teknis budidayanya.
    Petani kita sudah terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan pola tersebut.
    Atau mungkin solusi yang lebih praktis ini dapat diterima oleh para petani kita; yaitu “BERTANI SISTEM GABUNGAN POLA SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK NASA”. Cara gabungan ini hasilnya tetap ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki oleh pola SRI, tetapi cara pengolahan lahan/tanah lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.
    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI.
    SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI?
    KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
    GUNAKAN PUPUK DAN PENGENDALI HAMA ORGANIK NASA UNTUK TANAM PADI DAN BERBAGAI KOMODITI. HASILNYA TETAP ORGANIK.
    KUALITAS DAN KUANTITAS SERTA PENGHASILAN PETANI MENINGKAT, RAKYAT MENJADI SEHAT, NEGARA MENJADI KUAT.
    omyosa, 08159927152
    papa_260001527@yahoo.co.id

  2. Berkurangnya pohon-pohon di Gunung Ciremai juga diakibatkan oleh penghijauan lahan kurang berhasil.
    Kalau kita cinta tanah air harusnya pemerintah dan masyarakat bekerja sama untuk menghijaukan kembali hutan yang telah ditebang.
    Untuk mempercepat dan keberhasilan pertumbuhan tanaman hutan atau tanaman pangan sebaiknya gunakan produk-produk pupuk NASA.

    Cholid
    Cirebon
    085224044001

  3. Om Cholid, bukannya lebih bagus tanaman dan tanah dengan berbagai unsurnya bersinergi secara alami. Kalau menggunakan doping, pasti ada efek sampingnya. CMIIW…

  4. maaf baru masuk lagi,
    banyak produk organic memang bersifat doping. sehingga tanaman yg memakai sistem doping dlm waktu tdk lama akan tdk berbuah, sama dgn laki2 ingin jantan dgn sistim rangsangan syaraf. berbahaya.
    system nasa adalah mengisi unsur hara tanah yg hilang, bkn doping memaksa pohon menyerap unsur hara sebesar besarnya.
    bahan2 alami pupuk nasa tsb hanya ada di indonesia dan amerika latin.
    ingin lebih jelas kontak ke 085224044001.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s