Menggagas “Cirebon Heritage”

Dalam perkembangan cepat perkotaan, salah satu yang hilang adalah sejarah. Kota-kota makin menor, dengan jalan tol, pusat pertokoan dan mal berskala besar. Tapi, kering oleh watak, kehilangan identitas karena melupakan akarnya. Kota yang berubah terlalu pesat membuat warganya kehilangan orientasi, dan menjadi sumber stress tersembunyi.Dan Cirebon tidak kebal terhadap itu. Melihat kondisi Gua Sunyaragi sekarang ini kita tahu, sejarah sering dipandang semata sebagai beban, dan bukan aset. Padahal, sejarah yang melekat pada situs dan bangunan sebenarnya tidak hanya menjadi penanda sejarah, melainkan modal yang besar bagi pariwisata. Sejarah sebenarnya bisa mendatangkan uang, asal dikelola dan dilestarikan.

Tapi, itu sering dilupakan. Beberapa tahun lalu, ada sedikit keributan di Cirebon sini, ketika pemerintah bermaksud menata kota, tapi dalam prosesnya menggusur sebuah makam kuno berusia 300 tahun. Itulah makam Sam Tjay Kong yang terletak di belakang Pasar Pagi.

Proyek penataan itu menuai protes dari kalangan warga keturunan Tionghoa karena alasan yang wajar. Makam Sam Tjay Kong alias Tumenggung Aria Wira yang meninggal pada 1739 dan merupakan salah satu cagar budaya penting. Dia adalah Cina muslim kerabat Putri Tan Nio Tien, istri Sunan Gunung Djati yang juga menjabat semacam menteri keuangan Kesultanan Cirebon pada masa itu.

Tak semestinya protes hanya datang dari kalangan Tionghoa. Penggusuran makam Sam Tjay Kong layak juga menjadi kepedulian warga non-Tionghoa. Sam Tjay Kong diakui resmi sebagai salah satu pembesar keraton yang memiliki jasa besar bagi Kesultanan Cirebon.

Meski belakangan dia berpindah agama ke Konghucu, jasanya besar dalam perkembangan Islam di kota ini. Dia juga dikenal sebagai arsitek kompleks Gua Sunyaragi.

Sam Tjay Kong juga mewakili sejarah pertemuan Islam-Tionghoa yang sangat mewarnai kota-kota pesisir utara Jawa, dari Banten hingga Gresik, kota-kota yang pernah dikunjungi Cheng Ho, seorang panglima dan pengelana muslim dari Dinasti Ming.

Cheng Ho tidak bisa dilepaskan dengan Islam dan Indonesia yang dulu Nusantara. Budaya Sino-Javanese Muslim Cultures yang membentang dari Banten, Jakarta, Cirebon, Semarang, Demak, Jepara, Lasem sampai Gresik dan Surabaya sebagai akibat dari perjumpaan Cheng Ho dan Tionghoa Islam lain dengan Jawa.

Pada 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati (Cirebon), dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring bertuliskan ayat Kursi yang kabarnya masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Tak semestinya sejarah panjang itu dilupakan. Dan jika Cirebon ingin meneguhkan identitasnya, salah satu cara adalah dengan menggali sejarah serta melestarikan situs-situs pentingnya.

Kota Semarang, yang juga memiliki tradisi Islam-Tionghoa kuat, adalah salah satu contoh bagus dalam pelestarian bangunan bersejarah. Sudah saatnya, Cirebon layak memiliki semacam “Semarang Heritage Society”, sebuah lembaga masyarakat yang peduli pada pelestarian bangunan historis.***

6 thoughts on “Menggagas “Cirebon Heritage”

  1. Setuju bung, tapi tidak lah harus dibatasi pada pelestarian BANGUNAN bersejarah, Cirebon kan kaya dengan aspek budaya lain: seni tari, musik, kriya dan batik nya, dll. Kapan-kapan Bung Asep bisa menggagas silaturakhmi teman-teman yang setidaknya memiliki kepedulian yang ‘sama’ atau ‘serupa’. Kapan ?

  2. Pingback: MENGGAGAS CIREBON HERITAGE | Fahmina Institute

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s