Hidup dengan Berkah Alam

Hembusan angin di pesisir laut Cirebon sangat kencang. Teriknya sinar matahari juga sudah terasa sejak pagi. Hembusan angin yang kencang dan teriknya matahari ternyata merupakan berkah bagi warga Desa Pangarengan, Kabupaten Cirebon. Selain itu, pada musim kemarau kadar garam air laut cukup tinggi.

Bagi Kirman, salahsatu petani garam di Pengarengan, membuat garam bukan hal yang sulit. “Setelah menyiapkan petak-petak, kemudian mengalirkan air laut ke petak tersebut,” ucapnya.

Dengan bantuan sinar matahari, air laut akan menguap dan meninggalkan kristal-kristal garam. Kristal garam tersebut biasa disebut garam krosok. Setelah menjadi garam krosok, para petani itu lalu menjualnya.

Hal menarik dari para petani garam di Pekarengan itu adalah kreativitasnya. Hembusan angin yang kencang merupakan energi sangat penting bagi mereka. Tenaga angin itu mereka gunakan untuk memutar kincir. Kemudian putaran kincir itu mereka gunakan untuk memompa air laut yang dialirkan melalui parit ke petak-petak. Dengan pompa yang digerakan oleh kincir angin tersebut mereka bisa menghemat tenaga dan uang. Tak perlu mengunakan tenaga manusia maupun pompa berbhana bakar minyak untuk menaikkan air laut.

Sama dengan nasib kebanyakan petani lainnya di Indonesia. Sebagian besar petani garam di Cirebon miskin. Praktek penjualan garam yang melibatkan makelar membuat petani hanya mendapat keuntungan yang kecil. Ditambah dengan serbuan garam impor di pasaran yang membuat harga garam di tingkat petani jadi sangat murah.

Melimpahnya garam di saat panen tiba tidak membuat mereka sejahtera. Rumah-rumah mereka tampak sederhana. Selain itu, aliran listrik dari PLN juga tidak sampai di pemukiman yang dekat dengan tambak-tambak garam mereka. Jaringan listrik PLN baru menjangkau rumah-rumah yang dekat dengan jalan raya pantai utara saja.

Untuk memperoleh aliran listrik mereka menyambungkan ratusan meter kabel ke rumah-rumah yang telah memperoleh pasokan listrik dari PLN. Selain membahayakan jika kabelnya rusak, tentunya untuk memperoleh pasokan listrik perlu mengeluarkan uang.

Sesungguhnya inovasi petani garam dalam memanfaatkan energi angin menjadi modal yang berharga. Selama ini mereka memanfaatkan hembusan angin untuk menggerakan pompa. Bagaimana kalau mereka juga didukung untuk memanfaatkan hembuasan angin untuk menggerakan turbin. Sehingga pemukiman petani garam dapat memperoleh aliran listrik dengan mudah dan murah.

Turbinnya tidak perlu yang berkapasitas besar. Mampu menyalakan lampu di malam hari dan menyalakan televisi di setiap rumah sudah cukup. Sehingga mereka tidak perlu membentang kabel beratus-ratus meter dan membayar ke pemilik rumah yang listriknya didompleng.

Apalagi saat ini pasokan listrik PLN dari pembangkit yang dimilikinya terus menurun. Terutama dari pembangkit listrik tenaga air yang mulai kekurangan debit air untuk menggerakan turbinnya. Penggunaan angin sebagai sumber energi alternatif di berbagai negara sudah dilakukan. Angin merupakan sumber energi yang tak ada habisnya, sehingga pemanfaatannya menjadi energi listrik tidak akan merusak lingkungan.

Turbin angin terdapat dua jenis, yakni turbin angin propeler dan turbin angin Darrieus.Turbin angin propeler adalah turbin angin dengan poros horizontal seperti baling-baling pesawat terbang. Untuk jenis ini harus diarahkan sesuai dengan arah angin yang paling tinggi kecepatannya.

Sedangkan turbin angin Darrieus berporos tegak. Keuntungan dari turbin angin Darrieus tidak memerlukan orientasi arah angin seperti pada turbin angin propeler.

Di Indonesia penelitian penggunaan angin sebagai pembangkit energi listrik telah banyak dilakukan. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya telah membuat pembangkit listrik tenaga angin bernama Wind Power System.

Pembangkit listrik tenaga angin buatan Surabaya ini terdiri dari empat bagian utama, yakni Rotor, Transmisi, Elektrikal dan Tower. Rotor terdiri dari baling-baling dengan empat daun dan bentuknya seperti baling-baling pesawat. Dengan bentuk seperti ini diharapkan energi angin yang tertangkap bisa maksimal.

“Agar bobotnya lebih ringan, baling-baling ini dibuat dengan diameter 3,5 dan bahannya dibuat dari fiberglass. Untuk mendapat hembusan angin, baling-baling diletakkan pada tower setinggi 8 meter,” papar Sukemi, jurubicara ITS seperti dilansir Antara.

Sedangkan pada bagian transmisi digunakan sistem kerekan dan tali. Sistem transmisi ini, jelas Sukemi, digunakan untuk menyiasati kekuatan angin yang kecil. “Karena kecepatan angin di Indonesia relatif kecil, transmisi ini sangat menguntungkan untuk meningkatkan putaran. Sebagai pengubah energi digunakan alternator dua fase 12 volt, energi listrik yang dihasilkan oleh alternator dapat disimpan dalam aki. Sedangkan kapasitas daya yang didapat sebesar 1,5 KW,” paparnya.

Pembangkit listrik tenaga angin yang dibuat dengan biaya sekitar Rp16 juta tersebut telah dicoba di Pantai Kenjeran, Surabaya. “Kurang dari satu jam kincirnya berputar, mampu menghasilkan listrik untuk menyalakan TV dan lampu sampai 100 watt,” imbuh Sukemi.

Dengan adanya pembangkit tenaga angin ini, akan semakin banyak masyarakat yang memperoleh listri tanpa tergantung PLN. Di sini peran pemerintah diperlukan untuk membantu. Setidaknya untuk memberikan modal pembangunan pembangkit skala kecil. Selanjutnya masyarakat yang mengelola sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya sendiri.

Jika pembangkit listrik tenaga angin itu digunakan petani garam di Cirebon. Mungkin dapat mengurangi biaya pengeluaran mereka. Dengan memanfaatkan berkah alam kesejahteraannya akan meningkat.***

11 thoughts on “Hidup dengan Berkah Alam

  1. Sebaiknya klo mau bikin Pembangkit Listrik Tenaga Angin dalam desainnya dipikirkan juga menggunakan bahan2 yang murah, dah tidak laku klo dijual. Tujuannya bukan untuk menekan biaya pembuatan alat, tapi agar alat yang udah jadi nggak jadi incaran tangan2 nakal.

    lah wong tong sampah rada bagusan dikit aja bisa ilang.

    hehe….

  2. hee……mw nyoba tuch tapi alternatif yang lebih murah ada nggak ya?skalian gambar rangkaiannya dong biar kita bisa kerja sama buat daerah laen yg juga krisis listrik seperti desa nenek saya………

  3. Man ane contek ya tulisan ente’, kita memang butuh orang yang kreatif neh. Coba y kalo semua pada kreatuf begitu…. Makmur kita.

    Aku kecewa dengan pendidikan indonesia. Rata-rata pendidikan yang dienyam oleh mahasiswa adalah pendidikan sosial dan multipulcois. So, jadilah orang2 ini pada tak berpikir kreatif karena monoton. Yah termasuk kita2 ini.

    Tapi yakin panjangnya jalan pasti sifat kreatif manusia itu akan tumbuh. Bagaimana tidak, y kalau mau hidup bertahanlah sendiri. Hidupmu adalah hidupmu. Pepatah orang jawa mengatakan, ne’ arep mamah yo obah!🙂

  4. butuh kearifan dan pembelajaran dari masyarakat disekitar kita yang perlu diteliti dan dipelajari oleh kita yang udah pendidikan nya maju ,
    berita ttg kincir angin garam juga ada di gresik saya lihat sama cuma tong diganti pake papan albasia dengan disilang kan,
    cuma kalo mau ditelisik dan diberi pemikiran gimana diagram kerjanya kincir angin ini agar air terambil dari saluran sampai ke ladang tambak atau garam

  5. Aku, juga sedang cari-cari makalah/pengetahuan tentang wind turbine, karena di daerah ku (nganjuk-jatim), kalo musim kemarau angin nya sangat kenceng sekali (naik motor di jalan raya susah pas musim angin), sayang aku belum sempat ngukur berapa kecepatan angin nya.

    Padahal kita tahu pada musim kemarau itulah PLN kita kekurangan power karena beberapa PLTA nya kehabisan air. Saya akan coba ukur dulu dech kecepatan angin disana berapa minimum, maksimum dan rata-rata siapa tahu bisa dijual ke investor ………….

  6. tks buat rumah pena……
    ini dari paguyuban jaka rara kota cirebon 2008
    iya boleh nanya sesuatu ga??????
    mana foto-foto kita selama perjalanan di alam….
    tks ditunggu kabarnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s