Berita Kriminal dan Jurnalis Televisi

Semalam saya harus menyelesaikan beberapa naskah. Karena lelah, menjelang tengah malam saya bekerja di kamar. Jarak dari kantor ke kamar hanya beberapa lantai saja. Jadi saya terbiasa bolak-balik antara kantor dan tempat tinggal.

Saat istirahat dan mengalihkan perhatian dari pekerjaan, saya nyalakan televisi. Menyimak program berita malam pada beberapa stasiun. Isinya nyaris seragam. Dan tentunya ada banyak berita kriminal.

Karena bosan dengan berita kriminal yang gambarnya hanya situasi interogasi di kantor polisi. Saya matikan televisi, kemudian kembali melanjutkan pekerjaan.

Setelah tertidur beberapa jam, lalu saya nyalakan lagi televisi. Ternyata, sebagian stasiun televisi menyiarkan program berita pagi. Isinya, tak jauh berbeda dengan program berita malam.

Saat itu saya matikan lagi televisi. Lalu saya terbayang suasana satu kota di Sumatera beberapa waktu lalu. Suasana kantor satuan reserse polresta di kota sangat ramai. Terdapat belasan wanita dan belasan pria. Semuanya tidak berseragam polisi. Yang wanita adalah korban praktek penjualan manusia. Yang pria tidak berseragam polisi itu adalah jurnalis.

Wajar saja, kalau ada belasan jurnalis di kantor polisi saat itu. Karena berita penjualan manusia cukup penting. Namun keberadaan jurnalis di kantor reserse itu ternyata tiap hari. Tidak siang, dan juga tidak malam.

Dari obrolan dengan jurnalis televisi nasional, ternyata mereka lebih senang bekerja di kantor polisi. Karena nyaris tiap hari bisa dapat berita. Mau kasus pencurian, perselingkuhan, pembunuhan atau penjualan manusia juga ada. Selain itu tidak perlu jalan-jalan mencari berita yang tidak jelas dengan menghabiskan bensin kendaraannya.

Sikap jurnalis televisi itu karena kondisi stasiun televisi. Pasalnya, dalam satu hari program berita kriminal di televisi bertabur. Baik pagi, siang, hingga malam. Apa program berita kriminal sendiri, ada juga yang merupakan bagian dari program berita reguler.

Alasan banyaknya program kriminal tersebut masuk akal. Karena para juranlis televisi di daerah itu penghasilannya nberdasarkan berita yang ditayangkan. Dan mereka beranggapan, berita kriminal apapun bisa tayang, karena programnya banyak.

Jadi jangan harap Anda dapat tayangan berita penting, menarik dan unik di daerah. Kecuali ada penugasan khusus dari produsernya yang mengharuskan mereka melakukan reportase.

Tentunya ini tidak terjadi di semua daerah. Dan pasti ada beberapa jurnalis televisi di daerah yang rajin menggali berita dengan kreatif. Saya sempat bertemu dengan jurnalis televisi di daerah yang kreatif. Bahkan ia mengaku jarang berkunjung ke kantor polisi. Ia lebih suka membuat berita-berita yang unik-unik dan menarik di kotanya.

“Kalau saya sering buat berita kriminal, lama-lama bukan pinter wawancara, tapi pinter interogasi,” ucapnya.****

4 thoughts on “Berita Kriminal dan Jurnalis Televisi

  1. Saya sangat setuju dengan kata mas jurnalis yang kreatif itu. Paling menarik untuk diketahui oleh orang, menurut saya, adalah hal-hal yang dekat dengan orang tersebut. Jadi berita tentang hal-hal unik di suatu kota,apalagi dengan angle yang berbeda, kemungkinan besar menarik minat orang di kota tersebut untuk mengetahuinya.

  2. yups…setuju dengan kata-kata “jurnalis yg kreatif”
    menggali berita sebenarnya suatu karya seni, sebuah buah pikir. Ada rasa puas mendalam jika karya seni itu ditayangkan oleh Stasiun Televisinya.

    Dan bukankah demi sebuah kepuasan itu manusia mengejarnya tanpa memperdulikan berapa banyak uang yang dihabiskanya?

    Meminjam Istilah Pengusaha : Berani ber- investasi !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s