Mempertemukan Petani dan Pembeli

Pemberlakuan pasar bebas regional dan global memaksa kita harus bertindak cepat dan cermat. Pertanian menjadi sektor yang penting di Ciayumajakuning. Jika kita lengah dalam menata pertanian, bukan mustahil produk mancanegara menyerbu Ciayumajakuning. Kalau sudah begitu, bagaimana nasib petani?

Pembangunan agribisnis khususnya bidang usaha industri dan jasa perdagangan agro secara umum masih dihadapkan pada berbagai kendala. Diantara berbagai kendala, masalah yang cukup mengganggu adalah sistem pemasaran hasil agro. Saat ini sebagian besar masih dilakukan secara individu, yang lebih menguntungkan makelar. Dengan pola demikian maka biaya pemasaran harus ditanggung sendiri oleh petani. Dampak lain dari pola tersebut adalah rendahnya posisi tawar di tingkat petani dan aktivitas transaksi yang tidak transparan.

Untungnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan Agro Propinsi Jawa Barat cepat berakselerasi. Sebagai Akselerator dalam Mewujudkan Perindustrian dan Perdagangan Agro Termaju di Indonesia Tahun 2008, mereka melakukan berbagai program pengembangan pertanian.

Salah satu upayanya dengan mempertemukan langsung penjual dengan pembeli pada satu forum. Sehingga produk dapat diperdagangkan dengan mekanisme transaksi yang lebih transparan. Menyadari kebutuhan adanya suatu forum yang langsung mempertemukan penjual dan pembeli tersebut, maka Dinas Perindustrian dan Perdagangan Agro menyelenggarakan Lelang Komoditi Agro. Keberadaan pasar lelang komoditi agro merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan posisi tawar petani. Selain itu untuk menciptakan sistem perdagangan yang bermartabat dan berkeadilan.

Beberapa hari lalu, bersama Badan Koordinasi Wilayah Cirebon, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Agro menggelar lelang komoditi agro di Cirebon. Hasilnya sangat menggembirakan. Dari proses lelang yang berlangsung sekitar dua jam, terjadi transaksi bernilai miliaran rupiah. Dalam lelang komoditi agro tersebut, padi, kentang, cabe, dan mangga menjadi komoditi idola.

Forum bersama antara petani dan pembeli ini merupakan upaya yang sangat tepat. Selama ini petani hanya bertemu dengan makelar. Sehingga nilai penjualan dari satu komoditi sangat kecil. Dengan proses lelang ini juga pembeli dapat langsung memilih produk bermutu dari tangan pertama.

Proses transaksi yang bermartabat ini patut menjadi agenda rutin. Sehingga petani dan pembeli dapat mengetahui kapan dan di mana mereka dapat bertemu. Selain itu, dengan dibuat secara rutin, petani akan tahu kapan ia menjual hasil buminya.

Alangkah baiknya, proses transaksi ini disesuaikan dengan musim panen. Sehingga menumpuknya hasil bumi di tingkat penati yang akhirnya dijual murah agar tidak segera busuk dapat dihindari. Pada akhirnya, pertanian akan kembali bergairah dan petani memiliki pasar yang pasti dengan nilai tinggi.****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s