Wisata, Sejarah dan Makna

Sekilas gedung itu tidak menarik sama sekali. Nampak tua. Dindingnya dari kayu, dengan cat yang sudah mengelupas. Tapi, banyak wisatawan antre untuk masuk. Itulah bangunan Preservation Hall, New Orleans, surga musik jazz di Amerika.

Orang datang tidak hanya untuk menikmati musik jazz tapi sebuah makna sejarah yang penting. Preservation Hall adalah tempat pertama kali, sekitar satu abad lalu, kaum budak kulit hitam memainkan dan menikmati musik yang di kemudian hari dikenal sebagai jazz. Dari situlah nama pemusik seperti Louis Armstrong muncul menjadi legenda.

Informasi dan makna sejarah. Dua hal itu merupakan aspek penting yang dicari orang ketika mereka mengunjungi situs wisata sejarah. Namun kita tidak menemukan hal yang sama ketika kita berkunjung ke Kraton Kasepuhan, Cirebon, misalnya.

Wajah kraton itu tidak banyak berubah dari 20 tahun lalu ketika saya berkunjung untuk pertama kali. Tidak banyak berubah kecuali sungai di depan yang makin hitam dan berbau. Sampah yang terasa makin banyak. Dan dinding-dinding bata yang kian berumput.

Sebagai salah satu tujuan wisata sejarah di Cirebon, kondisi Kraton Kasepuhan sekarang terasa menyedihkan. Tapi, sebenarnya, dia tidak sendirian.

Hampir semua situs wisata sejarah di Indonesia belum digarap secara optimal, apalagi maksimal. Negeri kita memiliki banyak tempat atau arsitektur yang punya makna sejarah penting, namun hampir semua gagal menarik minat wisatawan, baik asing maupun domestik, untuk datang dan menikmatinya.

Sangat jarang, misalnya, orang mau meluangkan waktu mengunjungi Museum Mohammad Hatta di Bukittinggi; atau tempat pengasingan Soekarno di Ende; atau gedung tempat ditandatangani perjanjian Linggarjati, Kuningan; atau rumah di Rengasdengklok, Karawang, tempat Soekarno-Hatta disekap menjelang proklamasi kemerdekaan.

Seperti Preservation Hall di New Orleans, Kraton Kasepuhan sebenarnya tidak memerlukan biaya besar untuk bisa dikemas menjadi tujuan wisata yang potensial. Kraton itu tidak perlu dipugar atau dipercantik. Cukup dibuat bersih dan rapi. Namun, yang penting, kraton serta lingkungan sekitarnya bisa memberikan pengalaman spiritual dan historis bagi pengunjungnya.

Dari segi ini informasi memegang aspek yang penting. Sistem informasi kraton harus dibenahi: baik dalam bentuk naskah yang menarik dibaca maupun peta yang memudahkan, yang memandu para wistawan menarik makna dari kunjungannya. Bagaimana sejarahnya, siapa manusia yang pernah tinggal di situ, apa masa silam yang menarik, bagaimana makna itu semua untuk masa kini.

Bangunan atau situs kuno pada dasarnya adalah sebuah “buku sejarah yang hidup”. Dia bukan sekadar bangunan fisik, tapi sebuah “buku”, serangkaian informasi.

Hal serupa berlaku untuk situs bersejarah lain: Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Saya kesulitan mencari informasi yang mudah dan menarik tentang masjid itu ketika berkunjung ke sana pekan ini. Saya hanya bisa melihat bangunan kayu yang fantastis secara arsitektural, namun tidak menemukan makna.

Hal serupa juga berlaku untuk banyak situs dan bangunan bersejarah di Ciayumajakuning. Apa sih makna Linggarjati, Gua Sunyaragi, Kampung Trusmi, Desa Pajajar (petilasan Raja Siliwangi), Makam Sunan Gunung Jati?

Wisata sejarah tidak hanya menarik dari segi ekonomi karena memacu pendapatan dari kedatangan wisatawan dan masuknya investasi. Wisata sejarah juga memiliki makna yang lebih luas: tentang simbol dan sejarah, dan tentang pendidikan. Dengan dikelola lebih baik, wisata sejarah bahkan bisa jauh lebih potensial dari wisata jenis lain, seperti wisata belanja atau wisata alam dan lingkungan yang sekarang menjadi trend.

Namun, syaratnya satu: seberapa jauh kita bisa memelihara situs dan bangunan sejarah, serta menyajikan informasi secara lebih bermakna. Di tengah jebakan pada hal-hal yang serba fisik, saatnya kita mencari makna yang lebih mendalam dari yang kasat mata.

Tidak hanya Preservation Hall. Puluhan ribu orang juga datang untuk antre masuk ke sebuah rumah sederhana di Salzburg, Austria. Rumah itu sama sederhananya dengan rumah-rumah lain, namun dengan satu perbedaan penting: di rumah itulah Wofgang Amadeus Mozart, komponis musik klasik terbesar, dilahirkan.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s