Menjaga Alam tetap Ramah

PERTANIAN BERKELANJUTAN

Usaha pertanian tidaklah melulu soal benih, manusia tani, lahan dan peralatan. Pengembangan pertanian tidak bisa dipisahkan dari pengembangan wilayah yang lain: tata ruang, industrialisasi dan kelestarian lingkungan.

Tak hanya ongkos produksi tinggi, para petani belakangan ini juga dihadapkan pada lingkungan alam yang tidak lagi bersahabat: banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau. Dua hal itu telah menghancurkan produksi pertanian dan sering membuat sia-sia kerja keras selama berbulan-bulan.

Departemen Pertanian mengungkapkan selama musim hujan 2006/2007 lebih dari sekitar 130 ribu hektar sawah di Indonesia terlanda banjir. Areal persawahan yang terkena banjir tersebar di 13 provinsi dengan umur tanaman antara 1-3 bulan.

Banjir tak hanya merusak persawahan tapi juga usaha perikanan. Petani dan petambak ikan di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa, seperti Karawang, Indramayu, dan Cirebon, mengalami kerugian mencapai Rp 42,85 miliar akibat banjir. Petambak ikan di Indramayu merugi Rp 11,94 miliar dan sementara rekan mereka di Cirebon rugi Rp 250 juta.

Sementara itu, pada musim kemarau, sejumlah daerah pertanian mengalami kekeringan. Dari 7,1 hektar sawah di Indonesia merupakan sawah irigasi, dan hanya 10% yang memiliki tandon air sepanjang tahun. Ketika sungai kering atau kian dangkal karena sampah, makin rawan pula usaha pertanian ini. Di Jawa Barat saja kemarau telah mengeringkan 34.000 hektar tanaman padi, terutama di Cirebon dan Indramayu.

Kekeringan juga telah menyengsarakan masyarakat petani: hilangnya air bersih, dan menyusutnya usaha perikanan air tawar.

Makin rusaknya alam ini mempersulit petani dan pengusaha budidaya ikan. Banyak dari mereka akhirnya putus asa dan lari ke kota untuk menemukan kemiskinan yang sama di sektor industri. Hilangnya sumber daya manusia di sektor pertanian juga secara nasional, produksi pertanian, khususnya beras, kian menyusut yang membuat Indonesia kian tergantung dari pangan dan beras impor.

Usaha pertanian dan perikanan hanya bisa bertahan jika pemerintah dan masyarakat bersama-sama memikirkan secara menyeluruh untuk melestarikan alam. Ketamakan sesaat yang mengabaikan lingkungan harus dibayar mahal di kemudian hari.***

3 thoughts on “Menjaga Alam tetap Ramah

  1. “… jika pemerintah dan masyarakat bersama-sama memikirkan secara menyeluruh untuk melestarikan alam.”

    praktisnya repot, euy😦

  2. skr bukan saatnya mengharap kepada pemerintah lagi, harus dibangun kesadaran dari masyarakat.

    terutama kesadaran dari masyarakat `elite` yang punya `pengaruh`

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s