Air: Berkah yang Kian Langka

Air: Berkah yang Kian Langka

Cirebon harus belajar dari kelalaian Jakarta dalam mengatasi soal yang nampaknya sederhana: air. Jakarta dilanda banjir setiap musim penghujan, dan kekeringan di musim kemarau, akibat pembangunan tata kota yang amburadul dan hilangnya daerah resapan air di Bogor.

Seperti Jakarta, Cirebon merupakan muara dari banyak sungai. Setidaknya ada 18 sungai yang bermuara di Cirebon dan mempunyai hulu di bagian selatan. Sungai yang tergolong besar antara lain Cisanggarung, Ciwaringin, Cimanis, Cipager, Pekik, dan Kalijaga. Sungai-sungai ini berhulu di Gunung Ceremai yang merupakan bagain dari wilayah Kuningan dan Majalengka.

Meski banyak sungai, potensi air sungai ini belum dimanfaatkan secara efisien, karena pada musim hujan banyak air terbuang ke laut. Debit air sungai mencapai 1,305 x 106 m3, sedangkan yang dimanfaatkan baru sekitar 880 x 106 m3 (sekitar 67%). Sementara itu, di musim kemarau Cirebon pun mulai kekurangan air.

Krisis air seperti ini memang tidak khas Cirebon. Indonesia secara keseluruhan juga mengalaminya. Indonesia memang termasuk 10 negara yang kaya akan air, tapi ancaman krisis air baku untuk air minum semakin nyata terlihat.

Menurut Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan, ketersediaan air per kapita di Pulau Jawa hanya sekitar 1.750 meter per kubik per tahun pada tahun 2000, jauh di bawah standar kecukupan minimal 2.000 meter kubik per kapita per tahun. Jumlah tersebut diperkirakan akan semakin menurun hingga mencapai 1.200 meter kubik per kapita per tahun pada tahun 2020.

Tidak hanya air bersih kian langka. Sebanyak 76,2 persen dari 52 sungai di Jawa, Sumatera, Bali, dan Sulawesi tercemar berat oleh cemaran organik, dan 11 sungai utama tercemar berat oleh unsur amonium. Mayoritas sungai yang terdapat di kota padat penduduk seperti di Pulau Jawa cenderung lebih tercemar oleh bakteri coliform dan fecal coli, yang menunjukkan telah terjadinya pencemaran tinja pada sungai tersebut dan dapat menyebabkan penyakit diare.

Data Departemen Pekerjaan Umum (DPU) menunjukkan, ada sekitar 100 juta jiwa penduduk Indonesia yang mengalami kesulitan air. Untuk konsumsi air bersih, data DPU menyebutkan, 70 persen penduduk Indonesia masih mengkonsumsi air minum yang terkontaminasi.

Singkat kata, kesehatan ekonomi dan sosial Kota Cirebon, sangat tergantung dari kawasan hulu sungai. Cirebon perlu belajar dari kepongahan Jakarta. Dengan tingkat kepadatan, kemacetan lalulintas, masalah sampah dan air yang menghantuinya, Jakarta telah lama lupa bahwa kota ini hanya akan selamat jika mau berbagi dengan kabupaten sekitarnya, khususnya Bogor.

Seperti Jakarta, pembangunan Cirebon pada akhirnya hanya akan bertahan jika pembangunan itu juga memiliki manfaat bagi kabupaten sekitarnya, khususnya Kuningan dan Majalengka yang menjadi sumber air—nyawa bagi kota Cirebon.

Cirebon tak hanya berutang sumber air bersih dari dua kabupaten itu. Kelestarian pelabuhan Cirebon—dan kesehatan ekonomi kota ini—hanya bertahan jika tingkat pendangkalan di hulu sungai bisa dikendalikan.

Cirebon memiliki tiga dermaga untuk kapal-kapal angkut dan perahu navigasi. Panjang rata-rata dermaga sekitar 1.003,50 meter dengan kedalaman 3-6 meter, karenanya Cirebon menjadi pelabuhan strategis untuk perdagangan di seluruh Indonesia. Peran strategis ini akan terancam oleh pendangkalan akibat erosi dan penggundulan hutan di daerah hulu.

Untuk mempertahankan kelestarian sumber air, kawasan resapan serta pencegahan erosi, Kabupaten Kuningan dan Majalengka perlu mengendalikan pertumbuhan fisiknya. Artinya, dua kabupaten ini perlu rela berkorban untuk menahan laju pembangunan fisik. Tapi, kesediaan berkorban seperti ini harus dibayar oleh Cirebon dengan cara membagi kue ekonomi melalui kerjasama yang saling menguntungkan.

Dalam contoh nyata, Cirebon harus membantu Majalengka, misalnya, yang bertekad menjadi kota agrobisnis pada 2010. Sebagai pusat transportasi, sentra industri dan perdagangan, Cirebon bisa membantu menyerap dan memasarkan secara efektif hasil bumi Majalengka. Sebaliknya, dengan tekadnya menjadi sentra pertanian ketimbang industri, Majalengka akan memelihara kesehatan tanah dan air yang pada gilirannya akan menguntungkan Cirebon.****

4 thoughts on “Air: Berkah yang Kian Langka

  1. Tapi, biasanya .. manusia itu ketika diberi kenikmatan berlimpah suka lupa diri. Kemudian setelah nikmat itu habis, baru kelimpungan. Mulai menyalahkan Sang Pencipta. Entah kenapa, rasanya sulit sekali kita menjadi orang yang bersyukur. Mudah2an para pembuat kebijakan – terutama di Cirebon – membaca tulisan kang Asep.

  2. Air bagian dari ekosistem, seperti halnya manusia, jd klo mau bertindak segala sesuatu harus dipikirin apakah ekosistem terganggu, klo putus rantainya ntarnya manusia juga yg cilaka

  3. halo… dari jauh…aku bukan orang cirebon dan juga bukan orang indo. tapi aku suka comment tantang alam karena aku sekarang bekerja sebagai orang yang bergerak dalam bidang pertanian. Air adalah berkah yang diberikan oleh yang maha kuasa dan sebagai sumber dari segala sumber namun kita manusia kadang-kadang lupa apa yang telah diberikan dan ingin minta yang lebih…untuk itu marilah kita menjaga kelestarian alam kita disekitar agar dapat sustainable…di masa yang akan datan sampai pada anak cucu, cicit…by

  4. Benar, kita (termasuk saya tentu) sering pongah dan tidak belajar dari pengalaman orang lain, bahkan dari kesalahan kita masa lalu. Mungkin agak khas Indonesia !. ‘Kesalahan’ Jakarta tidak menjadi cermin daerah lain, termasuk Cirebon. Cekungan Bandung, juga melakukan hal sama. Prihatin memang menyaksikan ancaman rusaknya sungai-sungai besar di Cirebon: selalu saja ada masalah klasik ” Kemarau kekeringan, musim hujan kebanjiran”. Saudara-saudara kita di Sindang Jawa misalnya, kini sudah hampir sulit memperoleh/memanfaatkan dari sungai Ci Kadu yang melintasinya (sungai ini kelak bermuara ke Cipager). Padahal lokasi desa ini sesungguhnya masih berada di bagian hulu, lebih dekat ke Gn.Ciremai. Padahal ‘budaya mandi dan mencuci di Sungai’ di Sindang Jawa sangatlah akrab sepuluh atau bahkan tyjuh tahun lalu. Benar, perlu keikh;lasan untuk duduk bersama, terutama diantara para pelaksana dan pengambil kebijakan kota/kab disekitar Gn Ciremai untuk menyepakati kebijakan pembangunan ‘terintegrasi’ yang berbasis kepada keberlanjutan daya dukung alam. Gn.Ciremai sesungguhnya – dan semestinya adalah aset Allah swt yang bisa merekat sekaligus memicu pembangunan berkelanjutan di setidaknya Cirebon, Majalengka dan Kuningan – bajhkan Indramayu. Lebih dari itu, pangkal persoalan selalu saja dari ‘sikap dan perilaku’ kita semua. Perlu segera ada gerakan komunitas pemanfaat duisekitar aliran sungai tadi yang mulai menyuarakan persoalan persoalan kebijakan pengelolaan sungai, sekaligus turut serta ‘mulasara’ lingkungan disekitarnya. Yang kedua adalah proses edukasi, lama, tidak instant, perlu ada yang nyabarin…. tetapi kapan lagi kalau tidak dimulai dari sekarang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s