Menuju Kantor 100% Open Source

Setelah beberapa minggu menggunakan Ubuntu, saya semakin cinta pada perangkat lunak open source. Sejak diperkenalkan dan dibantu menginstall Mandriva oleh Pak Rusmanto, saya terus mencari tahu apa itu linux. Eh ternyata sangat menyenangkan. Hingga akhirnya saya merasa nyaman bergaul dengan para pengguna linux lainnya.

Setelah terdampar di Ubuntu-ID, komunitas para pengguna Ubuntu di Indonesia, saya semakin cinta pada linux. Suasana kekeluargaan dan dukungan komunitas ini menambah semangat saya untuk mengajak semua orang menggunakan linux, terutama Ubuntu🙂

Satu hal yang membuat kantor saya belum mau migrasi ke linux karena masalah perangkat lunak tata letak. Kami di kantor terbiasa menggunakan QuarkXpress untuk membuat koran, majalah serta berbagai produk lainnya.

Setelah saya mencoba memperkenalkan Scribus, ternyata semua sepakat bahwa ia dapat menggantikan QuarkXpress. Duh senangnya hatiku.

Walau harus berkenalan makin akrab dengan Scribus, saya tetap senang. Sambil menunggu kiriman buku tentang Scribus yang saya pesan dari Baliwae, kini saya sedang melototi panduan Scribus.

Kini target untuk membuat kantor 100% menggunakan perangkat opensource bakal terlaksana. Hemat devisa -biaya kantor-, dengan open source!

26 thoughts on “Menuju Kantor 100% Open Source

  1. Kini target untuk membuat kantor 100% menggunakan perangkat opensource bakal terlaksana. Hemat devisa -biaya kantor-, dengan opensource!

    ==========================================
    Mo ikutan opensource penggunanya sudah biasa ngunakan win dos repot deh..

  2. Weh selamat2 om, nanti boleh minta cerita2nya yah apabila sudah jadi penuh migrasinya untuk ditulis di ubuntu-id.org agar bisa mengompori yang lainnya🙂 … oh yah om pake scributnya yg mana? scribus biasa atau scribus-ng? kan ada tuh direpos Ubuntu coba aja search dan ada juga dokumentasinya cari2 aja melalui synaptic. Gut lak bos!

  3. Susah nih cari referensi company local yg lg migrate. Bagi2 infonya di blog yah. Biar utk pelajaran bagi yg laen ini. Thx

  4. Thx N hatur nuhun pasukan Ubuntu-ID yang telah ngasih semangat. Saya coba pake scribus-ng

    Bagi yang pernah pakai scribus, mohon petunjuk ya….

  5. Wah.. bravo neh udah pake ubuntu. Saya juga ahh mau test dulu buat running di latpop sebelum diplot untuk kantor. Ada yang sudah install di laptop? Bisa japri ke saya YM : mr_sehat Thanks..

  6. Nah ini baru ok, saya juga lg mau belajar ne, lagi pesan CD ubuntu ne, nanti kalo ada kesulitan, Kang Asep bisa bagi2 pengalaman kan?

  7. Memang salah satu kendala migrasi ke Linux adalah masalah migrasi software. Banyak software yg biasa kita pakai tidak begitu saja tersedia gantinya di Linux.
    Di kantor saya sendiri sudah ada satu komputer yg berwajah Kubuntu. Itu pun hanya digunakan untuk server. Meskipun baru2 ini saja terpaksa digunakan untuk programmer. Untungnya cuma dipakai untuk programming web. Jadi nggak butuh software macam2.

  8. Top top, kantor anda menghargai intelektualitas dan kreativitas orang lain. Suatu hal yang langka di Indonesia. Semoga kantor anda sukses dengan ubuntu sehingga menjadi contoh untuk kantor lain, khususnya kantor negara.

  9. Scribus yaa… Di kampus saya juga jadi pimred boolean –sejenis majalah kampus di fakultas saya–

    selama ini setiap desain selalu menggunakan coreldraw yang pastinya bajakan, karena percetakannya sudah terbiasa dengan format itu. btw scribus bisa di-export ke format apa aja….?

    Thx ilmunya…

  10. Dalam Linux, untuk Desktop Publishing setidaknya kita dapat menggunakan tiga aplikasi; Scribus, Gimp, dan Inkscape.
    Scribus adalah aplikasi yang mirip dengan QuarkXpress atau PageMaker. Gimp adalah aplikasi pengolah foto atau gambar bitmap yang mirip dengan PhotoShop. Inkscape adalah aplikasi pengolah gambar vektor yang mirip dengan CorelDraw atau FreeHand.

    Format akhir yang paling mudah untuk langsung dicetak adalah PDF. Saat menggunakan QuarkXpress juga saya menggunakan PDF sebagai format akhirnya untuk langsung cetak ke kalkir/film.

    Semoga membantu. Saya masih belajar dari “Desktop Publishing dengan Scribus, GIMP, dan Inkscape” terbitan InfoLinux (Dian Rakyat).

  11. Selamat ya mas, semoga menjadi contoh baik migrasi sebuah perusahaan ke GNU/Linux. Kalau bisa proses migrasinya di dokumentasi dan di publish di blog ini, sehingga bisa berguna buat perusahaan lain yang ingin migrasi, sukses…

  12. Pak, mo donk diajarin instal di D400 saya… Kendala apa ya yang besar untuk migrasi ke Ubuntu. Sudah pernah pake sih di desktop kantor…..Bagus dan oke kayaknya.
    Ada link/kontak yang bisa saya gunakan?
    Sebelumnya terima kasih.

  13. Memang open source is the best di kantor saya dulu pun sudah mulai migrasi ke beberapa freeware, walaupun untuk sistim operasi kita masih menggunakan windows

  14. #

    Memang open source is the best di kantor saya dulu pun sudah mulai migrasi ke beberapa freeware, walaupun untuk sistim operasi kita masih menggunakan windows

  15. You can’t imagine how lengthy ive been on the lookout for one thing like this. Scrolled via 5 pages of Google outcomes couldnt discover diddly squat. Quick search on bing. There this is…. Really gotta start utilizing that more typically Thank you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s