Di Laut Kita Jaya, Di Darat Kita Kaya

Sebagai negara kepulauan, laut bagi Indonesia merupakan sumberdaya yang tidak terbatas. Laut dapat menjadi jalur perdangangan hingga sumber makanan. Sebagai kawasan yang berada di pesisir utara Jawa, Ciayumajakuning dimakmurkan oleh laut.

Dengan Pelabuhan Cirebon sebagai gerbang perdagangan dan berbagai dermaga tempat bersandarnya perahu ikan, perekonomian Ciayumajakuning bergerak. Ikan dan berbagai hasil laut lainnya menjadi eneergi bagi warga Ciayumajakuning untuk berkarya. Ia menyumbang tenaga bagi warga Kuningan yang bercocok tanam. Ia juga memberi semangat bagi tangan-tangan terampil membuat kerajinan di Majalengka.

Setelah diresmikan untuk berkiprah pada 21 April 2007 silam, pengurus Yayasan Cakrabuana Mandalajati terus bergerak. Untuk mensinergikan visi, misi dan programnya, Cakrabuana mengadakan pertemuan dengan Kepala Badan Koordinator Wilayah (Bakorwil) Cirebon, Ir. H. Tb. Hisni. Dalam pertemuan di Kantor Bakorwil Cirebon itu turut hadir Komandan Stasion Angkatan Laut Letkol (P) Deni Hendrata.

Menurut Hisni, untuk mengelola segala potensinya Ciayumajakuning harus membentuk lembaga kerjasama antar daerah. Lembaga ini diharapkan membantu memasarkan potensi daerah serta mendatangkan investor ke Ciayumajakuning.

“Dengan kehadiran Cakrabuana Mandalajati, pemerintah akan menjadikannya sebagai mitra kerja. Dan keberadaan yayasan ini diharapkan dapat membantu percepatan pengembangan potensi Ciayumajakuning,” papar Hisni.

lebih jauh dikatannya, Ciayumajakuning ini mempunyai potensi yang lengkap. Mulai dari potensi pertanian, perkebunan, pariwisata, kerajinan dan kelautan. Apabila potensi tersebut dikelola secara baik dan bisa membuka peluang usaha baru, maka akan menyerap tenaga kerja yang luar biasa. “Tentunya akan menghasilkan multiplayer effect yang mampu menggerakkan sektor lain,” imbuhnya.

Dulu Cirebon menjadi simpul bisnis terpenting di Jawa. Pelabuhan Cirebon menjadi gerbang perdagangan antar pulan dan negara. “Potensi Pelabuhan Cirebon yang ada saat ini adalah sebagai gerbang pemasok batubara. Dari sini batubara dikirim untuk memenuhi kebutuhan industri di wilayah Kabupaten Bandung, Kota Bandung dan Kota Cimahi. Sebagian besar industri yang memanfaatkan batubara adalah industri tekstil,” paparnya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Bandung, pada tahun 2003 di wilayah Bandung tercatat ada sebanyak 18 perusahaan yang menggunakan batubara. Kebutuhan semua perusahaan itu sebesar 274.163 ton. Pada tahun 2004, bertambah sebanyak 20 perusahaan tekstil yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar untuk boilernya. Pemakaian batubara hingga bulan Juni tahun 2004 tercatat sebesar 245.364 ton.

”Maka dengan kebutuhan industri tekstil di daerah Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Kota Bandung yang rata-rata 2.000 ton per hari merupakan potensi yang cukup besar untuk mengembalikan kejayaan Pelabuhan Cirebon,” tegas Ka Bakorwil.

Kendala yang dihadapi saat ini adalah pengiriman dari Pelabuhan Cirebon ke pabrik yang memerlukan batubara tersebut. Ada 3 opsi yang memungkinkan pengiriman batu bara, pertama jalur Cirebon-Cikampek-Bandung dengan menggunakan kereta api. Kedua Cirebon-Cimalaka-Sumedang-Bandung dengan asumsi pembangunan jalan tol Cimalaka-Sumedang. Dan ketiga Cirebon-Kawali-Malangbong-Bandung jalur ini merupakan jalur terpanjang apabila menggunakan truk tronton. “Namun jalur lain memiliki tanjakan yang beresiko untuk dilalui tronton,” imbuhnya.

Pengembangan pelabuhan harus dibarengi pula dengan semangat membangun masyarakat maritim di sepanjang pantai utara Cirebon dan Indramayu. ”Masyarakat disepanjang pantai ini, selayaknya menikmati potensi yang ada di laut. Maka sudah saatnya kita berbuat untuk meningkatkan nilai tambah buat mereka,” ucap Letkol (P) Deni Hendrata.

Hal senada diungkapkan Toto Damiri, Ketua Yayasan Cakrabuana Mandalajati. Menurutnya laut itu merupakan sumber alam yang tidak terbatas dan tidak ada habisnya. “Walaupun kita ambil ikan berton-ton tiap hari masih akan ada terus,” ucapnya.

Berbeda dengan sumber daya alam yang ada di darat, sambung Toto, ia akan habis suatu saat nanti. “Artinya laut memberikan jawaban masa depan bagi masyarakat Cirebon, disamping itu laut sebagai tempat lalu lintas barang dan dari laut pula menyimpan potensi wisata,” imbuhnya.

Sebagai wilayah yang memiliki laut, Ciayumajakuning harus mengoptimalkan segala potensi yang ada di laut. Tentunya untuk kesejahteraan semua warga Ciayumajakuning. Baik itu yang ada di pantai, maupun yang ada di gunung. Di laut kita jaya, di darat kita kaya.****

One thought on “Di Laut Kita Jaya, Di Darat Kita Kaya

  1. “Walaupun kita ambil ikan berton-ton tiap hari masih akan ada terus,” ucapnya

    Ngeri loh membaca statement seperti itu. Jadi teringat jaman dulu, sekitar tahun 60-an s/d 70-an ketika hutan di Kalimanta masih hutan rimba royo2. Ada yang bilang, tiap hari ditebang ga habis2.

    Walaupun kita tahu, ikan berton-ton diambil, tapi jangan takabur. Buktinya, nelayan di daerah Mempawah dan Ketapang, Kalimantan Barat serta di Banyuwangi, Jawa Timur mulai kesulitan mencari ikan. Mereka semakin jauh ke tengah laut mencari ikan.

    Intinya .. ketika kesombongan datang. Tunggulah waktunya. Yang paling bijak, memanfaat alam dengan arif. Tidak saja mengambil ikannya, tapi lingkungan laut juga dipelihara jangan sampai tercemar limbah berancun, tumpahan minyak dll.

    Semoga bangsa kita kembali berjaya seperti jaman Majapahit dan Sriwijaya ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s