Menjamin Kelestarian Manfaat Pembangunan

Orde baru sering dianggap sebagai Orde Pembangunan. Di masa Pemerintahan Soeharto, kata Pembangunan menjadi kata yang dominan. Pembangunan adalah panglima. Namun, pada 1998, rakyat Indonesia menyaksikan banyak hasil pembangunan sirna oleh Krisis Ekonomi an Moneter berkepanjangan.

Cukup bukti sudah untuk menunjukkan bahwa pembangunan di masa lalu terbukti keropos, hanya nampak megah di luar namun rapuh di dalam.

Pembangunan nasional maupun pembangunan daerah seperti Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan, perlu memetik pelajaran berharga dari konsep pembangunan yang keliru di masa lalu. Dalam kaitan ini, masyarakat Ciayumajakuning perlu mencari alternatif agar pembangunan memiliki manfaat yang nyata bagi sebagian besar masyarakat dan pada saat yang sama manfaat itu lestari, berjangka panjang.

Dalam beberapa tahun terakhir, kalangan akademis internasional menyebut pentingnya mempromosikan pempembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Model pembangunan ini dikembangkan dari konsep bahwa sumberdaya  alam adalah milik generasi mendatang, sehingga kita di masa ini hanya meminjam dari mereka. Oleh sebab itu pemanfaatan sumberdaya harus dilakukan dengan cermat dan hati-hati agar masih tetap lestari.

Konsep pembangunan berkelanjutan juga menekankan aspek masyarakat dan manusia sebagai subyek, bukan semata obyek pembangunan. Dalam kaitan ini, pembangunan sumber daya manusia menajdi tolok ukur penting keberhasilan pembangunan.

Konsep pembangunan berbasis masyarakat dibangun atas asumsi bahwa untuk keberhasilan kehidupan di masa depan masyarakat perlu diajak mengembangkan nilai-nilai baru dan maju, seluruh komponen masyarakat harus dilibatkan, dan nilai-nilai yang ada di masyarakat harus diakomodasi dan dijembatani untuk penyesuaian. Sehingga lahirlah masyarakat yang berperadaban. Untuk itu aspirasi seluruh kelompok masyarakat harus ditampung.

Keterlibatan masyarakat ini penting untuk mencegah kekliruan masa silam. Indonesia pernah menjadikan pembangunan ekonomi sebagai ”panglima”. Lebih jauh kemudian disederhanakan menjadi industrialisasi, sedang sektor lain diharapkan menyesuaikan diri. Hasilnya jelas, bahwa dengan konsep pembangunen ala Orde Baru tersebut tidak pernah terbangun daya saing global, sehingga krisis berkepanjangan masih mendera hingga sekarang.

Semangat pembangunan Cirebon Raya bukan hanya untuk memajukan sektor ekonomi dalam arti sempit, tetapi kehidupan masyarakat yang utuh. Maka yang harus diupayakan adalah pengembangan modalitas masyarakat.

Ibarat menghadapi masalah kemacetan lalu lintas yang kemudian dipecahkan dengan membangun jalan bebas hambatan (jalan tol). Diperlukan modal alami (natural capital) berupa lahan yang sesuai, kemudian di atasnya dibangun jalan. Ternyata mobil yang boleh lewat juga harus memenuhi syarat tertentu (berkecepatan minimum 60 km/jam). Jalan dan mobil menjadi modal teknologi. Pengemudi  yang boleh berkendara juga  harus memiliki keterampilan khusus, yakni mampu berkendara dengan baik dan selamat, serta mampu mengatasi kerusakan kecil (misalnya ban bocor).

Inilah modal insani (human capital). Jalan bebas hambatan juga arus dilengkapi fasilitas pendukung, yakni gardu masuk dan keluar,  tanda lalu lintas, serta juga petugas yang mampu mengoperasikan sistem, membantu pengemud yang menghadapi kesulitan, atau menindak pengendara yang melangar peraturan. Inilah modal sosial (social capital).****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s