Sebuah Katalisator Bernama Cakrabuana

The Cakrabuana Institute bukanlah sebuah lembaga swadaya yang masyarakat yang lazim dikenal. Bukan onderbow kekuatan politik baru. Bukan lembaga riset dan tanki pemikir (think tank) akademis.
Mahluk apa? Jawaban yang benar: katalisator. Dalam ilmu kimia, katalisator adalah senyawa yang memungkinkan banyak unsur bereaksi secara padu menjadi senyawa baru seperti diharapkan. Dengan kata lain, katalisator berfungsi mendorong dan merangsang terbentuknya sinergi dan kerjasama antar-unsur, yang tadinya berdiri sendiri dengan masing-masing karakternya, menuju sebuah tujuan bersama yang lebih besar.

Sebagai katalisator, Cakrabuana bertekad ingin mendorong kerjasama dan sinergi antar berbagai unsur—pejabat pemerintah, legislator (anggota DPRD), akademisi, aktivis LSM, media massa dan kalangan pengusaha—untuk peduli kepada pengembangan wilayah Ciayumajakuning, tak hanya secara ekonomi dan fisik, melainkan juga secara sosial dan keagamaan.

Kehadiran lembaga seperti Cakrabuana dirasa penting mengingat tujuan pembangunan yang terjauh, yakni pembangunan manusia seutuhnya, memiliki dimensi beragam: ekonomi, politik, fisik, teknologi, sosial, budaya dan spiritual sekaligus. Pembangunan seperti ini menuntut keterlibatan bersama semua elemen pemangku kepentingan (multi-stakeholders).

Kehadirannya dibutuhkan mengingat suasana politik setelah reformasi ditandai dengan demokrasi dan keterbukaan yang membawa eksesnya sendiri: orang cenderung berpikir dalam kotaknya sendiri, dalam sektor sempit. Kepentingan sempit jangka pendek tiap elemen sering mengorbankan kehidupan bersama dalam jangka panjang. Tiap elemen cenderung bersaing dalam sebuah ”permainan kalah-menang” (zero-sum game) yang merugikan semuanya.

Cakrabuana mengajak semua pihak untuk berpikir di luar kotak (out of the box) dan masuk ke dalam sebuah proyek bersama yang lebih besar dengan konsep ”win-win solutions”. Sebagai katalisator, Cakrabuana ingin mengambil peran membangun jembatan antar elemen politik dan sosial yang masing-masing berpikir dan bertindak sendiri-sendiri.

Pemerintah

Dalam contoh yang kongkret: pengembangan wilayah Ciayumajakuning tak bisa dipisahkan dari hadirnya investasi dan dana. Namun, meski merupakan aspek yang penting, investasi juga harus diperlakukan secara seksama. Banyak negara atau daerah, dengan dalih menarik investor, telah mengorbankan banyak aspek: buruh murah, penggusuran paksa, kerusakan lingkungan hidup, disintegrasi sosial, dan bahkan akhirnya kekosongan spiritual masyarakatnya.

Sudah mulai terjadi sekarang ini, berbagai provinsi dan kota di Indonesia saling-sikut untuk memikat investor dengan terus-menerus mengorbankan kualitas sosial, lingkungan hidup dan ekonomi mayoritas masyarakatnya. Mereka sedang berlomba menggali kuburnya sendiri.

Bupati dan Walikota

Menciptakan sebuah daerah agar menarik investor memang antara lain menjadi tanggungjawab pejabat pemerintah (eksekutif). Bupati dan walikota dituntut secara imajinatif dan kreatif merumuskan kebijakan investasi yang ramah bagi investor namun tidak merugikan masyarakatnya.

Partai Politik dan Anggota DPRD

Politisi dari beragam partai dan kalangan legislatif memiliki tanggungjawab besar pula untuk merumuskan undang-undang atau peraturan daerah yang kondusif.

Penegak Hukum

Kalangan penegak hukum (jaksa, hakim dan polisi) memiliki perannya sendiri dalam menegakkan kepastian hukum yang nyaman bagi investor maupun pengusaha pada umumnya.

Akademisi dan Universitas

Menarik investasi yang bernilai dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat memerlukan studi dan kajian yang mendalam dengan kesediaan berpikir jangka panjang, bukannya mengejar kepentingan jangka pendek. Tiap daerah dituntut merumuskan cara yang imaginatif, kreatif dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam soal ini, kaum akademisi, universitas dan lembaga studi memiliki tanggungjawab yang tidak kalah penting.

Pengusaha

Sudah jamak para pengusaha dan investor cenderung memaksimalkan keuntungan. Namun, pelajaran penting yang bisa dipetik dari banyak lokasi investasi, khususnya di sektor pertambangan dan kehutanan, keuntungan besar itu sering tidak ada artinya karena digerus oleh ekses buruknya.

Dalam konteks ini, kalangan pengusaha juga memiliki andil besar untuk mewujudkan investasi yang bermanfaat bisa seluas mungkin anggota masyarakat. Investasi yang tidak memakmurkan secara ekonomi dan sosial masyarakat setempat sering justru menghantui para pengusaha dengan keresahan sosial, konflik, demonstrasi, tingkat kriminalitas tinggi, dan kerusakan lingkungan hidup yang pada akhirnya hanya akan merugikan pengusaha dan investor.

Itulah sebabnya, di mana-mana orang kini mempromosikan corporate social-responsibility (CSR), atau tanggungjawab sosial kalangan pengusaha. Sudah saatnya, CSR tidak hanya diwujudkan dalam bentuk sumbangan ”ecek-ecek”, namun dalam pemikiran komprehensif untuk menuju kemakmuran bersama antara pengusaha dan masyarakat.

Agamawan, Ormas dan LSM

Di sisi lain, kaum agamawan, pemimpin organisasi masyarakat serta aktivis lembaga swadaya masyarakat memiliki pula tanggungjawab untuk memastikan bahwa investasi yang digagas pemerintah dan dinikmati kalangan pengusaha memiliki dampak positif bagi kemakmuran ekonomi, sosial, dan spiritual masyarakat secara luas.

Tiap unsur tadi—pemerintah (eksekutif, legislatif dan yudikatif), politisi, pengusaha, akademisi dan aktivis LSM—potensial saling bertabrakan karena memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Lembaga seperti Cakrabuana bertekad ingin menjembatani dan mencari titik temu serta kompromi dari beragam kepentingan itu untuk menuju kemakmuran bersama di wilayah Ciayumajakuning.***

6 thoughts on “Sebuah Katalisator Bernama Cakrabuana

  1. Sebenarnya saya kurang suka dengan singkatan. Pembaca akan selalu bertanya seperti Anda.

    Ciayumajakuning adalah singkatan untuk Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan. Ya biar merata🙂

    Rumah saya di Bandung tak jauh dari kampus IPDN. Tapi lebih baik IPDN dibubarkan. Jadi tak ada niat untuk menggantikannya🙂

  2. Kaya’nya gpp kalo pake singkatan. Dan pastilah akan bertanya. Seperti Gerbang Kertosusila alias Gersik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan. Nah kalo ga disingkat .. cape deee .. Seperti juga Jabodetabek dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi hehehehe

  3. Ngomong singakatan memang menarik. Kalau singkatan itu disepakati bersama sih enak.

    Saya punya pengalaman pusing terkait singkatan. Dua istilah pada dua berita ini membuat saya pusing🙂

    Harga Minah Di Binjai dan Langkat Melebihi HET
    (http://www.binjai.go.id/index2.php?option=isi&do_pdf=1&id=164)

    Harga Mitan Melonjak
    (http://www.indomedia.com/bpost/062005/26/borneo/trans1.htm)

    Kalau kita hanya melihat judul berita itu kira-kiri paham tidak isi beritanya?🙂

  4. he he…
    Tapi dengan banyak singkatan terkadang mebuat saya bingung. Seperti halnya Anda dengan “Ciayumajakuning”🙂

    Belum lagi dengan “mitan” dan “minah” yang ternyata singkatan dari minyak tanah.

  5. ahh pada ngmgn masalah singkatan bisa pusing kepala orang,

    bahkan jika kalau singkatan itu panjang dan susah dimengerti bisa2 orang yang baca tambah ribet + ga’ mudeng

    hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s