Berbagi Peran atau Saling Bunuh Antar Kota

Di manakah ibukota Negara Bagian California? Orang sering keliru menjawab dengan Los Angeles, sebuah kota besar di Pantai Barat Amerika Serikat, yang dikenal pula sebagai pusat bisnis dengan bandar udara dan pelabuhan besar. Padahal, jawaban benar adalah Sacramento, sebuah kota kecil di pedalaman.

Banyak orang sering keliru pula menganggap Dallas sebagai ibukota Texas, bukannya Austin; Miami sebagai ibukota Florida, bukannya Orlando; atau New Orleans sebagai ibukota Lousiana, bukannya Baton Rouge.

Seperti halnya Los Angeles, kota-kota seperti Miami, Dallas dan New Orleans adalah metropolis dengan jutaan penduduk. Dan orang sering otomatis menganggap kota-kota terbesar pastilah ibukota pemerintahan pula. Keliru. Negara-negara bagian di Amerika Serikat umumnya justru memiliki ibukota pemerintahan yang berukuran kecil. Bahkan Washington DC, ibukota Amerika Serikat, jauh lebih kecil ukurannya dari New York, pusat niaga dan keuangan dunia.

Tidak cuma di Amerika Serikat. Negeri-negeri Eropa dan Kanada umumnya merancang kota-kotanya dengan fungsi yang spesifik (khas), memisahkan antara pusat pemerintahan dengan pusat perdagangan dengan mempertimbangkan masing-masing keunggulannya.

Berkebalikan dengan itu, hampir semua ibukota provinsi di Indonesia adalah kota-kota terbesar: Bandung (Jawa Barat), Surabaya (Jawa Timur), Semarang (Jawa Tengah), atau Makassar (Sulawesi Selatan). Ini selaras pula dengan fakta bahwa Jakarta, kota terbesar, merupakan ibukota Republik Indonesia.

Pengertian ibukota yang kita pahami memang sering identik dengan kota besar yang ”maha segala”—pusat pemerintahan, bisnis, keuangan, wisata, pendidikan. Ini membuat kota-kota seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya menanggung beban fungsi yang sangat berat.

Mendorong ibukota menjadi kota terbesar tak bisa dipisahkan dari konsep pembangunan sentralistis yang keliru di masa lalu. Konsep seperti ini membawa dampak buruknya sendiri. Fakta bahwa Jakarta kini menguasai 70% bisnis, uang dan investasi di Indonesia, tak hanya menimbulkan kecemburuan sosial yang rawan separatisme, tapi juga tidak bagus bagi Jakarta sendiri.

Kota-kota ”serba bisa” seperti Jakarta atau Bandung umumnya menjadi magnet besar urbanisasi, tumbuh jauh lebih cepat dari kemampuan lingkungan fisik dan sosial untuk mendukungnya. Dampaknya bisa dilihat pada kronisnya problem kemacetan, banjir, kelangkaan air, sampah hingga konflik sosial dan psikologis bagi penduduknya.

Dalam era otonomi daerah seperti sekarang, konsep pembangunan sentralistis seperti itu harus dipertimbangkan kembali. Kota-kota perlu ditata dan didorong untuk berbagi peran secara proporsional. Tidak perlu sebuah kota memiliki terlalu banyak fungsi sedemikian sehingga keteteran menjaga kesehatan ekonomi, sosial dan lingkungannya sendiri.

Dengan fungsi-fungsi yang lebih tersebar, kota-kota juga didorong untuk bekerjasama, bukannya saling bersaing dan saling membunuh. Ini juga mengurangi kecenderungan ”egoisme kota dan daerah” yang mengilhami pemekaran wilayah di banyak kawasan Indonesia belakangan ini, yang cenderung membuat kota dan daerah berlomba bunuh diri, karena tidak layak secara ekonomi.

Tidak semua provinsi di Indonesia sebenarnya mengalami problem seperti itu. Di Kalimantan Timur, misalnya, telah ada pembagian peran yang saling menguntungkan antara Samarinda (ibukota) dengan Balikpapan (pusat niaga dan gerbang masuk). Ini merupakan model yang menarik bagi provinsi lain.

Dalam konteks Jawa Barat, misalnya, tidakkah menarik melihat Bandung dan Cirebon saling berbagi peran dan beban? Kedua kota ini memiliki karakter geografis yang berbeda. Cirebon tak perlu meniru Bandung menjadi pusat pemerintahan. Sebaliknya Bandung tak perlu, dan takkan bisa efisien, menjadi kota niaga karena tak memiliki pelabuhan. Dengan mempertahankan karakter dan kekuatannya masing-masing, kedua kota justru dituntut bekerjasama untuk saling mendukung.

Berkaca dari kota-kota di Amerika Serikat, mengembangkan Cirebon sebagai pusat niaga juga akan memiliki dampak positif bagi kota yang sudah kelewat ruwet seperti Bandung dan Jakarta. Beban Jakarta dan Bandung, yang sekarang sudah kewalahan dalam mengatasi problem sederhana seperti persampahan dan ketersediaan air bersih, akan jauh berkurang.

Dalam konteks yang sama, kota-kota seperti Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan juga bisa berbagi peran dan kerjasama, bukannya saling bersaing dan mematikan.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s