Belajar Menulis

Rabu pagi tadi saya bertemu dengan para pegiat organisasi masyarakat sipil, yang biasa disebut aktivis LSM. Kami berbicara mengenai pentingnya pertukaran informasi dan membuat jaringan dengan lembaga sejenis di luar negeri. Hal yang saya perhatikan adalah kesulitan menulis.

Mereka memiliki data yang banyak. Pengalaman yang beragam hingga berbagai sikap dan pernyataan untuk kebaikan warga Indonesia. Namun untuk mengkomunikasikannya kepada masyarakat kerap kurang berhasil. Salah satu penyebab kegagagalan itu adalah penggunaan bahasa yang sulit dipahami.

Saya telah beberapa kali membantu para pegiat tersebut untuk menulis. Pilihan kata-kata asing dan ajaib kerap muncul. Bahkan banyak yang berusaha mempertahankan istilah-istilah seperti fasilitasi, monev, sosfor, ntfp, cbfm, dalam tulisannya. Padahal sebagian besar pembaca pasti kesulitan dengan istilah-istilah seperti itu.

Agar tulisan kita dapat dipahami pembaca, kita harus menggunakan bahasa yang ringan dan umum digunakan. Cara bercerita akan sangat membantu. Pindahkan cerita yang biasa kita ucapkan ke tulisan.

Berikut saya lampirkan tulisan dari Pak Udin, perajin anyaman bambu di Bogor. Ia mengikuti pelatihan menulis bersama para pengiat dan peneliti beberapa waktu lalu di Puncak. Setelah menyelesaikan tulisan ini, Pak Udin berkata bahwa ternyata menulis itu mudah.

 

 

Menganyam Hidup di Gobang

 

 

Oleh: Saifudin | Ketua kelompok Perajin Cipta Karya, Bogor

 

Anyaman bambu khas rumpin sebagai salah satu bentuk pasca-panen bambu.

 

Saya lahir di Desa Gobang, Kecamatan Rumpin, di hulu Sungai Cisadane. Desa itu hanya berjarak sekitar 30 km dari Bogor, atau 90 km dari Jakarta. Desa saya dikenal sentra produksi bambu. Sebagian masyarakatnya pun bekerja sebagai perajin anyaman bambu.

 

Ketika muda, saya sempat menjadi pekerja salon di Jakarta. Namun, setelah kawin saya memilih pulang untuk menekuni kerajinan bambu, karena bahan bakunya melimpah.

 

Banyak bambu ditebang dan dijual dalam bentuk batangan ke Jakarta dan sekitarnya. Harganya sangat murah, Rp 1.000-Rp 2.000 per batang. Bambu batangan sering dijual pula secara borongan, yakni dijual langsung berupa tegakan pada pemborong bambu untuk kemudian dijual ke Jakarta.

 

Sistem jual bambu batangan ini tidak banyak memberi hasil bagi masyarakat desa. Penebangan bambu dilakukan secara tebang habis. Bambu baru yang ditanam baru bisa dipanen lagi tujuh tahun kemudian. Masyarakat desa beranggapan sistem tebang habis akan menyebabkan tegakan bambu selalu muda dan mudah pecah. Namun, sistem ini cenderung merusak lingkungan, karena rimbunnya tanaman bambu membantu mencegah erosi dan membantu menngkap air. Tanpa pepohonan seperti itu banjir di Kota Jakarta akan makin parah.

 

Lahan tegakan bambu desa saya juga kian menyusut. Kebun bambu yang kurang menghasilkan beralih menjadi lahan pertanian atau peternakan. Satu peternakan ayam, misalnya, bisa mengambil kebun bambu seluas 5 ha. Alih fungsi tegakan bambu dalam skala luas juga pernah dilakukan untuk areal pertanian pisang.

 

Tanpa adanya perubahan pola pikir masyarakat, kebun bambu Rumpin akan terancam punah. Namun, rimbunnya pohon bambu hanya bisa dipertahankan jika masyarakat menyadari bambu bisa diolah menjadi hasil kerajinan yang bernilai tinggi.

 

Dari situlah saya bergerak. Pada 1980, bersama perajin bambu lain saya mendirikan Kelompok Perajin Cipta Karya. Pada mulanya kami membuat kemasan parsel, yang kemudian berkembang ke pembuatan kerajinan tangan lain pada 1990-an.

 

Pada 1998, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor membuat Program Pelestarian dan Pemanfaatan Bambu Berbasiskan Masyarakat. Tim dari IPB itu memberikan bantuan manajemen agar usaha kami lebih berkembang.

 

Kerajinan bambu kami pilih karena lebih ramah lingkungan, punya peran dalam mencegah banjir dan erosi. Kami juga berusaha memperbaiki mutu bahan baku. Kami melakukan sistem tebang pilih sehingga kebun bambu tetap terjaga kelestariannya. Misi Kelompok Cipta Karya memang menambah penghasilan keluarga sambil melestarikan alam sekitarnya.

 

Di sela-sela kesibukan saya mengelola penggilingan padi, saya melihat adanya potensi yang belum terangkat di desa saya, yakni bambu. Secara otodidak saya mulai membuat anyaman bambu setelah terilhami oleh topi caping dari bambu. Dari sini saya menemukan pola dasar anyaman yang khas ada pada anyaman bambu yang dihasilkan. Produk awal yang saya buat berupa parsel yang dipesan oleh seorang teman yang kemudian menjualnya ke Jakarta.

 

Pada 1983, produk parsel yang kami hasilkan menarik perhatian Bapak Hasan, seorang staf di Pasar Sarinah, pusat penjualan aneka kerajinan di Jakarta. Dia mengundang saya ke Jakarta dan meminta saya mengamati berbagai jenis kerajinan yang ada. Setelah itu, dia meminta saya membuat disain kerajinan yang sama sekali belum ada di Sarinah agar bisa laku. Tantangan ini saya tanggapi dengan baik. Kini saya telah mengembangkan aneka produk yang mudah dikenal seperti tudung saji, lampu pagoda, lampu jamur, parsel, rantang, dan tempat koran.

 

Dalam upaya untuk mengembangkan usaha kerajinan, Kelompok Cipta Karya selalu mengikuti berbagai pameran sepanjang tahun untuk memperkenalkan produk kerajinan. Melalui pameran ini, Cipta Karya juga berharap mendapatkan pesanan. Pameran yang secara rutin diikuti adalah dalam rangka mewakili Kecamatan Rumpin untuk mengikuti pameran di tingkat kabupaten. Di samping itu kami juga mengikuti pameran dalam rangka Dies Natalis IPB. Kadang kami harus pergi ke Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali untuk berpameran.

 

Untuk meningkatkan wawasan, Kelompok Cipta Karya juga mengikuti seminar, studi banding, pelatihan manajemen serta kelompok belajar paket yang di selenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional.

 

Sebagai Ketua Kelompok Cipta Karya, saya juga diminta oleh Departemen Pendidikan Nasional untuk menjadi pelatih bagi para guru yang pada gilirannya akan mengajarkan keterampilan anyaman kepada para siswa di sekolah, khususnya di daerah yang memiliki potensi bambu.

 

Prioritas utama Kelompok Cipta Karya adalah menularkan keahlian membuat kerajinan anyaman bagi masyarakat sekitar. Kini ada sebanyak 25 orang yang terlibat, lima orang tenaga tetap dan 20 orang tenaga lepas.

 

Tenaga lepas ini mendapat upah sebanyak kerajinan yang bisa mereka hasilkan. Tenaga kerja tetap mengerjakan kerajinan di bengkel kerja saya, sementara tenaga kerja lepas mengerjakan di rumah masing-masing. Setiap hari mereka mengambil bahan setengan jadi dan mengantarkannya lagi ke bengkel kerja saya jika sudah selesai. Jam kerja mereka bebas. Mereka bisa mengerjakan kerajinan setelah pekerjaan rumah selesai.

Dari segi ekonomi, usaha kami tergolong bagus. Namun, manfaat kerajinan ini jauh melampaui keuntungan dalam bentuk uang. Kami juga terlibat dalam usaha pelestarian hutan bambu yang penting keberadaannya untuk memperkecil bahaya banjir di Jakarta.***

19 thoughts on “Belajar Menulis

  1. pak udin boleh bisa tolong gak??? saya umur 10 saya selalu menulis jelek terus habis itu saya kadang bagus nah habis itu bagai mana cara menlis bagus(ini pak uding ato om asf))???

  2. pak, saya mau belajar nulis walaupun saya sudah banyak menulis saya(dalam tugas sekolah), tetapi saya menyadari masih banyak tulisan saya yang masih kurang, maka dari itu saya ingin sekali untuk bisa menulis baik tulisan fiksi maupun non fiksi,apalagi tulisan/makalah untuk tugas sekolah.saya tunggu jawabannya ya.
    Thanks

  3. saya tertarik dengan tulisan pak udin ini. walaupun beliau tidak mempunyai pengalaman menulis sebelumnya, tapi beliau telah berhasil memuaskan saya dan mungkin kita. saya juga jadi termotifasi untuk menulis. menulis dan bercerita seperti pak udin. salam kenal buat semuanya.

  4. saya termasuk salahsatu orang yang kagum ama kepribadian pak udin..tak hanya tulisannya yang bagus tapi kepribadian dan hatinya yang juga tulus.saya beruntung bisa kenal dekat dan banyak menimba ilmu usaha dari beliau…beliau membuktikan usaha anyaman bambu tidak hanya sangat menjanjikan scr financial tapi juga efek sosialnya sangat tinggi…nuhun pak

  5. Mohon informasi siapa, alamatnya dimana, dan nomor telepon berapa pengrajin anyaman bambu yang bisa saya hubungi. Kami akan pesan anyaman bambu untuk penahan lumpur (seperti di pakai ditambak-tambak), jumlah cukup banyak.
    Kalau ada mohon hubungi saya di hp 0811973471 atau email:gutoyo@yahoo.com

  6. Hi

    Bolehkan saya meminta kesediaan bapak saifudin untuk menjadi pelatih untuk pemanfaatan bambu di wilayah aceh barat. Kalo bisa tolong reply ke email saya

    anto

  7. Hey everybody, I’m having an fight with my laptop here. Earlier today it was working as prosperously as it a day does, but relative to an hour ago I turn off it down, only to rebuff it back on about 10 minutes or so later. Everything booted normally, but because some explanation some of my taskbar icons wouldn’t consignment, like the bulk curb icon and and wireless network icon. I tried to click on the start bench on the contrary to detect that it wouldn’t respond. It reasonable gave me the hourglass every measure I hovered during it. I could still roomy up programs from my desktop icons, but when I minimized them, they honest disappeared. I tried to just reboot my computer and espy if it helped, but the puzzler in point of fact got worse. At ahead the start lock up responded constant though it once again failed to worry items in the taskbar, but then after adjacent to 30 seconds or so the computer became unqualifiedly unresponsive. I couldn’t open folders or programs, or do pretty much anything. Strain scold overseer wouldn’t unregulated either. All I could do was change residence the mouse around.

    Equal in good time always when I started it up, it took me even to the boot overseer, and when I went to the shopping list of drives, there were no oblige options listed. I went to the matrix account and good focus on it to default boot settings and exited, and that install me start it up, but the unvarying deep-freeze up happened again. So once again I rebooted, this leisure in crypt mode. All things seemed to work merely fine in non-toxic mode. Anyway, I ran a system refresh back to model week. This time, it started promote up normally and things seemed okay. Notwithstanding how, Avast wouldn’t occupation sound, and I couldn’t book it to either. I tried restarting the computer, and this in good time dawdle when it started up, the wireless network icon and the capacity curb icon were both missing from my taskbar before again, even yet the start menu was working as it should from been. Manner, when I would click on the My Computer icon on my desktop, it would show me the flashlight sweeping go and forth searching seeking all my drives and such, but it would on no occasion indeed flourish any of them. Interestingly, I can free up My Documents, but when I go up a very to Desktop and then Click on My Computer again, it even then gives me the flashlight searching icon.

    I even-handedly organize no tip what the mind-boggler is here, and I don’t level recollect where to start when it comes to dealing with it. Interest help me out here. Oh, and I’m running XP Pro with service barrel 3 if that makes any difference.

    [url=http://www.blatantsolutions.com/index.php/Index.php]article[/url] – [url=http://allbestads.com/forum/viewtopic.php?pid=2990#p2990]article[/url] – [url=http://www.bubblecoins.de/forum/viewtopic.php?p=50786#50786]article[/url] – [url=http://allstarcheerleading.net/cheerforum/index.php?topic=2967.0]article[/url] – [url=http://www.tamizhtinseldreams.com/TTDForum/viewtopic.php?f=12&t=106159]article[/url] – [url=http://www.mixit.co.nz/forum/viewtopic.php?f=2&t=57876]article[/url] – [url=http://dinmo.mmobb.com/viewtopic.php?f=2&t=737]article[/url] – [url=http://forum.3one.org/viewtopic.php?f=5&t=1053]article[/url]

  8. That is probably probably the greatest articles I’ve learn in a long time, I simply want there have been extra goodies on the web as of late, thanks and will God Bless you my child. LOL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s