Kualitas Air Semakin Buruk dan Mahal

Satu siang di daerah yang bernama Tembok Bolong, Jakarta Utara, tampak seorang pria muda mendorong satu gerobak yang berisi beberapa jerigen. Setelah sampai di depan satu rumah, ia memindahkan air dalam jerigen-jerigen tersebut ke drum yang ada di kamar mandi rumah yang didatanginya.

Untuk memenuhi dua drum tersebut, ia menuangkan delapan jerigen air. Setelah penuh, ia menulis jumlah jerigan yang ia tuangkan isinya di dinding kamar mandi tersebut dengan dengan kapur tulis.

Pria muda yang mengaku bernama Kasman tersebut merupakan penjual air bersih di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Ia menjual air tersebut seharga Rp500 untuk satu jerigen. Warga yang menjadi pelanggannya membayar dia sebulan sekali. Sehingga banyaknya coretan kapur tulis menjadi dasar penagihan baginya.

“Dalam sehari biasanya satu rumah saya isi delapan jerigen,” ucap Kasman, yang mengaku berasal dari Cirebon.

Jika satu rumah dalam sehari memerlukan delapan jerigen, maka dalam satu bulan setidaknya memerlukan 240 jerigen air bersih untuk keperluan sehari-harinya. Artinya, satu keluarga harus mengeluarkan Rp120 ribu untuk membayar air bersih tersebut.

Rasdullah, warga Penjaringan merupakan salah satu dari jutaan warga Jakarta yang harus mengeluarkan uang cukup banyak untuk memperoleh air bersih. Menurutnya, setidaknya dalam satu bulan dibutuhkan Rp150 ribu untuk membeli air bersih.

“Karena jaringan pipa Perusahaan Air Minum tidak masuk ke daerah ini, maka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami membelinya,” ujar pria berkumis yang pernah mencalonkan diri jadi Gubernur Jakarta itu.

Di Indonesia, kualitas pelayanan air minum melalui jaringan pipa secara nasional mengalami penurunan. Hal tersebut terungkap dalam lokakarya pengelolaam air minum yang diselenggarakan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada 7 Maret 2006.

Agoes Widjanarko, Direktur Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum mengatakan, selain penurunan kualitas pelayanan, juga terjadi kontaminasi pada jaringan distribusi.

Menurutnya, terdapat 195 Perusahaan Daerah Air Minum di Indonesia yang memiliki utang jangka panjang yang harus dilunasi dalam jumlah besar. Sehingga memberatkan pengembangan perusahaan air minum tersebut.

Buruknya kualitas air di Indonesia ternyata menjadi lahan bisnis tersendiri bagi perusahaan-perusahaa besar. Berbagai perusahaan air minum dalam kemasan telah menguasai sumber-sumber air di berbagai daerah.

Bahkan, hari Rabu (8/3) ini, Mike Moran, warga Amerika Serikat yang menemukan teknologi air embun meluncurkan produknya di Indonesia. Teknologi air embun yang dikembangkan di Amerika Serikat itu memilih Indonesia sebagai Negara pertama untuk pengaplikasian teknologinya.

“Indonesia menjadi negara pertama yang menghasilkan air embun dari mesin yang kami kembangkan karena iklim dan kelembabannya sempurna untuk air embun dibandingkan Amerika,” ujar Mike Moran, pada peluncuran air minum Purence, di Jakarta.

Bersama Budhi Haryanto dengan bendera PT Eternair Water Indonesia, Mike membangun pabrik di Gunung Sindur, Bogor. Kapasitas produksinya mencapai 130 ribu liter per hari.

Menurut HT Pramono, Presiden Direktur PT Water Solution Indonesia yang menjadi distributor Purence, air minum itu ditujukanuntuk pasar premium. Menurutnya, konsumen kelas atas dinilainya semakin sadar pentingnya air murni untuk kesehatan, seiring buruknya kondisi air tanah di Indonesia.

“Kami akan menjualnya di tingkat eceran sebesar Rp8.750 per botol yang berisi 389 mililiter,” ujarnya.

Dalam kondisi ekonomi Indonesia yang masih lemah, ternyata warga dengan golongan ekonomi lemah harus membayar mahal untuk memperoleh air bersih. Rasdulah, yang berprofesi sebagai tukang becak harus mengeluarkan setidaknya Rp150 ribu per bulannya. Sedangkan air dengan kualitas baik, hanya akan dapat dinikmati oleh kalangan yang punya uang saja.

Data yang dilansir Departemen Kesehatan menunjukkan, sedikitnya 100 juta dari sekitar 220 juta jiwa penduduk Indonesia tidak memiliki akses untuk mendapatkan air minum sehat. Padahal air yang telah terkontaminasi merupakan penyebab utama diare.

Dengan semakin buruknya kualitas air minum di Indonesia, akan semakin banyak warga yang menurun kesehatannya. Dan semakin mahal harga air bersih, akan semakin banyak warga yang sulit memperolehnya.

3 thoughts on “Kualitas Air Semakin Buruk dan Mahal

  1. prihatin banget deh liat kondisi sekarang
    di rumahku airnya punya kadar karat yg relatif tinggi
    jadi gak bisa buat minum😦
    btw, salam kenal ya. makasih udah mampir🙂

  2. Kita sudah biasa utk menganggap mudah berbagai hal. Harusnya sumber mata air kita dilindungi oleh negara. Bukan dijual untuk dibuat kemasan. Masa perusahaan daerah air minum kalah dengan perusahaan air minum dalam kemasan.

  3. Air sebagai kebutuhan utama kehidupan. Sebenarnya harus ada kepedulian dari negara untuk melindungi. Sebagai sumber alanm yang bisa diperbaharui, pemegang ijin produk kemasan harus diwajibkan untuk biaya recovery lingkungan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s