Javlec Sahabat Petani Hutan

“Saya adalah satu bagian dari 2000 petani hutan di Gunungkidul yang menggantungkan kehidupannya dari hutan negara. Di desa kami ada kelompok tani yang mengikuti program penyehatan hutan dengan sistem tumpangsari. Tanaman pokok yang kami tanam adalah kayu Jati. Begitulah kehidupan kami,” papar Pardiastuti, petani hutan di Gunung Kidul.

Awal Januari 2005, menurut Pardiastuti, mereka diundang mengikuti Belajar Antar Petani di Jawa Timur. “Kami mendapat kesempatan bergabung dengan perwakilan Kelompok Tani Hutan se-Jawa dan bahkan dari luar Jawa,” ucapnya. Selama 10 hari mengikuti Belajar Antar Petani di Jember dan Malang, dia merasa banyak pengalaman baru. Mereka diajak berkunjung dan bertatap muka dengan Kelompok Tani Hutan yang punya kisah sukses dalam pengelolaan hutan.

Java Learning Center (Javlec) merupakan lembaga yang mengundang Pardiastuti serta puluhan petani hutan di Pulau Jawa. Javlec berdiri pada September 1999 yang diinisiasi oleh Komunitas Pendukung Penyelamatan Hutan Jawa (KPPHJ). Komunitas tersebut merupakan jaringan organisasi masyarakat yang peduli dan bekerja untuk menyelamatkan hutan Jawa.

Komunitas Pendukung Penyelamatan Hutan Jawa terdiri atas Lembaga Paramitra Malang, Lembaga Studi Ekosistem Hutan (LeSEHan) Madiun, Gita Pertiwi Surakarta, Yayasan Shorea Yogyakarta, ARUPA Yogyakarta, YBL Masta Magelang, dan POKLAN Bandung.

Heri Santoso, Direktur Javlec mengatakan lembaganya lebih mengikatkan diri pada komitmen individu atau perorangan. “Kini anggota Javlec terdiri dari 16 orang dari berbagai kalangan. Baik dari organisasi non pemerintah, organisasi rakyat, perguruan tinggi, badan usaha, maupun instansi pemerintah,” ucap Heri.

Menurutnya, Javlec menempatkan diri sebagai resource center dengan sumber daya yang menyebar di seluruh Pulau Jawa. Dalam mengemban misi untuk mencapai visinya, Javlec membangun beberapa program dalam rangka menyediakan layanan bagi para pihak yang memiliki visi dan misi yang sama. “Strategi yang dikembangkan dalam program-program Javlec antara lain analisis kebijakan, asistensi teknis, pengembangan kapasitas, pembelajaran bersama dan fasilitasi informasi,” jelas Heri.

Pardiastuti merupakan salahsatu petani hutan yang telah merasakan manfaat program pembelajaran bersama ala Javlec. “Semoga semakin banyak petani lain yang dapat merasakan proses belajar antar petani. Manfaatnya telah saya rasakan, dan saya praktekan dalam bertani di kampung sendiri,” ucap Bu Par, panggilan akrabnya.

Belajar antar petani, menurut Heri, merupakan sarana para petani hutan di Pulau Jawa untuk membangun proses komunikasi, membangun solidaritas, menumbuhkan kesadaran baru, dan merintis proses penguatan sosial di tingkat yang lebih atas. “Yang mengerti masalah hutan adalah petani hutan sendiri. Javlec hanya memberi ruang saja untuk belajar dari sesama petani dan berdialog dengan pengambil kebijkan,” imbuh Heri.

Walau hanya menjadi perantara, Javlec bagi Pardiastuti dan beberapa petani hutan di Pulau Jawa merupakan teman yang mengerti kebutuhan petani hutan.**

4 thoughts on “Javlec Sahabat Petani Hutan

  1. Petani hutan di Jawa, bisa mengandung arti memang betul-betul adalah petani hutan rakyat. Mereka menanam hutan di lahan sendiri. Serta petani hutan selaku penggarap lahan hutan milik hutan negara (tumpangsari). Yang pertama mungkin kondisinya masih lebih baik dibanding yang kedua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s