Impian Raka

SIANG itu, Selasa, 14 November 2001, studio radio Raka terkesan sepi. Sejumlah kru yang hadir memasang tampang lesu. Sri melamun sendiri. Arlett berpindah dari satu kursi ke kursi lainnya. Bagas asyik mencorat-coret kertas dengan pensilnya. Mereka kru radio tersebut.

Tiba-tiba kelompok musik anak muda dari Jakarta datang. Namanya Pixel. Mereka ingin mempromosikan album lewat radio ini.

Arlett kelihatan gusar. Ia merasa asing dengan komputer di ruang siaran. Hari itu komputer di sana menggunakan program baru.

Seminggu sebelumnya radio Raka tertimpa musibah. Semua komputer di studio tersambar petir dan rusak parah. Akibatnya, lagu-lagu yang diputar macet di tengah jalan. Komputer keburu hang. Kenyamanan pendengar terganggu.

Arlett keluar dari ruang siaran. Ia menghampiri rekan-rekannya untuk minta tolong. Namun, mereka tak ada yang paham.
“Mana Ira?” tanya Yoga Permana, bagian personalia Raka, ikut sibuk.
“Sedang keluar mas,” jawab Sri.
Ira Yoanasari datang sesaat kemudian. Ia penyiar yang telah akrab dengan program baru itu. Kursus singkat pun diberikannya. Dan siaran pun kembali berjalan.

Radio Raka menempati sebuah bangunan berlantai dua di Jalan Paria nomor 8, Bandung. Usianya baru setahun dan bermain di frekuensi 98,8 FM.

Radio ini mempunyai sejarah panjang. Pada 1969, Yanto Kustiadiardjo mendirikan radio Columbia. Sesuai dengan pelarangan penggunaan nama berbahasa asing oleh pemerintah, Columbia berganti menjadi Chandrika. Saat itu radio Chandrika menggunakan frekuensi AM 882 Khz. Namun, pada 1995 radio ini pindah ke frekuensi FM, seiring dengan perkembangan radio-radio swasta yang membidik pangsa lokal.

“Di AM juga bisa stereo, tapi pesawat radio penerimanya tak ada. Jadi percuma,” kata Edi Saputra, kepala bagian umum Raka, memberi alasan.

Dalam perjalanannya, radio Chandrika lebih akrab disebut Raka. Setahun terakhir Raka memperoleh makna baru, singkatan ‘radio kampus.’ Raka juga terkenal dengan rubrik hukumnya yang mengupas berbagai persoalan masyarakat, termasuk kasus VCD porno yang kembali populer baru-baru ini. Sekarang Raka dikelola Siswanto Kustiadiardjo, putra Yanto. Selain itu perubahan segmentasi pun terjadi.

“Persaingan Radio di Bandung memang ketat. Sehingga kalau kita tidak ingin tenggelam, ya harus berinovasi. Salah satunya inovasi Raka, ya mempertajam segmen,” kata Edi.

Enam puluh stasiun radio meramaikan jalur FM di Bandung. Segmennya pun hampir sama, menjadikan anak muda sebagai pendengar utama. Bila ingin mengatasi persaingan ini, Raka harus tampil beda. Sebuah gagasan terlintas: menjadi radio kampus. Di Bandung belum ada radio yang menjadikan mahasiswa sebagai pendengar utamanya.

“Radio Raka itu banyak memberikan informasi acara di kampus-kampus. Lalu, penyiarnya selalu ngomong hal seputar kampus. Jadi aku dengar Raka karena memang dekat dengan duniaku,” ujar Niar, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran.

Namun, ada juga yang menilai Raka belum pantas menyebut diri sebagai radio kampus di Bandung. Alasannya? Berbagai info kampus yang disiarkan Raka lebih banyak berasal dari kampus-kampus mancanegara.

“Jangan terlalu banyaklah info kampus luarnya, yang kadang tak terlalu bermanfaat bagi kita di Indonesia. Kalau Raka ingin jadi radio kampus yang sejati. Buatlah info-info seputar kampus-kampus di kota Bandung yang banyak ini,” ungkap Rachma, mahasiswa Universitas Islam Bandung.

Sebenarnya, beberapa kampus di Bandung juga memiliki radio. Institut Teknologi Bandung punya radio 8eh. Institut Agama Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung mengudarakan radio Mandala. Namun, pengelolaan yang kurang profesional dan frekuensi yang tak berizin, membuat Raka tak menganggap mereka saingan. Frekuensi mereka sering tertimpa siaran radio swasta komersial.

Raka pernah juga tertimpa siaran radio lain di beberapa tempat di Bandung. Akhirnya pihak Raka melapor pada Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI), organisasi radio swasta satu-satunya di masa Orde Baru.

“Kita menghargai mereka. Makanya kita tak langsung pada radio bersangkutan. Walau radio itu bukan anggota PRSSNI, namun alangkah enaknya kalau kita lewat organisasi saja. Dan akhirnya juga selesai,” ujar Edi.

Raka menjadi anggota PRSSNI sejak 1971. Semua anggota PRSSNI daerah Jawa Barat yang berjumlah tak kurang dari 119 bisa merelai jurnal PRSSNI daerah Jawa Barat yang berdurasi sekitar 10 menit, termasuk berita.

Dalam urusan relai-merelai, di masa sekarang ini radio-radio swasta merasakan kemerdekaan sejati. Tak ada lagi kewajiban merelai berita yang dibuat RRI.

“Saat Departemen Penerangan dilikuidasi, kita merasa senang. Jam siaran kita tak dipakai untuk kepentingan penguasa lagi. Coba saja hitung berapa kali berita yang harus kita relai setiap hari. Belum lagi kalau ada acara kenegaraan yang ujung-ujungnya ada laporan khusus. Jadi sebenarnya jam siaran kita yang sekitar 18 jam sehari, habis untuk penguasa,” ungkap Edi.

Meski hanya berkekuatan 2000 watt, Raka menjangkau kota Bandung secara merata. Bahkan, memasuki wilayah sekitarnya, seperti Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Padalarang, dan Cianjur.
Biaya operasional radio ini tiap bulan berkisar Rp 20 juta sampai Rp 30 juta. Jumlah kru 13 orang. Iklan menjadi target pemasukan andalan. Tapi, harapan tersebut baru sebatas impian. Siswanto Kustiadiardjo yang juga pengusaha garmen itu masih harus merogoh kantungnya sendiri untuk menutupi pengeluaran rutin Raka. ***

Majalah PANTAU Tahun II No.21 Januari 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s