Bekal Jurnalis di Meja Hijau

Judul Buku : Menghindari Jerat Hukum, Panduan Untuk Wartawan
Penulis : Lukas Luwarso dan Solahudin
Penerbit : South East Asia Press Alliance (SEAPA) Jakarta
Cetakan : Pertama, April 2003Dalam sebuah negara keberadaan pers merupakan satu hal yang sangat penting. Apalagi di Indonesia, yang penegak hukumnya belum mampu dipercaya seluruh masyarakat. Terkadang pers dianggap salah satu pilar penting demokrasi selain eksekutif, legislatif dan yudikatif. Sehingga sudah sepantasnya pers juga taat pada hukum yang berlaku, agar masyarakat juga percaya pada pers.

Tidak seperti pilar demokrasi lainnya yang sering bermain-main dengan hukum. Kebebasan pers yang mulai dinikmati media di Indonesia beberapa tahun ini ternyata tidak bisa membuat pers tenang dalam bekerja. Walaupun Undang-undang Pers telah melindungi, namun tak kurang dari 35 pasal di Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) masih bisa menjerat pers.

Jurnalisme adalah pekerjaan yang berbahaya dan penuh dengan resiko. Tugas menyebarkan informasi agar diketahui banyak orang mengundang resiko yang tidak kecil. Mengingat tidak semua orang senang atau setuju dengan informasi itu. Disengaja atau tidak, informasi yang disebarkan media ada kalanya menyalahi etika, bahkan melanggar hukum. Pelanggaran etika umumnya tidak berkonsekuensi pada hukuman penjara ataupun denda.

Namun, pelanggaran etika bisa pula jadi persoalan hukum, jika memang terdapat pasal-pasal hukum yang dilanggar. Dan di Indonesia, banyak pasal hukum yang bisa digunakan untuk menjerat media dan jurnalis. Namun jurnalis sering melangkahinya karena tidak tahu atau percaya diri pada Undang-undang Pers.

Jurnalis tidak perlu masuk bui, dan perusahaan media tidak perlu membayar ganti rugi yang besar jika bisa memahami parameter hukum yang bisa dihindari. Penting untuk mengetahui batas yang sebaiknya dilakukan atau tidak dilakukan. Jurnalis tidak perlu memahami hukum sebagaimana pengacara, namun perlu mengetahui di mana batas hukum yang bisa menjerat mereka.

Buku setebal 126 halaman itu memberikan penekanan pada aspek-aspek yang memungkinkan media dan jurnalis terjerat hukum. Diantaranya; liputan di pengadilan, menyerbarkan kabar bohong, mengumbar pornografi, aneka penghinaan dan gangguan. Bahkan secara khusus buku ini mengupas satu bab mengenai liputan investigatif. Karena dalam liputan investigatif, peluang seorang jurnalis dan media terjerat hukum sangat besar.

Ilustrasi dan kartun yang mendominasi buku ini membuat pembaca tidak bosan untuk melahapnya dari halaman awal hingga akhir. Hanya saja, editing buku ini tidak dilakukan secara ketat. Sehingga pembaca sedikit terganggu dengan kalimat-kalimat panjang yang dipenggal koma dimana-mana. Hal lainnya yang sangat disayangkan, tidak dibuatnya ISBN dalam penerbitan buku ini. Padahal sampul dan kertas isi yang digunakan sangat luks.

Kehadiran buku terbitan SEAPA ini sangat tepat sekali. Karena saat ini banyak sekali jurnalis dan media yang berurusan dengan aparat penegak hukum. Penegak hukum menggunakan pasal-pasal dalam KUHP tapi jurnalis dan media bersikukuh menggunakan Undang-undang Pers. Setidaknya buku ini bisa menjadi bekal bagi jurnalis dalam bekerja. Sehingga rasa was-was setelah menurukan laporannya akan berkurang karena sudah siap berargumen dengan dasar hukum KUHP dan Undang-undang Pers.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s