<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kabar dari Manusia Biasa</title>
	<atom:link href="http://asep.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://asep.wordpress.com</link>
	<description>Sarana berbagi informasi dan pengetahuan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Mar 2009 02:54:46 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/2e98d271e63713fdba336bd7e82782ae?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kabar dari Manusia Biasa</title>
		<link>http://asep.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Belajar Menulis Deskripsi</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2009/03/09/belajar-menulis-deskripsi/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2009/03/09/belajar-menulis-deskripsi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 02:54:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Penulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Deskripsi adalah satu teknik menulis menggunakan detail dengan tujuan membuat pembaca seakan-akan berada di tempat kejadian, ikut merasakan, mengalami, melihat dan mendengar mengenai satu peristiwa atau adegan. Menulis deskripsi bisa membuat karakter yang digambarkan lebih hidup gambarannya di benak pembaca.   
Contoh tulisan deskriptif: potongan tulisan berjudul “Tolong Kasihani Kami …” (Kompas, 23 Juli [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=191&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Deskripsi adalah satu teknik menulis menggunakan detail dengan tujuan membuat pembaca seakan-akan berada di tempat kejadian, ikut merasakan, mengalami, melihat dan mendengar mengenai satu peristiwa atau adegan. Menulis deskripsi bisa membuat karakter yang digambarkan lebih hidup gambarannya di benak pembaca.   <span id="more-191"></span></p>
<p>Contoh tulisan deskriptif: potongan tulisan berjudul “Tolong Kasihani Kami …” (Kompas, 23 Juli 1991)</p>
<p><strong>Tolong Kasihani Kami… </strong></p>
<p>Seandainya penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) bisa bicara mungkin yang terucap adalah kalimat judul tulisan ini. Sayangnya, bersuara pun penyu-penyu itu tidak mampu. Kita tidak tahu apa yang dirasakannya saat pisau menyayat leher dan perutnya.</p>
<p>Di Jalan Sidakarya, kawasan Sesetan Denpasar, lebih dari 20 ekor penyu hijau tergeletak di halaman, tidak bisa bergerak karena kaki depannya terikat. Hanya kepala bergerak atau matanya menyipit. Karapas yang tadinya selalu terkena air laut nampak kering. Kadang penyu-penyu itu berhari-hari kekeringan menanti datangnya ajal di ujung pisau.</p>
<p>Sore itu, salah satu di antaranya sudah diletakkan terbalik di atas alas penjagalan. Ada desih lirih yang hampir-hampir tidak terdengar. Kaki belakang penyu yang tidak diikat meronta-ronta dan matanya berkedip-kedip ketika lehernya diiris pisau. Darah segar segera menetes ke ember penampungan. Semakin lama darah semakin deras mengalir karena luka irisan semakin besar menganga. Darah mulai berhenti mengalir saat leher hampir putus.</p>
<p>Di Tanjung Benoa, Bali, tempat penjagalan penyu lainnya di Pulau Bali, penyu dijagal lebih sadis. Penyu dalam keadaan hidup ketika Sanusi, 52, mengiris sambungan lunak karapas bawah dan karapas atas. Tidak terdengar suara apa pun dari sang penyu. Yang terdengar hanya bunyi mata pisau menyayat kulit lunak. Penyu sebesar hampir satu meter itu mencoba meronta walaupun itu tentu sia-sia. Kaki depannya telah diikat jadi satu. Hanya kaki belakang dan kepalanya yang bisa bergerak-gerak.</p>
<p>Kemudian dengan paksa, karapas bawahnya dibetot sampai lepas dari tubuhnya. Nampak isi bagian dalam yang tercabik berlumur darah. Siksaan belum berakhir sampai di sini. Saat daging dan isi perutnya diambil pun nampak kepala, kaki dan ekornya masih bergerak-gerak kesakitan, sampai akhirnya dia betul-betul mati. …</p>
<p><strong>Prinsip. </strong></p>
<p>Ada tiga prinsip dalam menulis deskriptif:</p>
<p>- Dalam penulisan deskripsi ada satu clear dominant impression (kesan dominan yang jelas). Misalnya kalau kita ingin menjelaskan mengenai seekor anjing, penting kita memilih dan memberi tahu pembaca apakah anjing itu mengancam atau binatang yang jinak menyenangkan. Kita harus memilih satu kesan dominan itu, tidak bisa dua-duanya. Kesan dominan ini akan memandu kita memilih detail dan ketika disusun dalam kalimat akan menjadi jernih bagi pembaca.</p>
<p>- Penulisan deskrispi bisa obyektif atau subyektif, memberikan penulis pilihan kata, warna kata, dan suasana yang cukup luas. Misalnya, deskripsi obyektif seekor penyu akan menyebutkan fakta tinggi, berat, warna, dan lainnya. Deskripsi subyektif tetap membutuhkan rincian obyektif itu tetapi juga menekankan perasaan penulis terhadap penyu itu, dan juga kebiasaan dan personalitinya, seperti penyu tidak bisa bersuara, selalu berada di air (laut), tidak bisa melawan ketika di daratan, kondisi kesakitan.</p>
<p>- Tujuan dari penulisan deskripsi adalah melibatkan pembaca sehingga ia bisa membayangkan sesuatu yang kita deskripsikan. Karena itu penting menggunakan detail yang spesifik dan konkret.</p>
<p><strong>Aturan </strong></p>
<p>- Penulisan deskripsi bergantung pada detail konkret yang ditangkap oleh panca indra. Ingat kita memiliki lima panca indra.</p>
<p>- Penulis harus hati-hati memilih detail untuk mendukung kesan utama yang dipilih. Atau dengan kata lain, penulis memiliki wewenang untuk menyingkirkan detail yang tidak sesuai dengan kesan utama.</p>
<p>- Deskripsi sangat sering bergantung pada emosi yang ingin ditunjukkan. Karena itu kata kerja, kata keterangan kata kerja, dan kata sifat lebih bisa digunakan menunjukkan emosi dibandingkan kata benda.</p>
<p>-Kecuali deskripsi yang obyektif, kita harus yakin kesan utama yang dipilih itu membuat pembaca percaya (suatu kondisi mental yang komplek menyangkut keyakinan, rasa, nilai, dan emosi)</p>
<p><strong>Strategi </strong></p>
<p>- Pertama coba sampaikan semua detail; kemudian kesan utama dibangun dengan detail ini.</p>
<p>- Pastikan detail Anda konsisten dengan kesan utama. Untuk memudahkan catat lima panca indra dalam selembar kertas, apa yang tersensor.</p>
<p>- Coba membawa pembaca berdasarkan urutan kronologis ruang dan waktu. Misalnya, menjelaskan urut-urutan perjalanan kereta dari satu tempat ke tempat lain atau menjelaskan aliran sungai dari mata air sampai ke rumah tangga.</p>
<p>- Gunakan pendekatan dulu-sekarang-nanti untuk menunjukkan proses perubahan atau perbaikan. Misalnya keadaan hutan sebelum ditebang, keadaan sekarang.</p>
<p>- Pilih emosi dan coba deskripsikan. Mungkin lebih sulit untuk memulainya tetapi akan berarti ketika sudah jadi.  Meningkatkan kemampuan menulis deskripsi, menajamkan indera  Banyak penulis frustasi karena cerita yang mereka tulis datar-datar saja dan tidak ada elemen kehidupan. Mengapa? Cerita tidak dalam dan tidak menarik karena pembaca tidak mendapatkan gambaran situasi yang jernih. Hanya melalui penulisan deskripsi penulis bisa mentransfer gambaran situasi yang hidup (antara lain karena menimbulkan emosi) dan jernih.</p>
<p>Untuk bisa menulis deskripsi dengan baik, panca indera (penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, perabaan) penulis menjadi penting. Bagaimana penulis bisa menajamkan panca inderanya?</p>
<p><strong>Latihan </strong></p>
<p>- Penglihatan: Lihat satu obyek/benda di depan Anda sekarang ini. Lupakan kata sifat dan coba mendeskripsikan obyek/benda itu. Kalau benda itu sepotong kue, misalnya, jangan menulis “sepotong kue yang enak” (enak adalah kata sifat), tetapi deskripsikan “bentuk kuenya, warna kuenya, ukuran kuenya, di mana kue diletakkan.” Coba buang sebanyak mungkin kata sifat dalam uraian Anda, dan gunakan kata benda untuk menggambarkan obyek itu. Contoh lain: jangan menuliskan “bunga indah” tetapi tunjukkan apa yang membuat bunga itu indah.</p>
<p>- Pendengaran: Ketika Anda ingin mendeskripsikan satu adegan, misalnya ruangan kelas yang berisik, pilihlah kata-kata yang sunguh bisa menangkap situasi itu dengan memunculkan suara-suara yang terdengar.</p>
<p>- Penciuman: Kesan dari indera penciuman sangat lama tersimpan di dalam benak daripada penglihatan atau suara. Kesan bau-bauan disimpan di otak terasosiasi dengan orang, benda, dan suasana ketika bau-bauan itu tercium. Di otak semua orang tersimpan berbagai pengalaman melalui indera penciuman yang diasosiasikan dengan tempat atau peristiwa dengan seseorang yang berbeda-beda.</p>
<p>Pengalaman ini sangat khas. Coba buat list bau-bauan dan asosiasinya. Misalnya, ketika mencium bau soto betawi mengingatkan Anda pada suasana rumah orangtua Anda. Seperti juga ketika mencoba mendeskripsikan berkait dengan apa yang Anda lihat, mendeskripsikan yang terkait dengan indera penciuman sulit karena sebenarnya Anda (di otak) tahu seperti apa bau-bauan yang ingin Anda deskripsikan tetapi sulit menjelaskannya.</p>
<p>Beberapa orang memiliki pengalaman yang sama menyangkut bau-bauan tertentu, misalnya kebanyakan orang tahu bau bunga melati. Ketika Anda bercerita mengenai perceraian, “Nina melangkahkan kakinya ke kebun penuh bunga. Harum melati membuatnya menjadi sedih. Harum bunga melati mengingatkannya pada suaminya yang masih dicintainya. Mengingatkannya pada hari bahagia ketika ia dan suami bersanding di pelaminan.”</p>
<p>- Pengecap: Cara paling mudah mendeskripsikan rasa ecap adalah dengan mengecap obyek yang akan dideskripsikan. Latihan: coba rasakan kue, kemudian deskripsikan.</p>
<p>- Perabaan: Tangan memilki indera peraba yang memberikan kesan tekstur di otak. Latihan: coba deskripsikan bola tenis.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/191/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=191&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2009/03/09/belajar-menulis-deskripsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Panduan Penulisan Mata Uang dan Angka</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2009/02/22/panduan-penulisan-mata-uang-dan-angka/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2009/02/22/panduan-penulisan-mata-uang-dan-angka/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2009 02:32:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Klub Tulis]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Penulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini panduan penulisan mata uang dan angka yang Jaringan Berita Pena Indonesia (JBPI) gunakan. Mungkin ada gunanya buat Anda yang kerap bingung menulis mata uang dan angka.
Panduan Penulisan Mata Uang dan Angka
Satuan uang asing (dolar AS mungkin bisa dikecualikan) harus dikonversi ke rupiah. Nama mata uang selalu ditulis dengan huruf kecil, kecuali di awal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=189&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Berikut ini panduan penulisan mata uang dan angka yang Jaringan Berita Pena Indonesia (JBPI) gunakan. Mungkin ada gunanya buat Anda yang kerap bingung menulis mata uang dan angka.</em><span id="more-189"></span></p>
<p><strong>Panduan Penulisan Mata Uang dan Angka</strong></p>
<p>Satuan uang asing (dolar AS mungkin bisa dikecualikan) harus dikonversi ke rupiah. Nama mata uang selalu ditulis dengan huruf kecil, kecuali di awal kalimat.</p>
<p>Contoh:<br />
Nilai tukar rupiah terhadap dolar selalu merosot.<br />
Saya kekurangan koleksi uang baht dan mark Jerman.</p>
<p>Kecuali dolar (aslinya dollar), nama mata uang selalu ditulis bentuk aslinya dan tidak ditulis miring. Misalnya: Mata uang Prancis adalah franc. Mata uang Ekuador adalah sucre. Mata uang Inggris adalah poundsterling.</p>
<p>Jumlah rupiah yang tertentu ditulis dengan lambang &#8220;Rp&#8221;, tanpa tanda titik. misalnya: Rp 151.350 (bukan Rp.151.350,00)<br />
Jumlah dolar ditulis dengan tanda: Contoh: US$ 1.523 (bukan 1.523 dolar AS) S$ 2.150 (bukan 2.150 dolar Singapura) A$ 3.250 (bukan 3.250 dolar Australia)</p>
<p>Jumlah setengah yang tidak menunjukkan lima persepuluh tidak ditulis dengan angka 0,5. Contoh: bukan 3,5 jam, tapi 3 jam 30 menit; 3.30 menit; 90 menit, atau tiga setengah jam. bukan 7,5 tahun, tapi 7 tahun 6 bulan; 90 bulan, atau tujuh setengah tahun.</p>
<p>Jumlah angka bulat juta, miliar, triliun ditulis dengan huruf. Misalnya: Ibu memberi uang saku Rp 2 juta (bukan Rp 2.000.000).<br />
Penduduk dunia tahun 2020 diperkirakan 5 miliar (bukan 5.000.000.000) orang.</p>
<p>Dengan alasan agar gampang dibaca, jumlah satu ribu sampai sembilan ribu masih ditulis dengan angka. Misalnya: Rp 1.000 bukan: Rp 1 ribu US$ 2.000 bukan: US$ 2 ribu 3.000 yen bukan: 3 ribu yen naik 1.000 persen bukan: naik 1 ribu persen menampung 2.000 orang bukan: menampung 2 ribu orang mengimpor 3.000 ton jagung bukan: mengimpor 3 ribu ton</p>
<p>Untuk jumlah sepuluh ribu ke atas, angka ribunya ditulis dengan huruf. Contoh: Rp 10 ribu bukan: Rp 10.000 A$ 352 ribu bukan: A$ 352.000 125 ribu yen bukan: 125.000 yen jarak 10 ribu kilometer bukan: jarak 10.000 kilometer menampung 20 ribu orang bukan: menampung 20.000 orang mengimpor 13 ribu ton bukan: mengimpor 13.000 ton</p>
<p>Catatan: Untuk angka sepuluh, seratus, seribu, sejuta bisa ditulis fleksibel, misalnya: Jangankan seratus tahun, seribu tahun pun saya akan setia menunggumu. Sayang, sejuta bintang di langit tak bisa menandingi kemilau wajahmu.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/189/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=189&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2009/02/22/panduan-penulisan-mata-uang-dan-angka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Laut Mereka Memanen Rumput</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2009/02/12/di-laut-mereka-memanen-rumput/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2009/02/12/di-laut-mereka-memanen-rumput/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 23:13:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[pulau buton]]></category>
		<category><![CDATA[rumput laut]]></category>
		<category><![CDATA[sulawesi tenggara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[
Jalesveva jayamahe, di laut kita jaya. Dan harusnya, kejayaan juga menyangkut kesejahteraan jiwa dan raga penduduk yang tercukupi kebutuhan pangan, sandang, papan, dan pendidikan pada seluruh pulau di Nusantara. 
Robo, warga Desa Selmona, Kepulauan Aru (Provinsi Maluku), kini mampu mengepulkan asap dapurnya sepanjang tahun tanpa berutang. Itu salah satunya berkat pemasukan dari usaha pembudidayaan rumput [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=183&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em></em></p>
<div id="attachment_185" class="wp-caption alignleft" style="width: 227px"><em><em><img class="size-medium wp-image-185" title="rumput-laut-karyajaya-buton11" src="http://asep.files.wordpress.com/2009/02/rumput-laut-karyajaya-buton11.jpg?w=217&#038;h=290" alt="Warga Karya Jaya, Pulau Buton Sulawesi Tenggara mengepulkan asap dapurnya dari budidaya rumput laut. " width="217" height="290" /></em></em><p class="wp-caption-text">Warga Karya Jaya, Pulau Buton Sulawesi Tenggara mengepulkan asap dapurnya dari budidaya rumput laut. </p></div>
<p><em>Jalesveva jayamahe, di laut kita jaya. Dan harusnya, kejayaan juga menyangkut kesejahteraan jiwa dan raga penduduk yang tercukupi kebutuhan pangan, sandang, papan, dan pendidikan pada seluruh pulau di Nusantara. </em></p>
<p>Robo, warga Desa Selmona, Kepulauan Aru (Provinsi Maluku), kini mampu mengepulkan asap dapurnya sepanjang tahun tanpa berutang. Itu salah satunya berkat pemasukan dari usaha pembudidayaan rumput laut.</p>
<p>Bagi penduduk kepulauan seperti Robo dan para warga Desa Selmona lain yang dikaruniai lahan berupa laut nan luas, budidaya rumput laut merupakan kegiatan yang sangat menjanjikan.  <span id="more-183"></span></p>
<p>“Selmona kini semakin hidup karena rumput laut,” katan Robo. “Kami sudah tidak sulit makan dan dapat membiayai sekolah anak di kota.”</p>
<p>Budidaya rumput telah memberi jalan keluar bagi warga Selmona dari belitan masalah ekonomi. Warga tekun menggeluti budidaya rumput laut sejak awal. Kegiatan ini makin berkembang dengan dorongan Yayasan Sitakena untuk menumbuhkan peluang hidup lebih baik bagi warga.</p>
<p>Mereka datang mendukung warga untuk melihat potensi desa yang dapat dikembangkan dengan beradaptasi pada iklim yang berubah. Dan solusi yang mereka pilih adalah mengajak warga membudidayakan rumput laut.</p>
<p><strong>Ladang rumput laut di Buton</strong><br />
Meningkatnya kualitas hidup Robo dan warga Desa Salmona di Kepulauan Aru juga dinikmati Tahinuddin di Desa Sulaa, Pulau Buton (Provinsi Sulawesi Tenggara).</p>
<p>Pada 2006, Tahinuddin bersama tujuh orang temannya yang membudidayakan rumput laut membentuk kelompok pengelola budidaya rumput laut bernama Sabar Menanti. Jaringan Pengembangan Kawasan Pesisir (JPKP) Buton, sebuah lembaga sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Pulau Buton membantu kelompok tersebut.</p>
<p>Pada saat panen rumput laut pertama kali, Tahinuddin memperoleh 1,2 ton rumput laut kering. Pada saat itu harga di Bau-Bau, kota utama di Pulau Buton, mencapai Rp 4.900 per kilogram. Sehingga, pada panen pertama itu Tahinuddin mendapatkan hasil sebesar Rp 5.880.000, dari modal awal sekitar Rp 2 juta.</p>
<p>“Pada 2007, saya sisihkan hasil penjualan untuk menambah modal. Dengan modal Rp 3,5 juta, hasil panen berikutnya dapat 2,1 ton,” kata Tahinuddin. “Harga jual saat itu mencapai Rp 6.200 per kilogram, jadi saya bisa mendapat uang Rp 13.020.000.”</p>
<p>Persoalan penduduk pulau kecil warga yang tinggal di kawasan pesisir pantai biasanya dikenal sebagai nelayan penangkap ikan. Tapi mahalnya biaya untuk melaut karena naiknya harga bahan bakar membuat sebagian besar nelayan tidak bisa pergi mencari ikan.</p>
<p>Iklim yang berubah tak menentu juga membuat bingung nelayan menentukan waktu yang tepat melaut. Perubahan iklim membuat nelayan miskin yang menggunakan perahu kecil tak mau mengambil resiko berhadapan dengan ombak besar yang bisa datang kapan saja tanpa bisa diterka.</p>
<p>Nelayan di Pulau Jawa pada saat berhenti melaut masih memiliki pilihan pekerjaan lain, terutama menjadi pekerja kasar pada berbagai sektor. Tapi bagi nelayan yang tinggal di pulau-pulau kecil dan terpencil yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara, tak ada pilihan lain.</p>
<p>Ombak besar yang mengepung tempat tinggalnya dan siap menelan apa saja memaksa nelayan di pulau-pulau kecil tak melaut karena resikonya terlalu mahal. Artinya, berbeda dengan nelayan di Pulau Jawa yang masih punya pilihan pekerjaan alternatif, para nelayan di pulau-pulau terpencil kehilangan pekerjaan sama sekali pada saat ombak tinggi.</p>
<p>Warga di Kabupaten Kepulauan Aru merupakan salah satu komunitas yang tidak bisa memperoleh pendapatan sepanjang tahun karena terpencil dan berubahnya iklim itu.</p>
<p>Desa-desa yang berada di pulau-pulau yang menjadi gugusan Kepulauan Aru, untuk menuju Dobo, ibukota kabupaten itu harus menggunakan perahu dengan menyusuri lautan hingga beberapa jam. Misalnya warga Desa Selmona yang posisinya di utara Kepulauan Aru, membutuhkan waktu hingga tujuh jam dengan perahu bermesin diesel ganda untuk mencapai Dobo.</p>
<p><strong>Titik terang</strong></p>
<div id="attachment_187" class="wp-caption alignright" style="width: 388px"><img class="size-full wp-image-187" title="rumput-laut-aru" src="http://asep.files.wordpress.com/2009/02/rumput-laut-aru.jpg?w=378&#038;h=288" alt="Rumput laut juga memberi berkah bagi warga Selmona, sebuah desa terpencil di Kepulauan Aru, Maluku." width="378" height="288" /><p class="wp-caption-text">Rumput laut juga memberi berkah bagi warga Selmona, sebuah desa terpencil di Kepulauan Aru, Maluku.</p></div>
<p>Berhasilnya budidaya rumput laut yang dilakukan kelompok Sabar Menanti di Buton, kata Asman, pegiat JPKP, karena rajin merawat dan punya semangat untuk hidupnya berubah menjadi lebih baik.</p>
<p>“Dengan berkelompok mereka saling belajar bagaimana merawat rumput laut yang baik. Hasilnya sangat luar biasa. November 2008, Tahinuddin mampu menghasilkan 3 ton dengan harga jual mencapai Rp 32 juta,” papar Asman.</p>
<p>Sejak Januari 2008, Tahinudin bersama anggota kelompok Sabar Menanti lainnya mulai melakukan pengembangan usaha. Selain membudidayakan rumput laut, mereka juga melakukan pembibitan rumput laut. Mereka merasakan kegiatan ini sebagai peluang usaha yang menjanjikan.</p>
<p>“Dengan makin banyaknya orang yang membudidayakan rumput laut, kian banyak pula permintaan akan bibit rumput laut yang baik,” kata Tahinuddin.</p>
<p>Pembibitan rumput laut perlu waktu lebih singkat antara Januari hingga Mei sepanjang tahunnya. “Kami menyesuaikan waktu pembibitan dengan waktu penanaman rumput laut oleh kawan-kawan pembudidaya di Pulau Buton dan sekitarnya,” lanjut Asman.</p>
<p>Penjualan bibit rumput laut oleh kelompok Sabar Menanti ini mampu mencapai 360 ikat. Dengan harga jual untuk satu ikat mencapai Rp 50 ribu, mereka memperoleh pendapatan hingga Rp 18 juta dalam satu periode pembibitan.</p>
<p>Kelompok Sabar Menanti membuat pembibitan rumput laut di Desa Wantopi, Buton. Dari situ mereka memasarkan bibit tersebut di kota Bau-bau dan Kabupaten Buton.  Dengan membudidayakan rumput laut yang digelutinya sejak tiga tahun ini, Tahinuddin dan anggota kelompok Sabar Menanti, Desa Sulaa itu hidup kian sejahtera.</p>
<p>“Dari hasil rumput laut, saya bisa membeli perahu bermotor untuk merawat rumput laut dan sepeda motor untuk di darat,” katanya.***</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/183/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=183&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2009/02/12/di-laut-mereka-memanen-rumput/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asep.files.wordpress.com/2009/02/rumput-laut-karyajaya-buton11.jpg?w=224" medium="image">
			<media:title type="html">rumput-laut-karyajaya-buton11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asep.files.wordpress.com/2009/02/rumput-laut-aru.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rumput-laut-aru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menumbuhkan Peluang pada Iklim yang Berubah</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2008/12/17/menumbuhkan-peluang-pada-iklim-yang-berubah/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2008/12/17/menumbuhkan-peluang-pada-iklim-yang-berubah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Dec 2008 02:36:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[oxfam GB]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[pesisir]]></category>
		<category><![CDATA[pulau terpencil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Kepulauan Aru di Maluku sangat kayan dengan sumber daya lautnya. Hanya dengan memancing semalam, warga Marlasi, Aru Utara ini mampu mendapat sepikulan ikan segar. <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=173&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="wp-caption alignleft" style="width: 363px"><img title="Petani Sayur Tanimbar" src="http://farm4.static.flickr.com/3220/3115038586_7b41c5a889.jpg?v=0" alt="Vitalis, warga Bomaki, Kepulauan Tanimbar, Maluku menghidupi keluarganya dari bertani sayuran." width="353" height="500" /><p class="wp-caption-text">Vitalis, warga Bomaki, Kepulauan Tanimbar, Maluku menghidupi keluarganya dari bertani sayuran.</p></div>
<p>Perubahan iklim sangat berbahaya bagi masyarakat miskin dan masyarat pesisir di berbagai belahan dunia. Begitu juga denbgan masyarakat di Indonesia yang terdiri atas jutaan pulau-pulau. Pada pulau-pulau terpencil, perubahan iklim sangat terasa dampaknya. Hujan yang tak tentu datangnya membuat mereka mengalami kerawanan pangan. Untuk memperoleh hasil laut terhadang ombak besar. Dan untuk bercocok tanam tergantung guyuran hujan. <span id="more-173"></span></p>
<p>Kehidupan petani di Kepulauan Tanimbar, misalnya. Petani miskin di sana mengatakan bahwa saat ini ada masalah dalam pertanian. Mereka mengeluh bahwa masa tanam sekarang hanya sekali setahun. Masalahnya mereka tidak bisa memprediksi curah hujan. Sehingga tidak tahu kapan saatnya menanam dan kapan saatnya panen.</p>
<p>Agar petani dapat mejalani hidupnya sepanjang tahun dalam perubahan iklim ini mereka harus diajak beradaptasi. “Oxfam GB berupaya melangkah untuk menumbuhkan peluang masyarakat miskin di pulau terpencil menyiasati perubahan iklim,” kata Aloysius Suratin, Manajer Program Building Opportunities, Oxfam GB Kantor Makassar.</p>
<p>Secara sederhana, Oxfam GB berupaya agar masyarakat disana dapat memenuhi hidupnya sepanjang tahun dengan menyesuaikan kondisi musim. Sebagai model, Oxfam GB membuat program “Menumbuhkan Peluang” itu di Pulau Tunda Banten, Pulau Buton dan Muna Sulawesi Tenggara, serta Kepulauan Tanimbar dan Kepulauan Aru di Maluku.<img class="alignright" title="aloy" src="http://farm4.static.flickr.com/3274/3114260489_3a225d811e.jpg?v=0" alt="" width="329" height="212" /></p>
<p>Dipilihnya pulau-pulau itu karena letaknya yang sangat terpencil dan perubahan iklim dampaknya sangat terasa langsung. Sebagian besar warga di sana hidup di pesisir pantai yang lautnya sangat dipengaruhi iklim. “Dulu musim itu dapat diprediksi, sehingga masyarakat akan tahu kapan hujan dan kapan kemarau. Tapi dengan pemanasan global, iklim menjadi berubah tak tentu waktunya,” imbuh Aloy, panggilan akrabnya.</p>
<p>Tak tentunya musim itu berakibat pada pemenuhan kebutuhan masyarakat di pulau-pulau terpencil itu. Selama ini, untuk menyambung hidup mereka mengandalkan sumber daya yang ada di laut. Tapi dengan perubahan iklim yang tidak menentu, waktu melaut mereka juga kina tak menentu. Pasalnya musim gelombang ombak yang besar dapat datang tiba-tiba. Tentunya mereka tidak bisa melaut jika gelombang ombak besar datang. Karena selama ini mereka hanya menggunakan perahu dayung kecil yang tak mampu menerjang ombak besar.</p>
<p>“Jika tidak melaut, sudah pasti mereka tidak dapat memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan saja yang erat kaitannya dengan kesehatan dan kelangsungan hidup mereka tidak mampu,” kata Wahyu Irianto, Program Officer Building Opportunities Oxfam GB Makassar.</p>
<p>Oxfam GB datang ke pulau-pulau terpencil itu untuk membangun peluang baru bagi masyarakat disana agar mampu memenuhi kebutuhan pangannya sepanjang tahun. Dalam musim ombak tenang mereka bisa memperoleh hasil laut, dan pada musim ombak besar mereka dapat memanfaatkan hasil alam di darat serta tabungan dari hasil melaut.</p>
<p>Agar program dapat berjalan dengan baik dan efektif, Oxfam GB dengan dukungan Komisi Eropa, menggandeng lembaga swadaya masyarakat lokal di lokasi program. Jaringan Pengembangan Kawasan Pesisir (JPKP) Buton bekerja di Pulau Buton dan Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Yayasan Sor Silai bekerja di Kepulauan Tanimbar, Maluku. Dan Yayasan Sitakena bekerja di Kepulauan Aru, Maluku.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 319px"><img title="Kepulauan Aru Masih Kaya Hasil Lautnya" src="http://farm4.static.flickr.com/3096/3115090540_709f9f8ec3.jpg?v=0" alt="Kepulauan Aru di Maluku sangat kayan dengan sumber daya lautnya. Hanya dengan memancing semalam, warga Marlasi, Aru Utara ini mampu mendapat sepikulan ikan segar. " width="309" height="221" /><p class="wp-caption-text">Kepulauan Aru di Maluku sangat kayan dengan sumber daya lautnya. Hanya dengan memancing semalam, warga Marlasi, Aru Utara ini mampu mendapat sepikulan ikan segar. </p></div>
<p>Agar masyarakat di pulau-pulau terpencil itu mampu beradaptasi dengan iklim yang tak menentu itu, Oxfam GB memberikan bantuan pelatihan dan modal kerja. “Tahap pertama yang dilakukan adalah membangun kelompok-kelompok masyarakat. Kelompok itu disesuaikan dengan karakter masing-masing tempat,” kata Aloy.</p>
<p>Ada kelompok penangkap ikan, pengolahan hasil ikan, budidaya rumput laut, pertanian, peternakan, penjual ikan, dan penjual kue. “Selain itu kami juga mendorong kelompok-kelompok itu membuat koperasi,” imbuh Aloy.</p>
<p>Dengan adanya koperasi, diharapkan masyarakat dapat menabung dan mengelola keuangan dengan produktif. “Selain itu agar mampu lepas dari jeratan utang rentenir,” timpal Yustina Ike Christanti, Program Officer Building Opportunities Oxfam GB Makassar.</p>
<p>Setelah kelompok itu kuat, berbagai pelatihan diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Pelatihan budidaya, pengolahan hasil, dan pengetahuan akses pasar diberikan kepada kelompok-kelompok tersebut,” kata Asman, pegiat JPKP Buton.</p>
<p>Dengan berbagai pelatihan itu, sambung Asman, masyarakat dapat memperoleh informasi dan motivasi untuk mandiri. “Yang sangat sulit adalah proses pendampingannya. Kalau tidak terus dimotivasi secara rutin, mereka suka berpuas diri dengan yang didapat dan jelek dalam pengelolaan keuangan,” imbuhnya.</p>
<p>Hal senada disampaikan Felix, Direktur Yayasan Sor Silai Tanimbar. Menurutnya, jika pendampingan tidak rutin dilakukan, masyarakat suka cepat berpuas diri. “Yang berat adalah memotivasi mereka untuk berpikiran maju. Karena lokasi desa dampingan yang jauh, sangat menyulitkan pendampingan secara sering,” kata Felix.</p>
<p>Bagi Oxfam GB, pangan merupakan hak setiap warga negara yang harus dipenuhi negara. “Tapi hingga kini baru dianggap sebagai komoditi. Sehingga orang miskin sangat sulit memperolehnya,” kata Ike, panggilan Yustina.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img title="Menuju Keluarga Sejahtera di Pulau Terpencil" src="http://farm4.static.flickr.com/3186/3115796300_3569d8a3f0.jpg?v=0" alt="Keluarga di Kepulauan Tanimbar ini kehidupannya sangat dipengaruhi alam. Saat angin barat tiba yang membuat ombak di laut tinggi, mereka tidak dapat mencari nafkah di laut. Dengan belajar berkebun, mereka dapat hidup sepanjang tahun dengan mengikuti siklus musim." width="500" height="259" /><p class="wp-caption-text">Keluarga di Kepulauan Tanimbar ini kehidupannya sangat dipengaruhi alam. Saat angin barat tiba yang membuat ombak di laut tinggi, mereka tidak dapat mencari nafkah di laut. Dengan belajar berkebun, mereka dapat hidup sepanjang tahun dengan mengikuti siklus musim.</p></div>
<p>Masalah lainnya, sambung Ike, adanya politisasi nasi pada masa lalu. “Dulu semua warga Indonesia diajarkan bahwa yang namanya pangan yang utama adalah nasi. Ini sekarang menjadi masalah serius bagi masyarakat di pulau-pulau terpencil yan g tidak mengenal menanam padi,” katanya.</p>
<p>Dengan mengutamakan nasi sebagai pangan, masyarakat pesisir sangat tergantung pada pasokan beras dari luar. Dan karena ongkos kirim yang mahal, harga beras disana juga menjadi sangat mahal.</p>
<p>“Perubahan iklim dan ketergantungan pangan dari luar menjadi faktor penyebab kerentanan pangan terjadi di pulau-pulau terpencil,” tutur Aloy.</p>
<p>Program Building Opportunities yang digelar Oxfam GB dengan mitra-mitranya atas dukungan Komisi Eropa ini bertujuan melepaskan masyarakat di pulau terpencil lepas dari kerentanan pangan. “Jika masyarakat mampu beradaptasi pada perubahan iklim dengan ketrampilannya, tentu mereka akan dapat memenuhi kebutuhan pangannya,” pungkas Aloy.***</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/173/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=173&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2008/12/17/menumbuhkan-peluang-pada-iklim-yang-berubah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm4.static.flickr.com/3220/3115038586_7b41c5a889.jpg?v=0" medium="image">
			<media:title type="html">Petani Sayur Tanimbar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm4.static.flickr.com/3274/3114260489_3a225d811e.jpg?v=0" medium="image">
			<media:title type="html">aloy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm4.static.flickr.com/3096/3115090540_709f9f8ec3.jpg?v=0" medium="image">
			<media:title type="html">Kepulauan Aru Masih Kaya Hasil Lautnya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm4.static.flickr.com/3186/3115796300_3569d8a3f0.jpg?v=0" medium="image">
			<media:title type="html">Menuju Keluarga Sejahtera di Pulau Terpencil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Seribu Pulau</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2008/12/12/perjalanan-seribu-pulau/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2008/12/12/perjalanan-seribu-pulau/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 07:53:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[kawasan timur indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pesisir]]></category>
		<category><![CDATA[pulau terpencil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[November hingga Desember 2008 ini, saya melakukan perjalanan ke pulau-pulau di kawasan Indonesia Timur. Pulau Buton, Pulau Muna, Kepulauan Tanimbar, dan Kepulauan Aru yang saya kunjungi. Untuk mengunjungi pulau-pulau tersebut saya singgah di Makassar, Kendari, dan Ambon. Senangnya bisa bersua dengan teman-teman lama di kota-kota tersebut.
Saat catatan ini saya tulis 19 November 2008, sedang di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=169&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignright" src="http://farm4.static.flickr.com/3043/3114960991_cde99b1248.jpg?v=0" alt="" width="257" height="194" />November hingga Desember 2008 ini, saya melakukan perjalanan ke pulau-pulau di kawasan Indonesia Timur. Pulau Buton, Pulau Muna, Kepulauan Tanimbar, dan Kepulauan Aru yang saya kunjungi. Untuk mengunjungi pulau-pulau tersebut saya singgah di Makassar, Kendari, dan Ambon. Senangnya bisa bersua dengan teman-teman lama di kota-kota tersebut.<span id="more-169"></span></p>
<p>Saat catatan ini saya tulis 19 November 2008, sedang di Bandara Pattimura, Ambon. Menikmati akses internet lelet sambil menunggu pesawat Trigana yang akan membawa saya ke Saumlaki, ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB). Di Saumlaki, saya akan mengunjungi beberapa desa di Kepulauan Tanimbar.</p>
<p>Dari Saumlaki di Kepulauan Tanimbar, saya akan menuju Kepulauan Aru. Entah lewat laut atau udara. Tergantung moda transportasi yang akan saya dapatkan nanti.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 399px"><img title="Ferry, Transportasi Utama di Maluku Tenggara" src="http://farm4.static.flickr.com/3096/3115796634_dfdf3ec417.jpg?v=0" alt="" width="389" height="244" /><p class="wp-caption-text">Maluku Tenggara terdiri atas gugusan pulau-pulau. Tanimbar, Kei, dan Aru terdapat di Maluku Tenggara. Untuk menghubungkannya, satu ferry KMP Kormomolin menyusurinya untuk mengantar orang, barang dan hewan.   </p></div>
<p>Baru Pulau Buton dan Pulau Muna yang saya telah kunjungi. Banyak cerita menarik dan berbagai kearifan lokal warga di sana dalam menjalani hidup. Kehidupan di pulau-pulau itu sangat tergantung dengan alam. Saat memasuki musim angin barat yang menimbulkan ombak di laut besar, pendapatan mereka menurun. Bahkan banyak juga yang tidak dapat memperoleh pendapatan sama sekali, karena tak bisa melaut.</p>
<p>Sampai jumpa dengan cerita-cerita saya nanti usai perjalanan ini.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/169/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=169&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2008/12/12/perjalanan-seribu-pulau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm4.static.flickr.com/3043/3114960991_cde99b1248.jpg?v=0" medium="image" />

		<media:content url="http://farm4.static.flickr.com/3096/3115796634_dfdf3ec417.jpg?v=0" medium="image">
			<media:title type="html">Ferry, Transportasi Utama di Maluku Tenggara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tips Menulis :: Beberapa Jenis Lead/Teras Berita</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2008/11/08/tips-menulis-beberapa-jenis-leadteras-berita/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2008/11/08/tips-menulis-beberapa-jenis-leadteras-berita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Nov 2008 05:43:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Klub Tulis]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[teknik menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Lead Ringkasan
Lead ini hampir sama saja dengan berita biasa, yang ditulis adalah inti ceritanya. Banyak penulis feature menulis lead gaya ini karena gampang.
Misal:
Walaupun dengan tangan buntung, Pak Saleh sama sekali tak merasa rendah diri bekerja sebagai tukang parkir di depan kampus itu. Dan seterusnya&#8230;.
Pembaca sudah bisa menebak, yang mau ditulis adalah tukang parkir bernama Pak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=166&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Lead Ringkasan</strong><br />
Lead ini hampir sama saja dengan berita biasa, yang ditulis adalah inti ceritanya. Banyak penulis feature menulis lead gaya ini karena gampang.</p>
<p><strong>Misal:<br />
Walaupun dengan tangan buntung, Pak Saleh sama sekali tak merasa rendah diri bekerja sebagai tukang parkir di depan kampus itu. Dan seterusnya&#8230;.<span id="more-166"></span></strong></p>
<p>Pembaca sudah bisa menebak, yang mau ditulis adalah tukang parkir bernama Pak Saleh yang cacat. Yang berminat bisa meneruskan membaca, yang tak berminat &#8212; apalagi sebelumnya tak ada berita tentang Pak Saleh itu &#8212; bisa melewatkan begitu saja.</p>
<p><strong>Lead Bercerita<br />
</strong>Lead ini menciptakan suatu suasana dan membenamkan pembaca seperti ikut jadi tokohnya.</p>
<p><strong>Misal:<br />
Anggota Reserse itu melihat dengan tajam ke arah senjata lelaki di depannya. Secepat kilat ia meloncat ke samping dan mendepak senjata lawannya sambil menembakkan pistolnya. Dor&#8230; Preman itu tergeletak sementara banyak orang tercengang ketakutan menyaksikan adegan yang sekejap itu &#8230;..<br />
</strong><br />
Pembaca masih bertanya apa yang terjadi. Padahal feature itu bercerita tentang operasi pembersihan preman-preman yang selama ini mengacau lingkungan pemukiman itu.</p>
<p><strong>Lead Deskriptif<br />
</strong>Lead ini menceritakan gambaran dalam pembaca tentang suatu tokoh atau suatu kejadian. Biasanya disenangi oleh penulis yang hendak menulis profil seseorang.</p>
<p><strong>Misal:<br />
Keringat mengucur di muka lelaki tua yang tangannya buntung itu, sementara pemilik kendaraan merelakan uang kembalinya yang hanya dua ratus rupiah. Namun lelaki itu tetap saja merogoh saku dengan tangan kirinya yang normal, mengambil dua koin ratusan. Pak Saleh, tukang parkir yang bertangan sebelah itu, tak ingin dikasihani &#8230;..<br />
dst&#8230;.<br />
</strong><br />
Pembaca mudah terhanyut oleh lead begini, apalagi penulisnya ingin membuat kisah Pak Saleh yang penuh warna.</p>
<p><strong>Lead Kutipan<br />
</strong>Lead ini bisa menarik jika kutipannya harus memusatkan diri pada inti cerita berikutnya. Dan tidak klise.</p>
<p><strong>Misal:<br />
&#8220;Saya lebih baik tetap tinggal di penjara, dibandingkan bebas dengan pengampunan. Apanya yang diampuni, saya kan tak pernah bersalah,&#8221; kata Sri Bintang Pamungkas ketika akan dibebaskan dari LP Cipinang. Walau begitu, Sri Bintang toh mau juga keluar penjara dijemput anak istri&#8230;.<br />
dan seterusnya.<br />
</strong><br />
Pembaca kemudian digiring pada kasus pembebasan tapol sebagai tekad pemerintahan yang baru. Hati-hati dengan kutipan klise.</p>
<p><strong>Misal:<br />
&#8220;Pembangunan itu perlu untuk mensejahterakan rakyat dan hasilhasilnya sudah kita lihat bersama,&#8221; kata Menteri X di depan masa yang melimpah ruah.<br />
</strong><br />
Pembaca sulit terpikat padahal bisa jadi yang mau ditulis adalah sebuah feature tentang keterlibatan masyarakat dalam pembangunan yang agak unik.</p>
<p><strong>Lead Pertanyaan<br />
</strong>Lead ini menantang rasa ingin tahu pembaca, asal dipergunakan dengan tepat dan pertanyaannya wajar saja. Lead begini sebaiknya satu alinea dan satu kalimat, dan kalimat berikutnya sudah alinea baru.</p>
<p><strong>Misal:<br />
Untuk apa mahasiswa dilatih jurnalistik?Memang ada yang sinis dengan Pekan Jurnalistik Mahasiswa yang diadakan ini. Soalnya, penerbitan pers di kampus ini tak bisa lagi mengikuti kaidah-kaidah jurnalistik karena terlalu banyaknya batasan-batasan dan larangan &#8230;.<br />
dst&#8230;.<br />
</strong><br />
Pembaca kemudian disuguhi feature soal bagaimana kehidupan pers kampus di sebuah perguruan tinggi.</p>
<p><strong>Lead Menuding<br />
</strong>Lead ini berusaha berkomunikasi langsung dengan pembaca dan ciri-cirinya adalah ada kata &#8220;Anda&#8221; atau &#8220;Saudara&#8221;. Pembaca sengaja dibawa untuk menjadi bagian cerita, walau pembaca itu tidak terlibat pada persoalan.</p>
<p><strong>Misal:<br />
Saudara mengira sudah menjadi orang yang baik di negeri ini. Padahal, belum tentu. Pernahkah Saudara menggunakan jembatan penyeberangan kalau melintas di jalan? Pernahkah Saudara naik ke bus kota dari pintu depan dan tertib keluar dari pintu belakang? Mungkin tak pernah sama sekali. Saudara tergolong punya disiplin yang, maaf, sangat kurang. Dst&#8230;.</strong></p>
<p><strong></strong>Pembaca masih penasaran feature ini mau bicara apa. Ternyata yang disoroti adalah kampanye disiplin nasional.</p>
<p><strong>Lead Penggoda<br />
</strong>Lead ini hanya sekadar menggoda dengan sedikit bergurau. Tujuannya untuk menggaet pembaca agar secara tidak sadar dijebak ke baris berikutnya. Lead ini juga tidak memberi tahu, cerita apa yang disuguhkan karena masih teka teki.</p>
<p><strong>Misal:<br />
Kampanye menulis surat di masa pemerintahan Presiden Soeharto ternyata berhasil baik dan membekas sampai saat ini. Bukan saja anak-anak sekolah yang gemar menulis surat, tetapi juga para pejabat tinggi di masa itu keranjingan menulis surat.<br />
</strong><br />
Nah, sampai di sini pembaca masih sulit menebak, tulisan apa ini? Alinea berikutnya:</p>
<p><strong>Kini, ada surat yang membekas dan menimbulkan masalah bagi rakyat kecil. Yakni, surat sakti Menteri PU kepada Gubernur DKI agar putra Soeharto, Sigit, diajak berkongsi untuk menangani PDAM DKI Jakarta. Ternyata bukannya menyetor uang tetapi mengambil uang setoran PDAM dalam jumlah milyaran&#8230;. dan seterusnya.<br />
</strong><br />
Pembaca mulai menebak-nebak, ini pasti feature yang bercerita tentang kasus PDAM DKI Jaya. Tetapi, apa isi feature itu, apakah kasus kolusinya, kesulitan air atau tarifnya, masih teka-teki dan itu dijabarkan dalam alinea berikutnya.</p>
<p><strong>Lead Nyentrik<br />
</strong>Lead ini nyentrik, ekstrim, bisa berbentuk puisi atau sepotong kata-kata pendek. Hanya baik jika seluruh cerita bergaya lincah dan hidup cara penyajiannya.</p>
<p><strong>Misal:<br />
Reformasi total.<br />
Mundur.<br />
Sidang Istimewa.<br />
Tegakkan hukum.<br />
Hapus KKN.<br />
Teriakan itu bersahut-sahutan dari sejumlah mahasiswa di halaman gedung DPR/MPR untuk menyampaikan aspirasi rakyat &#8230;. dst&#8230;.<br />
</strong><br />
Pembaca digiring ke persoalan bagaimana tuntutan reformasi yang disampaikan mahasiswa.</p>
<p><strong>Lead Gabungan<br />
</strong>Ini adalah gabungan dari beberapa jenis lead tadi.</p>
<p><strong>Misal:<br />
&#8220;Saya tak pernah mempersoalkan kedudukan. Kalau memang mau diganti, ya, diganti,&#8221; kata Menteri Sosial sambil berjalan menuju mobilnya serta memperbaiki kerudungnya. Ia tetap tersenyum cerah sambil menolak menjawab pertanyaan wartawan. Ketika hendak menutup pintu mobilnya, Menteri berkata pendek: &#8220;Bapak saya sehat kok, keluarga kami semua sehat&#8230;.&#8221;<br />
</strong><br />
Ini gabungan lead kutipan dan deskriptif. Dan lead apa pun bisa digabung-gabungkan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/166/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=166&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2008/11/08/tips-menulis-beberapa-jenis-leadteras-berita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>When the Dahlia Blooms at the Forest of Rubber Plant</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2008/11/03/when-the-dahlia-blooms-at-the-forest-of-rubber-plant/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2008/11/03/when-the-dahlia-blooms-at-the-forest-of-rubber-plant/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 02:45:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[English Article]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Credit Union]]></category>
		<category><![CDATA[Jambi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Dahlia is a name of flower that most women around the world familiarly know and even adore. In an upstream village in Sumatra Island, Indonesia, women make use of “Dahlia” to name a micro credit institution that they manage collectively to support their own daily needs.
Like a flower, the Dahlia micro credit institution— the Independent [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=160&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_162" class="wp-caption alignleft" style="width: 237px"><a href="http://asep.files.wordpress.com/2008/11/foto-dahlia5.jpg"><img class="size-medium wp-image-162" title="Dahlia Lubuk Beringin" src="http://asep.files.wordpress.com/2008/11/foto-dahlia5.jpg?w=227&#038;h=300" alt="Dahlia Lubuk Beringin" width="227" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Dahlia Lubuk Beringin</p></div>
<p>Dahlia is a name of flower that most women around the world familiarly know and even adore. In an upstream village in Sumatra Island, Indonesia, women make use of “Dahlia” to name a micro credit institution that they manage collectively to support their own daily needs.</p>
<p>Like a flower, the Dahlia micro credit institution— the Independent Community Organization (KSM) Dahlia to be precise— also grew out of a tiny seed. It began when the Indonesia Conservancy Community (KKI) Warsi, a non-government organization (NGO) working on environment conservancy, was implementing its program among the villagers of Lubuk Beringin Village, Jambi Province. From Jakarta, the Capital City of Indonesia, it takes an hour of trip by airplane and about some more five hours of land cruise on rugged country roads through a chain of dense forest of rubber plants.<span id="more-160"></span></p>
<p>KKI Warsi itself is the board of Sumatra Sustainable Support (SSS), a community foundation (CF) that later on advocates the forest farmers of Lubuk Beringin, taking over KKI Warsi’s role in the past. Through an Integrated Conservancy Development Project of Kerinci Seblat National Park (ICDP TNKS) from 1990 to 2002, KKI Warsi advocated the forest villagers— females and males— to empower and develop the village institution to improve the villagers’ economy and to manage the natural sources in sustainable way.</p>
<p>KKI Warsi facilitated the women, all of them are Muslims, to have a meeting on Fridays. They began with religious learning, and then went on with a lottery with equal share from every member who took turn to become the winner of the lottery. “The activity in August 2000,” recalled Rudy Syaf, KKI Warsi’s advisor.</p>
<p>At every meeting, each Dahlia woman is obliged to submit IDR 2,000— IDR 1,000 for lottery share and the other IDR 1,000 to be collected for the needs to support the religious learning. In the long run the women eventually managed to develop a credit union that they had been longing for. They began with collecting private funds of IDR 6,000 a person— IDR 5,000 as main share and IDR 1,000 as monthly saving.</p>
<p>“By mid 2001 the members of the group could demand a credit at most IDR 100,000 that they should pay off within 10 months,” said Nur Asiah, chairwoman of Dahlia.</p>
<p>Nur Asiah and her fellow women of Dahlia can wear a broader smile now. Since they have a credit union to support their own need, they can find a new source of finance which is quite easily for them to access, especially when they are faced with unexpected expenses.</p>
<p>Things had been quite different from the time when Dahlia was not yet established. In the past the forest farmers depended on traders of rubber, some still do, for money for the traders’ advantages. “But now we can find alternative financial resource, thanks to the credit union. Sure, we’re glad to see the credit union develops well, considering the fact that the idea sprung casually among us the women when we were doing the laundry at the stream,” said Nur Asiah.</p>
<p>Dahlia is now improving every aspects of its capacity to become a cooperative with a more powerful legal status. While the process is on its way, the village farmers develop a credit union where the members can have some loans, run a rental of items that people need when they have party, home industry of handy crafts, and productive gardens. Each year Dahlia holds an annual meeting of members, the highest council and a forum where the members distribute the net profit among them.</p>
<p>“We distribute some portions of the net profit among our members, spend some others for new investment, and save the rests for the village for conservancy operation cost. We always persuade our fellow villagers to give more care for the environment,” said Muhammad Jufrie, a facilitator for Dahlia and an agent of the village administration.</p>
<p>Lubuk Beringin is an independent village and the villagers find supplies of their livelihood from the surrounding natural resources. They mostly make th eir livings from the rubber plants which grow lavishly at the vast forestland around them. They also have a power plant of micro hydro that they build at a river nearby. “If the environment is destroyed, the forest degraded, we won’t be able to see the turbine going round anymore, and what we’ll find is that we’ll live in the dark,” said Jufrie.</p>
<p>Dahlia now owns total asset of IDR 200 millions. What is more, it has also developed to become a backbone of the village’s economy. But the villagers do not want to stop and get satisfied with what the have achieved. “We’re still keep trying to find ways to sell the raw rubber directly to the factories so as that we can have better values and cut short the complicated distribution chain,” said Nur Asiah.</p>
<p>Like a flower, Dahlia from the dense forest of rubber plant at Lubuk Beringin has now been growing full bloom.***</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=160&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2008/11/03/when-the-dahlia-blooms-at-the-forest-of-rubber-plant/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asep.files.wordpress.com/2008/11/foto-dahlia5.jpg?w=227" medium="image">
			<media:title type="html">Dahlia Lubuk Beringin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rinjani community push for forest regulations</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2008/10/29/rinjani-community-push-for-forest-regulations/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2008/10/29/rinjani-community-push-for-forest-regulations/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 01:48:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[English Article]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[forest]]></category>
		<category><![CDATA[lombok]]></category>
		<category><![CDATA[rinjani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[ Bali is one of the world&#8217;s most famous tourism destinations, and yet the island&#8217;s prosperity hardly touches many other parts of the archipelago, including nearby Lombok Island.
Lombok in West Nusa Tenggara is an emerging tourist resort itself, but has long faced the problem of poverty among its population &#8212; whose livelihoods largely depend on [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=157&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://asep.files.wordpress.com/2008/10/rinjani.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-158" title="rinjani" src="http://asep.files.wordpress.com/2008/10/rinjani.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a> Bali is one of the world&#8217;s most famous tourism destinations, and yet the island&#8217;s prosperity hardly touches many other parts of the archipelago, including nearby Lombok Island.</p>
<p>Lombok in West Nusa Tenggara is an emerging tourist resort itself, but has long faced the problem of poverty among its population &#8212; whose livelihoods largely depend on forest resources.</p>
<p>Most state-owned forest areas in Lombok, however, especially those in areas surrounding Mount Rinjani (which was officially declared a national park with its rich natural resources), are being continuously damaged. <span id="more-157"></span></p>
<p>&#8220;Mount Rinjani supplies water for agricultural and other crucial purposes to the entire Lombok population,&#8221; said Rahmat Satibi, director of the Consortium for Study and Participation Development (Konsepsi), a local NGO which promotes Community Forestry Programs (HKm) in West Nusa Tenggara.</p>
<p>According to Konsepsi, deforestation endangers the livelihoods of Lombok&#8217;s residents, especially poor farmers who live off forest resources.</p>
<p>Rahmat said forest degradation in Lombok was getting worse every day.</p>
<p>&#8220;Most people live in poverty and they only have a tiny piece of land. This has forced them to find more land, including in forests near their villages,&#8221; he said.</p>
<p>The big problem in Lombok is deciding whether to protect forests while neglecting the fate of poor farmers, or to let the farmers freely exploit forest resources.</p>
<p>The government&#8217;s recent move to introduce a community forestry program came at the right time. The program, which allows farmers to take part in developing forest areas and harvest non-timber forest products, has seen a great deal of support.</p>
<p>The Community Forestry approach was first initiated in 1997 in the province, particularly in Central and West Lombok districts. In West Lombok district, the program has been implemented in Santong and Sesaot villages.</p>
<p>&#8220;We have timber well guarded within the forest and residents can harvest non-timber products, mostly short-lived plants which they grow under or between trees,&#8221; said Abidin Tuarita, a facilitator of the Community Forest Program at Santong village.</p>
<p>While waiting for timber trees to grow, members of the program plant non-timber forest products like coffee, cocoa, durian, vanilla, <em>arica</em> nut and bananas.</p>
<p>Santong village is now well known as a producer of good quality coffee beans and cacao.</p>
<p>&#8220;Traders from Bali and Java (two islands immediately to the west of Lombok) come to this village with trucks to collect non-timber forest commodities,&#8221; said resident Aswadi.</p>
<p>Non-timber forest products not only bring economic benefits to farmers, but also have a strategic role in slowing the villagers&#8217; encroachment into forest areas, and thus helping to conserve the environment.</p>
<p>By making use of non-timber forest products, farmers have avoided removing trees carelessly.</p>
<p>&#8220;Vanilla grows by entwining their stems upward along tree trunks. When people cut trees down, their hopes of harvesting vanilla go up in smoke,&#8221; he explained.</p>
<p>L. Syaiful Arifin of West Lombok district&#8217;s Forestry and Plantation Office said the Community Forestry Program was a &#8220;compromise&#8221; where two contradictory purposes &#8212; to ensure forest conservation on the one hand, and on the other to help forest farmers prosper &#8212; could be negotiated fairly.</p>
<p>&#8220;The government scarcely has enough human resources to guard the forests, so the Community Forestry Program is an ideal format to manage people&#8217;s participation in forest development,&#8221; he said.</p>
<p>However, the sustainable forest program has not yet been met with regulations favoring farmers, and consequently they are still hoping for legal grounds for their engagement in forest management.</p>
<p>&#8220;A permit for forest management would allow us to become wholeheartedly involved in developing forest areas and prevent us from violating the law.</p>
<p>&#8220;It would also clarify farmers&#8217; rights and responsibilities,&#8221; said Artim, a member of Maju Bersama farmers&#8217; cooperative unit which was established to empower Santong villagers.</p>
<p>The only legal standpoint farmers have for their involvement in the program is the 1999 Forestry Law. The problem remains, however, that regulations related to this law tend to be biased, if not contradictory.</p>
<p>For this reason, Rahmat said, the group has requested the local Forestry and Plantation Office, legislative council members and NGOs get together to produce a regulation on community forestry for the benefit of forest farmers.</p>
<p>Apart from this regulation, he said, partnership with the program&#8217;s stakeholders would also play an important role in producing a better set of forestry regulations.</p>
<p>Several local regulations on community forestry were issued by West Nusa Tenggara province, however, they are still inadequate, Rahmat said.</p>
<p>&#8220;The government needs take a serious approach to preparing good forest governance,&#8221; said Dwi Sudarsoni, director of the Nusa Tenggara Community Foundation that actively provides support for the sustainable management of natural resources.</p>
<p>&#8220;In the end, this will lead the farmers toward prosperity.&#8221;</p>
<p>http://www.thejakartapost.com/news/2008/09/16/rinjani-community-push-forest-regulations.html</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=157&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2008/10/29/rinjani-community-push-for-forest-regulations/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asep.files.wordpress.com/2008/10/rinjani.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">rinjani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tips Penulisan : Mendekatkan Diri dengan Pembaca</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2008/10/20/tips-penulisan-mendekatkan-diri-dengan-pembaca/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2008/10/20/tips-penulisan-mendekatkan-diri-dengan-pembaca/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 18:08:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Klub Tulis]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Penulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan populer disajikan untuk pembaca awam. Bukan pakar yang memang berkecimpung di bidangnya. Posisikan diri Anda pada pembaca. Pikirkan, mengapa Anda perlu membagi ilmu atau hal Anda? Apa yang membuat pembaca dapat tertarik dengan tulisan Anda?
Setelah mendapatkan topik yang pas dan bahan-bahan sudah terkumpul, tahap berikutnya meramu bahan-bahan menjadi tulisan yang menarik. Bagaimana memulai menulisnya? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=155&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tulisan populer disajikan untuk pembaca awam. Bukan pakar yang memang berkecimpung di bidangnya. Posisikan diri Anda pada pembaca. Pikirkan, mengapa Anda perlu membagi ilmu atau hal Anda? Apa yang membuat pembaca dapat tertarik dengan tulisan Anda?<span id="more-155"></span></p>
<p>Setelah mendapatkan topik yang pas dan bahan-bahan sudah terkumpul, tahap berikutnya meramu bahan-bahan menjadi tulisan yang menarik. Bagaimana memulai menulisnya? Terkadang tulisan mengalir, bila Anda memposisikan diri Anda pada pembaca: seorang professor, ibu rumah tangga, manajer, politikus,<br />
mahasiswa, atau apa saja. Pikirkan apa yang kira-kira apa yang diperlukan pembaca, pertanyaan apa yang akan mereka ajukan.</p>
<p><strong> Mengaitkan dengan kondisi aktual<br />
</strong>Tulisannya dimulai dengan lead kondisi aktual, hal-hal yang sedang dibicarakan dalam masyarakat. Sebagian pembaca mungkin pernah mendengar konsep bulan telematika yang sedang aktual. Tapi apa sebenarnya di balik konsep itu? Nah dari kondisi aktual inilah penulis membidik pembaca.</p>
<p><strong> Mengaitkan dengan kegiatan sehari-hari<br />
</strong>Prinsipnya adalah menghibur. Topik yang dipilih mudah dicerna, membacanya bersifat refreshing. Mudah dicerna karena berkaitan erat dengan kejadian sehari-hari. Siapa yang tidak pernah merasakan perihnya memotong bawang? Siapa peduli membacanya? Karya tulis populer yang berkaitan dengan kejadian<br />
sehari-hari membuat pembaca merasa sedikit lebih cerdas setelah membacanya. Merasa puas mengerti apa yang terjadi di sekitarnya. Dengan cara ini pembaca awam menjadi akrab dengan ilmu di luar spesialisasinya.</p>
<p><strong>Memperkenalkan ha-hal atau temuan baru<br />
</strong>Memperkenalkan temuan baru serta mengaitkan dengan kebutuhan masyarakat adalah salah satu tugas penulisan populer. Dengan memperkenalkan ilmu atau temuan tertentu, tingkat peneriamaan terhadap temuan itu itu sendiri semakin bertambah di kalangan masayarakat. Karya populer seringkali mengangkat topik yang berkaitan dengan masyarakat awam.</p>
<p><strong> Memaparkan informasi secara fokus<br />
</strong>Pemaparan informasi dalam tubuh tulisan harus fokus, sesuai dengan tema yang disitir dalam leading. Buat alur yang menarik, sehingga pembaca mau mengikuti paragraf demi paragraph sampai selesai. Ada beberapa cara pemaparan yang baik</p>
<p><strong> Haruskah alur berbentuk piramida terbalik?<br />
</strong>Alur piramida terbalik berarti dimulai dari informasi yang terpenting sampai ke detail yang kurang penting. Keuntungannya, pembaca cepat mendapat informasi utama. Biasanya model ini dipakai untuk penulisan hard news (berita singkat). Namun untuk tulisan karya ilmiah yang kompleks dan panjang belum tentu model ini bisa dipakai. Sebab terkesan membosankan. Hal yang terpenting sudah diketahui di awal, pembaca merasa sudah cukup dengan paragraf-paragraf awal. Tidak ada unsur menggelitik rasa ingin tahu lebih lanjut.</p>
<p><strong> Mengubah numerasi dan pembagian bab<br />
</strong>Anda pasti mengenal struktur klasik sebuah karya ilmiah: bab utama, sub bab, dst. Atau struktur tulisan dengan pembagian A, A.1, A.2, dan seterusnya. Pembagian struktur seperti ini terasa sangat kaku bila Anda gunakan dalam karya ilmiah populer. Gunakan kekuatan kata-kata atau teks untuk memperjelas struktur tulisan. Misalnya pada bab utama anda tuliskan rangkuman informasi yang mewakili sub-sub bab selanjutnya. Barulah sub-sub bab memuat detail informasi.</p>
<p><strong> Alur kronologis<br />
</strong>Artinya alur cerita mengikuti satuan waktu: jam, hari, bulan atau tahunan. Di sini patokan waktu eksplisit tercantum. Contohnya: Karya ilmiah populer tentang pertumbuhan tanaman selama empat musim. Informasi disini akan terstruktur sesuai dengan kronologis musim.</p>
<p><strong> Alur proses<br />
</strong>Mirip dengan alur kronologis. Disini alur mengikuti proses-proses yang berurutan.</p>
<p><strong> Deduksi<br />
</strong>Penulisan ilmiah populer yang berdasar pada deduksi, memulai alur penjelasan dari hal yang umum menuju hal yang khusus. Contohnya: kebijakan pemerintah dalam masalah anggaran penelitian dan dampaknya bagi riset bidang teknologi kimia.</p>
<p><strong> Induksi<br />
</strong>Induksi kebalikan dari deduksi: dimulai dari informasi atau fakta-fakta khusus untuk menentukan kesimpulan yang berlaku umum. Dalam penulisan populer induksi dapat berupa penjelasan, anekdot atau analogi yang menggambarkan prinsip umum. Contohnya: beberapa contoh dan fakta kerusakan<br />
lingkungan. Dari sini dapat diambil kesimpulan kebijakan politik yang harus diambil dalam rangka pelestarian lingkungan.</p>
<p><strong> Reportase<br />
</strong>Dengan jenis pemaparan ini, anda bertutur tentang apa yang anda rekam, lihat atau rasakan dari tempat kejadian. Dengan penuturan yang baik, pembaca akan merasa live di tempat kejadian. Sebuah reportase tidak harus menceritakan kejadian dari awal sampai akhir. Seringkali diambil fokus tertentu yang<br />
diangkat ke permukaan.</p>
<p><strong> Berhemat menggunakan jargon<br />
</strong>Seberapa jauh penulis bebas menggunakan jargon? Berhematlah dengan istilah asing atau sulit. Gunakan seperlunya secara tepat. Anda bisa memberikan definisi, terjemahan, atau penjelasan. Sering juga istilah-istilah asing justru lebih singkat, padat dan tepat. Namun anda harus berhati-hati terlalu banyak akan menyulitkan pembaca. Semuanya bergantung dimana dan untuk siapa tulisan akan anda sajikan.</p>
<p><strong> Menggunakan Defisini<br />
</strong>Foodborne disease adalah penyakit yang timbul dari pencernaan dan penyerapan makanan yang mengandung mikroba oleh tubuh manusia. Penyakit ini erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Jika tidak memperhatikan kebersihan makanan dan lingkungan, maka merugikan manusia. Makanan yang berasal baik<br />
dari hewan atau tumbuhan dapat berperan sebagai media pembawa mikroorganisma penyebab penyakit pada manusia.</p>
<p>Dalam tulisan di atas foodborne disease adalah istilah baku yang sulit dibuang. Penggunaan istilah spesifik ini lebih ringkas dan juga tepat. Definisi cukup diberi sekali diawal.</p>
<p><strong>Menggunakan Terjemahan<br />
</strong>Bila tidak terlalu rumit, anda cukup memberikan terjemahan dalam kurung: Beberapa obat-obatan yang termasuk didalamnya adalah antibiotika, antihistamin (anti alergi), analgetik (penghilang rasa nyeri), antipiretik (obat penurun panas), antitusif (obat batuk), dan lain-lain.</p>
<p>Mencari padanan jargon dalam bahasa Indonesia yang singkat dan padat tidak selalu berhasil. Dalam kasus ini, bila tidak ada padanannya gunakan istilah aslinya, dengan penjelasan, definisi.</p>
<p>Bila definisi dan terjemahan tidak cukup, atau definisi dapat memperjelas. Berikan<br />
ilustrasi atau analogi.</p>
<p><strong> Istilah asing: bila lebih mudah diingat, gunakan!<br />
</strong>Tulisan yang sukses biasanya justru pendek, terbatasi secara tegas dan sangat fokus. &#8221;Less is more,&#8221; lagi-lagi kata Hemingway. Umumnya tulisan yang baik hanya mengatakan satu hal.</p>
<p>Less is more, kalimat pendek dan mudah diingat. Bila diterjemahkan ke dalam Indonesia &#8220;sedikit justru sebetulnya lebih banyak&#8221; gregetnya kurang! Namun jangan juga terlalu mubazir dalam penggunaan bahasa asing.</p>
<p><strong> Istilah asing: bila tak perlu, tinggalkan!<br />
</strong>Penggunaan istilah asing yang rumit dalam satu paragraf, akan mengganggu kenyamanan pembaca. Ingat: Writing is giving service! Seperti soto dengan banyak &#8220;ranjau&#8221; rempahrempah daun salam, laus, jahe, daun jeruk. Anda akan terhenti menikmati soto karena harus menyisihkan rempah! Jangan pernah<br />
berpikir: menggunakan istilah asing agar terlihat elit! Justru efek sebaliknya yang akan anda dapatkan.</p>
<p><strong> Bila memang efisien, padukan dengan gambar<br />
</strong>&#8220;A picture tells thousand words,&#8221; demikian kata pepatah. Seringkali kali gambar atau grafik lebih mudah dicerna daripada rangkaian kata-kata. Tapi perlu diingat, gambar saja tidak cukup harus disertai keterangan yang jelas. Contoh ini berlaku misalnya untuk tutorial. Gunakan screenshot menu-menu software untuk memperjelas perintah.</p>
<p><strong> Problematika angka<br />
</strong>Penggunaan angka dalam karya ilmiah sudah lumrah. Terutama untuk menunjukan akurasi atau memperkuat argumentasi. Sama dengan penggunaan istilah asing atau jargon. Pencantuman angka cukup seperlunya. Bila terlalu banyak, perhatian pembaca akan tertuju pada angka dengan demikian kenyamanan membaca menjadi berkurang.</p>
<p><strong> Angka saja tidak cukup: perlu keterangan lanjut<br />
</strong>Kecelakaan lalu lintas lebih sering terjadi pada kecepatan 50km/h Sedangkan pada kecepatan 200 km/h lebih sedikit. Tanpa keterangan lebih lanjut, angka-angka diatas terlihat sepintas tidak masuk akal. Mengapa justru dengan kecepatan tinggi lebih jarang terjadi kecelakaan? Jawaban logisnya terletak<br />
pada penjelasan, bahwa jarang kendaraan berkecepatan 200km/h, sehingga lebih jarang terjadi kecelakaan. Namun sayangnya dalam tulisan itu tidak ada sama sekali.</p>
<p><strong> Pencantuman angka yang tidak perlu<br />
</strong>Banyak penulis menyangka pencantuman angka selalu memberi kesan kompeten! Sekali lagi pertimbangkan baik-baik: apakah pencantuman angka memberi nilai informasi plus atau tidak. Ingat: &#8220;Less is more,&#8221; kata Hemingway. Angka berlebihan hanya akan mengganggu kenyamanan membaca.</p>
<p><strong> Multi interpretasi angka statistik<br />
</strong>Bila Anda mencantumkan angka statistik, perlu memjelaskan metode pengambilan sample serta satuan-satuan lagi yang mendukung. Membaca angka lebih payah daripada membaca teks. Mengapa tidak menggunakan grafik bila lebih membantu kenyamanan membaca?</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/155/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=155&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2008/10/20/tips-penulisan-mendekatkan-diri-dengan-pembaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ikutilah Workshop Menulis Feature Perjalanan untuk Media</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2008/10/20/ikutilah-workshop-menulis-feature-perjalanan-untuk-media/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2008/10/20/ikutilah-workshop-menulis-feature-perjalanan-untuk-media/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 13:41:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Klub Tulis]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Pena Indonesia bakal menggelar Workshop Menulis Feature Perjalanan untuk Media. Workshop itu dirancang agar peserta mengetahui teknik menulis feature atau catatan perjalanan yang menggugah dan menarik di
media-massa, koran, majalah, blog, maupun website.
Workshop diselenggrakan selama dua hari, yakni Sabtu dan Minggu, 15-16 November 2008. Waktu belajarnya mulai pukul 09.00 – 16.00 WIB. Sedangkan tempatnya di Graha [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=153&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pena Indonesia bakal menggelar Workshop Menulis Feature Perjalanan untuk Media. Workshop itu dirancang agar peserta mengetahui teknik menulis feature atau catatan perjalanan yang menggugah dan menarik di<br />
media-massa, koran, majalah, blog, maupun website.<span id="more-153"></span></p>
<p>Workshop diselenggrakan selama dua hari, yakni Sabtu dan Minggu, 15-16 November 2008. Waktu belajarnya mulai pukul 09.00 – 16.00 WIB. Sedangkan tempatnya di Graha Paramadina &#8211; Pondok Indah Plaza III, Blok F5-7,Jl. TB Simatupang, Jakarta 12310. Telp/Fax: 021-75907858.</p>
<p>Workshop Menulis Feature Perjalanan untuk Media dibuat untuk peserta dari kalangan wartawan, baik yang bekerja untuk media atau wartawan warga (citizen journalist). Selain itu, bagi yang kerap melancong, workshop ini juga patut diikuti. Sehingga Anda dapat membagi pengalaman melancongnya lewat media.</p>
<p>Oya, workshop ini dipandu oleh Farid Gaban. Soal siapa Farid Gaban dan kenapa namanya sama dengan tokoh film kartun jaman dulu, silahkan tengok di Facebook <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>======</p>
<p>Workshop Menulis Feature Perjalanan untuk Media bersama Farid Gaban.</p>
<p>HARI PERTAMA<br />
- Mendiskusikan contoh feature dan mengenali unsur-unsur feature yang<br />
baik dan menarik.<br />
- Memahami teknik dasar jurnalistik (elemen-elemen jurnalistik) untuk<br />
peliputan feature perjalanan.<br />
- Teknik mengerahkan otak kiri (logika, sistematika) dan otak kanan<br />
(imajinasi, kreatifitas) secara seimbang dalam penulisan.<br />
- Melatih kepekaan, bekal menggali ide-ide feature perjalanan.<br />
- Merumuskan outline secara sistematis untuk calon tulisan.</p>
<p>HARI KEDUA<br />
- Menerapkan prinsip penting dalam menulis: &#8220;Lukiskan, bukan Katakan&#8221;<br />
- Menerapkan prinsip &#8220;Bahasa Jurnalistik&#8221; dalam tulisannya.<br />
- Menerapkan tata bahasa Indonesia secara baik.<br />
- Klinik menulis: praktek, kritik dan diskusi tulisan peserta<br />
- Kiat praktis mengirim artikel ke media<br />
- Merangsang motivasi untuk terus menulis dan belajar menulis.<br />
- Bonus: alamat dan email media terkemuka</p>
<p>Peserta mendapatkan:<br />
- Sertifikat<br />
- Snack/Makan Siang</p>
<p>Untuk informasi dan pendaftaran:<br />
Ati Kurnia<br />
Graha Paramadina<br />
Pondok Indah Plaza III, Blok F5-7,<br />
Jl. TB Simatupang, Jakarta 12310.<br />
Telp 021-75907858 &#8211; Ponsel 08128093348 &#8211; Email: <a href="http://groups.yahoo.com/group/jurnalisme/post?postID=ZOaD4Ba20JM6AZbDkwPMor_zVfI18ICcZA6QyVdxvsUdgfby290FuLfdkrijFuV0izm3r4eRxHu3">rumahpena@gmail.com</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/153/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=153&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2008/10/20/ikutilah-workshop-menulis-feature-perjalanan-untuk-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>