<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kabar dari Manusia Biasa</title>
	<atom:link href="http://asep.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://asep.wordpress.com</link>
	<description>Sarana berbagi informasi dan pengetahuan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 Sep 2009 05:28:22 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='asep.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/2e98d271e63713fdba336bd7e82782ae?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kabar dari Manusia Biasa</title>
		<link>http://asep.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Menyelamatkan Elang di Alamnya</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2009/09/12/menyelamatkan-elang-di-alamnya/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2009/09/12/menyelamatkan-elang-di-alamnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 05:28:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Halimun]]></category>
		<category><![CDATA[Salak]]></category>
		<category><![CDATA[suaka elang]]></category>
		<category><![CDATA[TNGHS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Walau waktu sudah menjelang senja,  suasana di Desa Loji, Kabupaten Bogor masih terang. Angin menghembus  cukup kencang. Saat memandang hamparan pemukiman antara Gunung Salak  dan Gunung Gede, saya melihat seekor elang melayang di udara. Saya tidak  tahu pasti jenis elang tersebut. Ukurannya cukup besar dan berwarna  hitam. Usai elang itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=201&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Walau waktu sudah menjelang senja,  suasana di Desa Loji, Kabupaten Bogor masih terang. Angin menghembus  cukup kencang. Saat memandang hamparan pemukiman antara Gunung Salak  dan Gunung Gede, saya melihat seekor elang melayang di udara. Saya tidak  tahu pasti jenis elang tersebut. Ukurannya cukup besar dan berwarna  hitam. Usai elang itu hilang dari pandangan karena terhalang pepohonan,  saya terus berjalan menuju sebuah bangunan kecil di sebuah lembah.<span id="more-201"></span></span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Di bangunan bernama Visit Centre  Suaka Elang, saya bertemu Budi. Ia adalah salasatu perawat elang yang  berada disana. Suaka Elang adalah program pelestarian raptor, burung  elang dan kerabatnya melalui upaya penyelamatan, rehabilitasi, dan pengembalian  ke habitatnya.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Bambang Supriyanto kepala Balai Taman  Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) mengatakan Suaka Elang merupakan  program konservasi yang bersifat kemitraan yang sesungguhnya. &#8220;Disini  ada unsur pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, serta lembaga bisnis,&#8221;  kata Bambang.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Parapihak yang terlibat dalam jaringan  Suaka Elang terdiri atas Balai TNGHS, Balai Besar Taman Nasional Gede  Pangrango (TNGGP), Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPS Cikananga),  International Animal Rescue Indonesia (IAR), Raptor Conservation Society  (RCS), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Pusat Penelitian Pengembangan  Kehutanan &amp; Konservasi Alam, PT. Chevron Geothermal Salak, Pusat  Informasi Lingkungan Indonesia (PILI-Green Network), Raptor Indonesia  (RAIN), Mata ELANG dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)  Jawa Barat.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Dipihnya Loji yang berada dalam kawasan  TNGHS menurut Bambang karena disana memiliki ekosistem hutan hujan tropis  pegunungan terluas di Jawa. &#8220;Taman  nasional ini luasnya 113,357  Ha. Terletak di dua Propinsi, Jawa Barat dan Banten dan meliputi Kabupaten  Sukabumi, Bogor dan Lebak,&#8221; kata Bambang. </span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Selain itu, potensi keanekaragaman  hayati di kawasan ini sangat tinggi. Dan memiliki populasi Elang Jawa  (Spizaetus bartelsi) terbesar di pulau Jawa, bahkan di dunia yaitu sekitar  25-30 pasang. &#8220;Hampir semua jenis raptor yang ada di Pulau Jawa  dan Bali bisa ditemui di kawasan ini,&#8221; imbuh Bambang.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Oleh Budi, sang perawat Elang, saya  diajak memberi makan Elang Jawa yang tengah dalam proses rehabilitasi.  Pada kandang elang yang terbuat dari jaring berwarna hijau terdapat   dua bilik. Pada bilik pertama terdapat dua ekor elang. Dan pada bilik  lainnya terdapat satu ekor. Pada setiap bilik yang berdamping itu, elang  dapat terbang antar pohon atau melayang dari satu sisi ke sisi lainnya. </span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Makanan yang diberikan Budi pada  sore itu adalah marmut. Begitu marmut dimasukkan, semua elang tetap  bertengger di pohon seolah tidak lapar. &#8220;Kalau ada orang mereka  tak mau makan,&#8221; kata Budi.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Ketiga elang yang tengah dirawat  itu rencananya akan dilepas pada 17 Agustus 2009. Sebelum dilepas ke  alam, kondisi elang harus sudah siap. Sri Mulyati petugas TNGHS mengatakan  jangan sampai mereka malah terancam oleh raptor lain atau kondisi alam  yang keras.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">&#8220;Untuk itu lokasi pelepasan  juga harus kita lihat. Apakah sudah ada raptor yang menguasai atau belum?  Serta bagaimana kondisi ketersediaan makanannya,&#8221; kata Sri.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Setelah dilepas, tugas Suaka Elang  juga belum selesai. &#8220;Kami akan terus memantau perkembangan elang  yang telah dilepas itu,&#8221; kata Bambang.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Bagi elang-elang yang kondisinya  dianggap tidak siap untuk dilepas, Suaka Elang punya perlakuan lain.  &#8220;Kami tidak akan melepasnya ke alam. Karena mereka dipastikan akan  gugur bertahan hidup di alam,&#8221; kata Ika Kristiana Widianingrum,  petugas TNGHS lainnya. </span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Elang yang tidak akan dilepas itu  jika cacat tetap, sehingga tidak dapat terbang untuk mencari makan di  alam.  Selanjutnya elang dengan kondisi itu akan digunakan untuk  sarana pendidikan di Suaka Elang.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Pasalnya, kata Bambang,  Suaka  Elang juga dibentuk untuk memperkenalkan masyarakat kepada alam dan  meningkatkan kesadaran akan nilai penting sumber daya alam yang beragam  dalam sebuah ekosistem kehidupan. &#8220;Pendidikan lingkungan dan wisata  terbatas menjadi salahsatu layanan Suaka Elang,&#8221; kata Bambang.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Hari sudah semakin senja. Sinar mentari  di kawasan Suaka Elang mulai berkurang. Saya berpamitan pada Budi dan  bertekad suatu saat kembali kesana untuk menikmati liukan elang yang  terbangn di uadara.*** </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/201/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=201&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2009/09/12/menyelamatkan-elang-di-alamnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ulu Masen, Sumber Kehidupan Rakyat Aceh</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2009/09/09/ulu-masen-sumber-kehidupan-rakyat-aceh/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2009/09/09/ulu-masen-sumber-kehidupan-rakyat-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 09:09:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[FFI]]></category>
		<category><![CDATA[Teunom]]></category>
		<category><![CDATA[Ulu Masen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Satu Jumat di Bulan Juli silam, saya  terbangun dari tidur saat hari masih pagi. Saat itu saya berada di Desa  Sarah Raya, Teunom, Aceh Jaya. Selain karena dinginnya udara di Sarah  Raya, rencana untuk menyusuri Sungai Teunom hari itu membuat saya bangun  pagi.
Sungai Teunom adalah adalah salah  satu sungai besar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=199&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Satu Jumat di Bulan Juli silam, saya  terbangun dari tidur saat hari masih pagi. Saat itu saya berada di Desa  Sarah Raya, Teunom, Aceh Jaya. Selain karena dinginnya udara di Sarah  Raya, rencana untuk menyusuri Sungai Teunom hari itu membuat saya bangun  pagi.<span id="more-199"></span></span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Sungai Teunom adalah adalah salah  satu sungai besar di Aceh. Sungai, warga setempat menyebutnya krueng,  hulunya berada di wilayah Kabupaten Pidie. Sedangkan sebagian hilirnya  berada di wilayah Aceh Jaya. </span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">“Sarah Raya merupakan desa terakhir  di Sungai Teunom untuk wilayah Aceh Jaya,” kata Syamsudin, Ketua Mukim  Serah Raya.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Dengan menggunakan perahu bermotor  tempel bertenaga 25 PK, saya menyusuri Sungai Teunom. Arus sungai yang  sangat deras cukup menghambat laju perahu. Pada beberapa tempat, riam  dan bongkahan batu menyulitkan Muhammad Ansari, mengemudikan laju perahu.  Karena air sungai tengah surut, hingga tiga kali saya turun dari perahu. </span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Jika air tengah surut, itu akan menjadi  berkah buat Ansari dan warga Aceh Jaya lainnya. Mereka dapat mencari  ikan dengan mudah dan meyusuri sungai untuk menuju ladang dengan tenang.  “Tapi kalau air tinggi, kami susah,” katanya.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Hal yang paling ditakutkan Ansari  adalah naiknya air sungai secara tiba-tiba. “Sering kali cuaca sangat  cerah, tapi tiba-tiba air menjadi keruh dan naik,” katanya. “Kalau  sudah begitu menyingkir dari sungai dan berdoa segera usai.”</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Sebagai daaerah yang berada di hilir  kawasan Ulu Masen, Aceh Jaya menjadi daerah pertama yang jadi korban  rusaknya hutan. </span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Juni 2007 Gubernur Aceh, Irwandi  mendeklarasikan sebuah moratorium yang berkaitan dengan semua kegiatan  penebangan hutan. Menuut Irwandi ada beberapa tujuan utama dari kebijakan  itu. Pertama, agar tersedianya waktu untuk meninjau ulang status terakhir  hutan-hutan Aceh. Kedua untuk merancang kembali strategi pengembangan  dan manajemen hutan yang tepat dan berkelanjutan. Dan ketiga meninjau  kembali mekanisme pelaksanaan yang lebih kuat dan lebih efektif untuk  mencegah pelanggaran terhadap kebijakan itu.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Upaya gubernur menetapkan kebijakan  itu, menurut Zulfan Monika, staf Fauna &amp; Flora International (FFI)  yang menemani saya menyusuri Sungai Teunom, sangat tepat. “Kini kita  sudah tidak melihat kayu-kayu gelondongan yang meluncur di sungai ini,”  katanya.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Memang benar apa yang dikatakan Boy,  panggilan akrab Zulfan. Dalam perjalanan itu saya melihat pohon-pohon  besar masih membentengi sungai dengan rapatnya. Padahal, posisinya di  pinggir sungai akan memudahkan perambah membawa hasil tebangannya ke  kota.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Usai bergoyang diatas riaknya air  Sungai Teunom, saya tiba di air terjun. Beragam burung dan kupu-kupu  menyambut kedatangan kami. “Selama datang di surga Ulu Masen,” kata  Boy.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Untuk menjaga kelestarian Ulu Masen,  FFI tengah berupaya menjadikan penyusuran Sungai Teunom hingga air terjun  ini menjadi paket wisata pendidikan. “Sehingga warga punya tamu yang  bisa diajak menikmati kekayaan alam ini,” kata Boy.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Dengan itu, sambung Boy, warga akan  menjaga kelestarian alam ini dan mereka punya pendapatan dari penyewaan  perahu dan penjualan makanan.  “Sehingga tidak akan tergoda cukong  kayu untuk mengepulkan asap dapur dengan menebang pohon,” imbuhnya.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Untuk mencapai itu ternyata butuh  waktu panjang. “Kami masih mempertimbangkan berbagai hal dan membekali  warga dengan berbagai ketrampilan,” katanya.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Upaya menjaga kelestarian Ulu Masen  juga tidak hanya dilakukan di hilir. Di Mane, Kabupaten Pidie, FFI juga  berupaya mengajak warga menjaga kelestarian hutan. “Tentunya cara  mengajaknya bukan hanya sekadar imbauan,” kata Yasser Premana,  Koordinator Livelihood FFI Program Aceh. “Kami mendengar, kami berpikir,  dan kami turun bersama warga.”</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Usai mengunjungi surga Ulu Masen  dengan menyusuri Sungai Teunom, saya mengikuti aktivitas Yasser bersama  timnya. Saat itu FFI tengah membagikan bibit kopi bagi kelompok tani  dibawah payung Koperasi Geumpang Jaya, Kabupaten Pidie.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Dengan bertani pada kebun yang tetap,  warga tidak akan membuka ladang lagi di hutan. “Dengan bimbingan FFI,  pelan-pelan pola tanam kami berubah,” kata Edi Saputra, Sekretaris  Koperasi Geumpang Jaya.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Agar tidak diganggu gajah, kata Edi,  kita harus menananam yang tidak disukainya. “Kopi dan coklat yang  kami tanam,” katanya.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Dengan adanya pendapatan rutin yang  cukup, kata Yasser, warga akan ikutserta menjaga kelestarian hutan.  “Karena Sungai Teunom mengalir dari Geumpang ke Aceh Jaya, maka FFI  hadir di keduanya. Kita ingin warga di hulu dan di hilir saling memahami  kondisinya dan ikutserta menjaga Ulu Masen dengan cara masing-masing,”  papar Yasser.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Dewa Gumay, jurubicara FFI mengatakan  selain mendampingi warga di kawasan Ulu Masen, pihaknya juga bergerak  pada tataran kebijakan. “Moratorium dan Aceh Green yang digagas gubernur  menjadi modal penyusunan kebijakan pelestarian dan pengelolaan   Ulu Masen,” katanya. </span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Soal status kawasan hutan seluas  750.000 hektar itu, Dewa tak mau status taman nasional disandang Ulu  Masen. “Kalau itu nantinya akan dikelola pemerintah pusat, dan warga  akan terusir dari tanah leluhurnya,” kata Dewa.</span></p>
<p><span style="font-family:Helvetica;font-size:small;">Dalam pengelolaan Ulu Masen, sambung  Dewa, pihaknya ingin dikelola oleh sebuah badan. “Karena mencakup  lima kabupaten, maka lima daerah itu harus terlibat,” katanya. “Sehingga  Ulu Masen akan menjadi berkah bagi rakyat Aceh sendiri.”*** </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/199/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=199&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2009/09/09/ulu-masen-sumber-kehidupan-rakyat-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menambah Nilai Kehidupan Desa</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2009/08/09/menambah-nilai-kehidupan-desa/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2009/08/09/menambah-nilai-kehidupan-desa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Aug 2009 14:12:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Asgar Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Chevron]]></category>
		<category><![CDATA[Cihurip]]></category>
		<category><![CDATA[Dompet Dhuafa]]></category>
		<category><![CDATA[Garut]]></category>
		<category><![CDATA[HME ITB]]></category>
		<category><![CDATA[Pasirwangi]]></category>
		<category><![CDATA[PUPUK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[Hari Minggu di akhir Juni silam, saya mengunjungi Kota Garut. Dari Jakarta, saya pergi saat mentari baru terbit. Sampai di Kota Garut, matahari belum berada tepat di atas kepala. Setidaknya pejalanan dari Jakarta ke Garut ditempuh sekitar empat jam. Siang  itu saya menuju kantor Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Priangan. Pada masa lalu Bakorwil adalah pembantu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=197&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hari Minggu di akhir Juni silam, saya mengunjungi Kota Garut. Dari Jakarta, saya pergi saat mentari baru terbit. Sampai di Kota Garut, matahari belum berada tepat di atas kepala. Setidaknya pejalanan dari Jakarta ke Garut ditempuh sekitar empat jam. Siang  itu saya menuju kantor Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Priangan. Pada masa lalu Bakorwil adalah pembantu gubernur yang mengkoordinasikan pembangunan beberapa kabupaten/kota dalam satu wilayah karesidenan. Di sana saya menjumpai ratusan pelajar Garut yang tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri.<span id="more-197"></span></p>
<p>Usai ujian nasional 2009, bagi Nita Siti Farida bukan waktu untuk bersenang-senang. Bersama ratusan pelajar SMA di Garut, Nita mengisi hari-harinya dengan belajar. “Tapi suasana dan cara belajarnya berbeda dengan di sekolah. Disini sangat menyenangkan dan pelajaran mudah dipahami,” kata Nita. Kondisi menyenangkan yang dimaksud Nita adalah suasana belajar bernama SuperCamp. Ini adalah program yang digelar Asgar Muda, kelompok mahasiswa asal Garut pada berbagai perguruan tinggi. Program ini dibuat untuk membekali lulusan SMA di Garut yang akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri. “Pada 2009 ini adalah SuperCamp ketiga yang kami gelar,” kata Iqbal Gozali, ketua pelaksana SuperCamp 2009.</p>
<p>Awalnya, Iqbal dan rekan-rekannya di Asgar Muda melihat banyak anak-anak Garut yang tidak siap menghadapi ujian masuk perguruan tinggi negeri. Sementara itu, bimbangan belajar masih merupakan program yang mewah bagi masyarakat Garut.</p>
<p>Pada tahun 2007, SuperCamp diikuti 250 pelajar dari jurusan IPA, 60 persen lulus ujian masuk masuk perguruan tinggi negeri. “Pada tahun 2008 diikuti 250 pelajar dari jurusan IPA dan IPS, sekitar 50 persen yang lulus,” ujar Iqbal.</p>
<p>Proses belajar di SuperCamp sebenarnya tak berbeda dengan di sekolah. Hanya saja, pengajarnya yang merupakan mahasiswa menganggap siswanya sebagai adik. “Kita memposisikan pengajar sebagai teman belajar, jadi siswa tidak sungkan untuk bertanya,” kata Adi Rahadian, salah satu pengajar SuperCamp yang hadir pada minggu yang cerah itu.</p>
<p>Selain belajar setiap hari Senin hingga Jumat, setiap Sabtu para pelajar mengikuti tryout. “Dengan berlatih menjawab soal-soal, siswa diajak membiasakan diri ke dalam suasana ujian. Selain itu, hasil tryout menjadi panduan bagi panitia untuk melihat perkembangan siswa,” kata Iqbal.</p>
<p>Selama pembekalan para pelajar ini bukan hanya mata pelajaran yang diuji pada ujian masuk perguruan tinggi negeri saja yang mereka dapat. Setiap hari Minggu, siswa diberikan berbagai materi dan permainan untuk memperkuat motivasi dan membuat suasana menyenangkan.</p>
<p>Pada hari Minggu akhir Juni silam misalnya, para peserta SuperCamp menyimak pengalaman para karyawan Chevron. “Kami ingin memberikan wawasan kepada peserta bahwa untuk meraih sukses kita harus mengoptimalkan masa-masa kuliah,” kata Hadi Kuswoyo, Community Affairs Chevron di Darajat. Selain itu, Hadi dan rekan-rekannya ingin menunjukkan bahwa sangat banyak profesi yang dapat dipilih para siswa. “Jangan sampai mereka hanya tahu dokter dan pegawai negeri saja profesi itu. Sehingga mereka akan tahu jurusan mana yang sebaiknya mereka pilih untuk meraih profesi yang sesuai dengan minat dan bakatnya,” kata Hadi.</p>
<p>Ketua Umum Asgar Muda, Goris Mustaqim mengatakan bahwa Asgar Muda merupakan perkumpulan mahasiswa asal Garut yang kuliah di kota-kota besar, seperti Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. Goris sebenarnya berharap anak-anak muda Garut yang berkuliah di kota besar dapat kembali ke daerah asal untuk menerapkan ilmunya membangun Garut. “Kalau tidak oleh anak mudanya, oleh siapa lagi Garut dibangun. Mahasiswa kan sebagai agen perubahan,” kata Goris bersemangat.</p>
<p>Selain menggelar SuperCamp saban tahun, Asgar Muda juga mengembangkan beragam potensi sumber daya Garut. Kegiatan itu melibatkan anak-anak muda Garut yang kuliah di kota besar. Bagi Goris, masa depan ada di daerah, bukan di kota. “Daerah mempunyai potensi besar yang bisa dikembangkan,” ujarnya. Ia terlihat begitu optimis.</p>
<p>Di hari kedua, dalam perjalanan saya di wilayah Garut, saya mengunjungi berbagai kelompok masyarakat di Kecamatan Pasirwangi. Di kecamatan yang berada pada daerah dataran tinggi ini, Chevron mengolah energi panas bumi menjadi energi listrik, yang memberikan andil dalam pasokan listrik Jawa-Bali. Di sana, Chevron membantu berbagai kelompok masyarakat agar mampu meningkatkan taraf hidupnya.</p>
<p>Bertani merupakan aktivitas sebagian besar warga Pasirwangi, Kabupaten Garut. Begitu pula dengan Encang, yang menjabat sebagai Sekretaris Desa Bunisari. Pria berusia 38 tahun ini juga memiliki beragam tanaman di sekitar rumahnya. Sawi, bayam, tomat, dan kubis yang ia tanam tumbuh subur. Untuk menjaga kesuburan tanamannya, Encang kerap memberi pupuk. Akan tetapi bukan pupuk buatan pabrik yang dipakai para petani kebanyakan.</p>
<p>Encang memupuk tanamannya dengan pupuk olahannya sendiri. “Pupuknya campuran dari kotoran kambing dan rumput sisa makanan kambing,” kata Encang dengan berbinar.</p>
<p>Di halaman rumah Encang terdapat kandang kambing. Kandang yang terbuat dari kayu itu tampak kokoh. Atapnya berlapiskan genteng. Kandang komunal milik kelompok itu setidaknya mampu menampung 50 ekor kambing. Beternak kambing baru dilakukan Encang sejak September 2008. Dan dia beternak secara berkelompok dengan tetangganya. Dengan delapan anggota kelompok ternak Doa Bersama, Encang mendapat bantuan ternak dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Sedangkan keterampilan beternak kambing dan mengolah kotoran kambing menjadi pupuk diperolehnya dari beberapa pelatihan.</p>
<p>Maryati Puspitasari, pengajar Fakultas Pertanian Universitas Garut mengatakan bahwa program peternakan di Desa Bunisari ini merupakan program kolaboratif antara pemerintah, swata dan perguruan tinggi. “Dinas sosial memberi kambing, Chevron membantu kandang dan modal usaha, serta Universitas Garut menjadi pendamping,” katanya.</p>
<p>Berkat bantuan pendamping, kelompok ternak Doa Bersama kini punya pendapatan dari berbagai sektor. Hasil pertanian, ternak ayam, dan pupuk kompos menjadi sumber pendapatan sehari-hari anggota kelompok ternak. “Sambil nunggu kambing beranak-pinak, sehari-hari kami hidup dari menjual sayuran, telur ayam, dan pupuk kompos,” kata Encang.</p>
<p>Kelompok ternak Doa Bersama mampu mem produksi pupuk kompos hingga 50 karung dalam 21 hari. “Harga jual kompos sekarang Rp 4.000 per kilogram. Lumayan buat mengepulkan dapur,” kata Acep, anggota kelompok ternak Doa Bersama.</p>
<p>Pupuk kompos yang dibuat kelompok ternak ini cocok untuk tomat, sawi, dan kubis. Bahkan sebuah perkebunan jeruk di Kecamatan Samarang, Garut telah menjadi pelanggan kompos buatan kelompok ternak ini. “Keunggulan kompos ini pada jeruk, sewaktu panen daun tetap utuh. Sedangkan kalau pakai pupuk buatan pabrik waktu panen daun jeruk rontok,” Maryati menjelaskan kepada saya.</p>
<p>Di Desa Bunisari, selain kelompok Doa Bersama, program peternakan kambing juga dijalankan oleh Kelompok Ternak Makmur. Dengan jumlah anggota kelompok mencapai 28 orang, kelompok ini memelihara 53 ekor kambing. “Dulu kami mendapat bantuan 42 ekor. Berkat bimbingan pendamping dari Universitas Garut dan Chevron kini terus berkembang,” kata Aye Saefudin, ketua Kelompok Ternak Makmur. Apabila kelompok Doa Bersama membuat pupuk kompos dan beternak ayam sebagai kegiatan pendampingnya, Kelompok Makmur memilih ternak belut dan lele dumbo.</p>
<p>Maryati mengatakan, usaha dampingan yang dilakukan kelompok itu sesuai dengan minatnya masing-masing. “Mereka sudah berpikir untuk maju, dan punya pandangan jangka panjang,”  katanya. “Seharusnya ini menjadi model pengembangan masyarakat yang dapat dilakukan pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan.”</p>
<p>Yang Anda lihat ini kelompok yang sudah berkembang dan mempunyai semangat, kata Maryati saat kami meninggalkan Desa Bunisari. “Awalnya banyak warga yang mencibir program ini. Mereka inginnya bantuan jalan dan lain-lain,” katanya.<br />
Ternak kambing yang menjadi salah satu program pengembangan masayarakat yang digagas Chevron juga dilakukan di Desa Padaawas, Garut. Di desa ini, ternak kambing dilakukan oleh para pemuda anggota karang taruna dengan bimbingan dari Dompet Dhuafa.</p>
<p>Dendi Rahdian, pendamping program ternak pemuda Padaawas dari Dompet Dhuafa mengatakan, selain diajak beternak para pemuda juga diajak untuk meningkatkan kualitas  hidup dan wawasan. “Sehingga mereka mampu menjadi penerus yang berkualitas dan siap mejalani hidup,” katanya. Elin</p>
<p>Slamet, Ketua Program mengaku mendapat manfaat dari program ini. Sejumlah manfaat inilah yang telah membuka semangat baru para warga desa. “Bukan hanya masalah beternak kambing saja yang kami dapat, tapi cara berorganisasi dan mengembangkan potensi diri untuk bekal hidup kelak juga kami dapat,” kata Elin.</p>
<p><strong>Mengoptimalkan Fungsi Sosial Masjid<br />
</strong>Masjid umumnya dikenal sebagai tempat beribadah bagi umat muslim. Namun di Pasirwangi, Garut, fungsi sosial masjid sangat menonjol. Ade Tating, janda berusia 43 tahun menjadi salah satu warga yang memperoleh manfaat dari fungsi sosial masjid. Bahkan, berkat program KUM3 (Komunitas Usaha Mikro Muamalat Berbasis Masjid) Masjid Nurul Iman, Ade yang menghidupi tiga anak serta satu cucu itu mampu keluar dari usaha buruk.</p>
<p>Berkat bantuan modal usaha dari KUM3 Masjid Nurul Iman, Ade berhenti berjualan minuman keras. “Dulu kondisinya terjepit dengan modal sedikit dan ingin mendapat uang mudah. Berkat bantuan modal usaha dari mesjid, saya bisa membuka warung kecil-kecilan,” kata Ade.</p>
<p>KUM3 sebenarnya program kredit bantuan modal usaha yang digulirkan Chevron untuk warga miskin di Kecamatan Pasirwangi, Garut. Uniknya program ini menjadikan mesjid sebagai basis aktivitasnya. “Selain berupaya meningkatkan aspek ekonomi jamaah mesjid, KUM3 juga ingin meningkatkan kualitas ibadah para anggotanya,” kata Wawan Hernawan, pengurus KUM3 Masjid Nurul Iman.<br />
Tingkat pengembalian kredit pada program ini sangat baik. Pasalnya, setiap peminjam akan mendapat pendampingan rutin setiap pekan. “Kita berbagi pengalaman usaha dan membahas cerita sukses dan kesulitan anggota setiap pekan. Dan pada forum itu juga pembinaan rohaninya juga diberikan,” kata Ujang Sudarman, dari Baitulmal Muamalat, pendamping program KUM3. “Dan ada aturan tak tertulis. Karena meminjam ke mesjid mereka jadi takut punya hutang ke mesjid.”</p>
<p>Triyanto, salahsatu penerima kredit modal usaha KUM3 mengatakan dengan adanya program ini dirinya kini terbebas dari rentenir. “Dulu modal usahanya dari rentenir. Kalau usaha sedang lancar bisa bayar cicilan, tapi kalau sedang sepi, tak bisa bayar dan bunganya terus berlipat,” kata pengrajin peti kayu itu.<br />
Sebagai daerah penghasil sayuran, permintaan peti kayu di Pasirwangi sangat tinggi. Untuk mengirim sayuran tersebut ke pasar, sayuran dikemas dengan peti kayu agar tidak rusak. Menurut Ujang, kesuksesan program KUM3 terletak pada pengurus, pendamping, dan anggota. “Program ini menempatkan semua pihak dalam satu keluarga yang saring membantu dan memotivasi,” katanya.</p>
<p>Di Kecamatan Pasirwangi, terdapat empat mesjid yang menjalankan program KUM3: Masjid Nurul Iman, At-taqwa, Al-Hidayah, dan Nurussalam.</p>
<p>Mari kita tengok sejenak salah satu desa yang ada di wilayah Pasirwangi. Di Desa Talaga masjid juga bukan hanya tempat beribadah semata. Setiap siang hingga sore, Masjid Nurul Amin menjadi tempat belajar warga. Disini bukan hanya belajar agama layaknya di masjid-masjid lainnya. “Bahkan siswanya juga mengenakan seragam SMP, karena mereka mengikuti program Paket B,” kata Siti Zenab, pengurus Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Nurul Amin. Saat ini terdapat 30 siswa yang mengikuti pendidikan setara SMP di masjid itu.</p>
<p>Menurut Euis, panggilan Siti Zenab, awalnya PKBM ini hanya menyelenggarakan program Paket A, setingkat SD. “Tapi karena untuk sekolah ke SMP sangat jauh, maka dibuka program Paket B,” katanya.</p>
<p>Haji Bunyamin mengatakan bahwa PKBM ini mulai dibuka tahun 2003. Pada saat itu, kegiatan belajar-mengajar tadi mendapat dukungan dana dari pemerintah. Akan tetapi, dukungan itu tidak berlangsung lama. “Karena saya merasa di desa terpencil ini butuh sekolah, maka semua anggota keluarga diajak untuk mengelola dengan sukarela,” kata perintis PKBM Nurul Amin ini.</p>
<p>Bunyamin juga mengatakan, dukungan bagi kegiatan belajar seperti ini sangat minim. “Padahal, untuk mencerdaskan bangsa secara tepat di daerah terpencil yang model kelompok belajar seperti ini,” katanya.</p>
<p>Kini PKBM Nurul Amin berencana membuka program Paket C, setara SMA. “Saat ini banyak lulusan SMP di Talaga. Selain lokasi SMA yang sangat jauh, kondisi ekonomi warga juga sangat memprihatinkan. “Sekolahnya sekarang gratis, tapi ongkos dan berbagai kebutuhan lainnya tetap saja dianggap berat oleh warga Talaga yang merupakan buruh tani,” kata Euis.</p>
<p>Untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan siswa dan pengajar, PKBM Nurul Amin kini tengah merintis pembangunan perpustakaan. “Ternyata bukan hanya siswa dan guru saja yang mau membaca di perpustakaan, tapi warga desa lainnya yang bisa membaca kerap ke perpustakaan juga,” imbuh Euis.</p>
<p>Upaya mencerdaskan warga desa terpencil yang dilakukan Haji Bunyamin dan keluarga ini mendapat dukungan dari Chevron. “Kami sangat menghargai upaya Haji Bunyamin dan keluarga yang mau secara sukarela memberikan pendidikan bagi tetangganya,” kata Hadi Kuswoyo. Dengan demikian, Chevron ikut membantu melengkapi sarana belajar dan perpustakaan PKBM Nurul Amin. “Bahkan, para karyawan juga ada yang ikut jadi relawan untuk berbagi pengetahuan disini,” imbuh Hadi.</p>
<p>Desa Talaga sungguh terpencil. Perjalanan sore itu dari Talaga menuju tempat saya menginap di wilayah pusat kota Garut mencapai 30 kilometer. Bukan hanya itu, jalan yang kami lalui berkelok-kelok serta sangat sempit. Jalan itu hanya cukup dilalui satu kendaraan saja. Tidak ada angkutan umum dari pusat Kecamatan Pasirwangi ke Talaga.</p>
<p><strong>Menyokong Warga Perangi TBC<br />
</strong>Kecamatan Pasirwangi, Garut yang berada pada dataran tinggi berudara sejuk. Tapi dibalik kesejukan itu terdapat satu penyakit yang penderitanya cukup banyak, tuberculosis (TB). Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut dr. Hendy Budiman, M.Kes, di Pasirwangi jumlah terduga (suspek) TB mencapai 727 kasus. “Sedangkan untuk Kabupaten Garut mencapai Rp 25.219 orang,” kata Hendy.<br />
Penyakit TB merupakan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri mikobakterium tuberkulosa berbentuk batang dan bersifat tahan asam. Akibatnya, dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA).</p>
<p>R. Maya Nurmayati, kepala Puskesmas Padaawas, Kecamatan Pasirwangi mengatakan tingginya penderita TB disana karena kesehatan lingkungan. “Selain memang iklimnya, kondisi rumah disini rata-rata ventilasi udaranya sangat minim,” katanya.</p>
<p>Faktor lainnya, kata Maya, tata cara pertanian yang dilakukan oleh sebagian besar warga pasirwangi sangat boros dengan pestisida. “Celakanya hampir semua warga tidak menyadari faktor-faktor itu. Mereka beranggapan bahwa TB adalah penyakit keturunan,” imbuh Maya.</p>
<p>Untuk mendukung tenaga kesehatan yang berperang melawan TB di Pasirwangi, Chevron membantu Puskesmas Padaawas. Bantuannya berupalabo ratorium serta beragam peralatan pendukungnya. Selain itu, digelar berbagai pelatihan bagi para kader posyandu agar mereka dapat mendeteksi tanda-tanda penderita TB.</p>
<p><strong>Memupuk Jiwa Wirausaha<br />
</strong>Awal April 2009, belasan pemuda berkumpul di kantor Kecamatan Sukaresmi, Garut. Mereka belum saling mengenal. Hanya undangan mengikuti pelatihan membuat kaos yang membawa mereka datang ke kantor kecamatan. Setelah berkumpul 13 orang, mereka langsung berangkat ke Bandung. Selama dua pekan mereka belajar segala aspek teknik pembuatan kaos.</p>
<p>Begitu kembali ke Garut, mereka bersepakat untuk membuat kelompok pengrajin kaos Katjapangan. “Dalam bahasa Indonesia katjapangan adalah buah bibir. Kami ingin kaos produksi Sukaresmi menjadi buah bibir,” kata Ihsan Anwari, ketua kelompok katjapangan kepada saya.</p>
<p>Kelompok yang didampingi oleh PUPUK (Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil) ini mendapat dukungan dari Chevron. “Kelompok pemuda ini diharapkan menjadi wahana belajar berwirausaha para pemuda di Garut,” Hadian Hendra Cahya, pegiat PUPUK menerangkan dengan bersemangat.</p>
<p>Setelah mengikuti pelatihan dan mempunyai modal kerja, kini Katjapangan sudah mulai berkarya. Kaos yang mereka buat ingin menjadi cinderamata khas Garut. “Sehingga desainnya menunjukkan ciri khas Garut. Motif domba Garut menjadi salahsatu andalan,” kata Ihsan.</p>
<p>Saya berkesempatan menyaksikan peragaan menyablon yang dilakukan kelompok ini. Mereka memproduksi kaos dengan hati-hati. Pasalnya, teknik sablon yang dilakukan kelompok ini tidak sederhana. Komposisi warna dan desainnya penuh gradasi. “Memang lebih sulit, tapi kami ingin membuat kaos yang tidak murahan,” kata Ihsan.</p>
<p>Baru saja Katjapangan membuat produk contoh, peminat sudah banyak. Sebuah gerai oleh-oleh khas Garut telahn siap menampung. Bahkan, Dicky Chandra, Wakil Bupati Garut sudah bersedia menjadi model untuk materi promosi Katjapangan.<br />
PUPUK yang menjadi mitra Chevron bukan hanya mendampingi kelompok pemuda Sukaresmi. Di Kecamatan Samarang, PUPUK mendampingi dua koperasi, di Desa Sukakarya dan Desa Suka Laksana. Koperasi Karya Mandiri di Desa Sukakarya menjadi kelompok yang mengolah akar wangi menjadi peci. Akar wangi yang selama ini diolah menjadi minyak atsiri, di tangan anggota koperasi berubah wujud menjadi peci cantik nan wangi.</p>
<p>“Sudah banyak yang mengayam akar wangi menjadi taplak meja atau hiasan lainnya. Maka kami menganyamnya menjadi peci,” kata Farida, pengurus Koperasi Karya mandiri.</p>
<p>Upaya mengolah akar wangi menjadi cenderamata unik juga dilakukan Koperasi Bina Laksana, di Desa Suka Laksana. Disini, mereka mengolah akar wangi menjadi bergam tas cantik. “Awalnya disini merupakan sentra tas lipat. Jadi membuat tas merupakan keahlian mereka sejak dulu. Hanya saja kini mereka mengembangkan usaha dengan membuat tas dari akar wangi,” kata Hadian.</p>
<p>Oban Sobana, Kepala Desa Suka Laksana mengatakan pendampingan dan motivasi yang diberikan PUPUK bersama Chevron mampu memacu kreatiﬁtas warga. “Yang asalnya membuat tas dari kain, kini mulai menggarap akar wangi. Nilai jualanya juga menjadi lebih tinggi,” kata Oban.</p>
<p><strong>Menerangi Desa dengan Pikohidro<br />
</strong>Pada hari terakhir di Garut, saya menuju sebuah desa di daerah Garut Selatan. Perjalanan pagi itu sangat menyenangkan. Hamparan kebun teh di Cikajang yang disinari mentari pagi menyegarkan mata saya. Kecamatan Cihurip, yang akan saya kunjungi hari itu dari Kota Garut ditempuh sekitar tiga jam.</p>
<p>Akhir Februari 2009 menjadi awal kehidupan yang lebih bermakna bagi warga kampung Awilega dan Cilutung, Cihurip Garut. Sejak saat itu, warga kedua kampung dapat beraktivitas pada malam hari dengan leluasa. Listrik dapat mereka dinikmati di desa yang jaraknya sekitar 100 km dari Kota Garut.</p>
<p>Listrik yang mereka nikmati bukanlah berasal dari jaringan PLN. Walaupun kabel-kabel yang menghubungkan setiap rumah di sini tak berbeda dengan kabel PLN. Warga Cihurip itu dapat menikmati listrik atas kerja keras para mahasiswa Institut Teknologi  Bandung dengan dukungan Chevron.</p>
<p>Untuk menghasilkan listrik, kelompok mahasiswa itu memanfaatkan Sungai Ciparanje. Mereka memasang turbin kecil di aliran sungai itu. “Pembangkit ini kapasitasnya hingga 5.000 Watt, jadi namanya pikohidro,” kata Testantoro Randi Putra, mahasiswa Teknik Elektro ITB.</p>
<p>Menurut Randi, pikohidro yang mereka bangun saat ini mampu menerangi 89 rumah dan satu mesjid. “Total daya untuk menerangi dua kampung itu 2.600 watt,” kata Randi menunjukkan kinerja turbin yang telah terpasang itu.</p>
<p>Yadin, warga Awilega merupakan orang yang menjembatani aksi mahasiswa ITB di kampung terpencil itu. “Saya berjualan di kampus. Lalu curhat ke mahasiswa agar bisa membuat pembangkit listrik di kampung saya,” katanya. Mendengar cerita Yadin yang kampungnya belum mendapat listrik, kelompok mahasiswa ITB ini merancang sebuah pembangkit mini yang cocok untuk dipasang di Cihurip. “Berkat dukungan Chevron, akhirnya pikohidro ini dapat diserahkan oleh rektor ke masyarakat,” kata Aep Saaefudin, mahasiswa teknik elektro ITB.</p>
<p>Yusuf Sajiri, warga Awilega mengatakan setelah adanya listrik, dirinya makin tenang. “Pergi ke mesjid malam-malam sudah terang, dan keamanan kampung juga semakin terjaga,” kata Yusuf. Warga pun tenang dengan sejumlah kreativitas yang apik.***</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/197/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=197&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2009/08/09/menambah-nilai-kehidupan-desa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepenggal Paris van Java</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2009/05/09/sepenggal-paris-van-java/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2009/05/09/sepenggal-paris-van-java/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 May 2009 13:48:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[KlubFoto]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>
		<category><![CDATA[peta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/2009/05/09/sepenggal-paris-van-java/</guid>
		<description><![CDATA[JUMAT pagi di penghujung April 2009, bersama beberapa kawan saya jalan-jalan pada beberapa ruas jalan di Bandung. Kami memulai perjalanan di depan Hotel Aston, Jl Braga Bandung.
Dari Hotel Aston yang berada di area Braga City Walk, kami menyusuri Jalan Braga ke arah selatan. Kami berbagi tugas, ada yang bertugas mencari koordinat, memotret, membuat video, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=193&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>JUMAT pagi di penghujung April 2009, bersama beberapa kawan saya jalan-jalan pada beberapa ruas jalan di Bandung. Kami memulai perjalanan di depan Hotel Aston, Jl Braga Bandung.</p>
<p>Dari Hotel Aston yang berada di area Braga City Walk, kami menyusuri Jalan Braga ke arah selatan. Kami berbagi tugas, ada yang bertugas mencari koordinat, memotret, membuat video, dan mengumpulkan berbagai informasi tempat-tempat yang kami anggap menarik. Toko buku, galeri lukisan, toko busana dan toko kamera di Jalan Braga kami dokumentasikan.<span id="more-193"></span></p>
<p>Di depan bangunan bernomor 20, kami berhenti. Ulu, kami memanggil mojang Bandung bernama Nurul Wachdiyyah itu menjelaskan bahwa itu adalah restoran tua di Bandung. Ulu juga mempromosikan roti kadet dan ice cream Sumber Hidangan, nama restoran lawas itu yang katanya rasanya sangat nikmat.</p>
<p>Tak ada papan nama yang dapat menerangkan tempat itu dengan jelas. Hanya selembar kertas kecil yang menempel di kaca dengan tulisan, “Sumber Hidangan d/h Het Snoephies, sejak tahun 1929.”</p>
<p>Tergoda rayuan Ulu, saya memaksa semua kawan untuk istirahat sejenak disana sambil membuktikan promosi Ulu. Dekorasi restoran ini membuat kita seolah masuk ke zaman lain begitu melangkah melalui pintunya. Dindingnya sebagian dari batu  sebagian dari kayu. Bagian kiri restoran dipakai untuk menjual berbagai macam roti isi. Sebagian proses pembuatan roti juga berbaur dengan etalase yang memajang aneka macam roti yang dibuat Sumber Hidangan.</p>
<p>Pada bagian kanan, ada ruang luas dengan beberapa meja. Kursi besi bulat dan agak rendah menjadi penghuni utama ruangan itu. Beberapa lampu unik tergantung di langit-langit yang lumayan tinggi khas bangunan tua. Kesan tua juga ditunjukkan dengan adanya barang-barang kuno, misalnya timbangan, dan mesin kasir tua masih berfungsi. Di belakang mesin kasir itu terdapat radio kuno berukuran besar yang terpajang.</p>
<p>Begitu roti kadet dan ice cream yang kami pesan datang, langsung kami santap. Rotinya masih panas, karena memang baru diangkat dari oven. Setelah mengoleskan ice cream pada roti, saya santap roti kadet itu. Aroma roti yang wangi dan hangat berpadu dengan ice cream yang bertekstur agar kasar membuat lidah menari menikmati kelezatan sajian Sumber Hidangan.</p>
<p>Usai menghabiskan roti dan ice cream dan menikmati suasana tempo doeloe di sana, kami melanjutkan perjalanan. Dari Jalan Braga, kami belok kanan menuju kawsan Cikapundung. Bursa koran Cikapundung, bursa elektronik dan bursa buku menjadi titik-titik yang kami dokumentasikan di kawasan Cikapundung. Bursa buku di Cikapundung itu ada sejak tahun 1980-an. Di sini, kita dapat memperoleh berbagai buku dan majalah. Baik yang baru maupun yang bekas. Tak jarang di Cikapundung juga kita dapat memperoleh buku-buku langka maupun buku kuno.</p>
<p>Usai membongkar tumpukan buku di Cikapundung, kami berjalan lagi ke kawasan Banceuy. Di kawasan pertokoan Banceuy kita dapat melihat jejak sejarah perjuangan Bangsa. Pertokoan Banceuy itu berdiri pada lahan bekas penjara Banceuy. Dimana Presiden Soekarno dulu dipejara disana.</p>
<p>Dari Banceuy perjalanan dilanjutkan ke arah barat menyusuri Jalan ABC. Pada perempatan pertama belok kiri, masuk ke Jalan Alkateri. Tak jauh dari perempatan itu puluhan orang tampak mengerumuni satu warung di atas trotoar Jalan Alkateri. Belasan kursi plastik di samping warung telah penuh dengan orang yang makan dalam bungkusan.</p>
<p>Lotek Alkateri, nama warung yang kami kunjungi siang itu. Lotek merupakan makanan yang terdiri dari berbagai sayuran dengan bumbu kacang, mirip gado-gado di Jakarta. Jika kita makan disini, lotek tidak disajikan dalam piring. Ibu Oom akan menyodorkan lotek pesanan kita yang dibungkus kertas nasi. Bentuknya kerucut, agar mudah dipegang saat menikmatinya.</p>
<p>Lotek Alkateri ini usianya cukup tua, hadir di pusat Kota Bandung sejak tahun 1984. Walau berada di atas trotoar dengan kursi seadanya, para pembeli dari berbagai kalangan rela untuk antri. Saat kami datang ke sana Jumat siang itu, lotek telah ludes. Dalam satu hari, lotek Alkateri bisa terjual sampai 200 bungkus. Oom membandrol satu bungkus lotek bertabur bawang goreng dan kurupuk itu seharga Rp 6 ribu.</p>
<p>Di depan Oom menjajakan lotek, ada Asep yang menawarkan cendol. Tidak seperti cendol lainnya yang berwarna hijau atau merah yang biasa kita jumpai di Bandung. Cendol yang terbuat dari tepung aren itu berwarna putih. Cendol itu telah lama mendampingi lotek disana. Sejak tahun 1995, cendol menjadi pasangan di Jalan Alkateri yang diburu penikmat kuliner. Hampir semua yang menyantap lotek racikan Oom akan memesan cendol. Hanya dengan Rp 2.500, kita bisa menikmati cendol segar dan dingin yang disajikan dari gentong.<br />
Karena tak kebagian lotek dan hanya memperoleh dua gelas terkakhir cendol, kami berlima tak lama disana. Perjalan berlanjut ke arah utara, lalu belok kanan kemudian menapaki trotoar Jalan Banceuy. Pabrik Kopi Aroma yang menjadi tujuan akhir kami siang itu.</p>
<p>Bagi penikmat kopi, nama Kopi Aroma Bandung pasti sudah tidak asing.  Pabrik pengolahan kopi itu berdiri sejak tahun 1930. Dan suasana, proses pengolahan serta peralatan yang dipakai masih seperti saat pabrik kopi itu dirintis oleh Tan Houw Sian di masa penjajahan Belanda. Jalan Banceuy No. 51, tetap dipertahankan sebagai tempat penjemuran, gudang penyimpanan, pabrik pengolahan, sekaligus toko Kopi Aroma.</p>
<p>Kenikmatan Kopi Aroma hasil dari proses pengolahan yang unik dan butuh waktu lama. Sebelum dimasak, biji kopi matang di pohon itu dikeringkan hanya dengan sinar matahari. “Lalu dibungkus dengan karung goni, kemudian disimpan bertahun-tahun sebelum diolah,” kata Widyapratama, pengelola Kopi Aroma saat ini. Untuk jenis Robusta penyimpanannya selama 5 tahun, sedangkan jenis Arabika disimpan dulu selama 8 tahun.</p>
<p>Tradisi pengolahan itu tetap dipertahankan karena berkaitan erat dengan kualitas rasa kopi yang dijualnya. Seperti ayahnya dulu, Widya turun ke lapangan memilih sendiri biji kopi di perkebunan langganannya. Sebab, ia tetap ingin mempertahankan kualitas rasa kopi produk perusahaannya yang tidak besar itu. Perjalanan kami hari itu berakhir di Kopi Aroma.</p>
<p>Perjalanan kami saat itu merupakan bagian dari acara Workshop Pemetaan Partisipatif yang digelar National Geographic Indonesia. Sehari sebelumnya, kami mendapatkan berbagai pengetahuan soal peta. Jalan-jalan nikmat penuh makna yang kami lakukan Jumat siang merupakan sesi pengumpulan data lapangan.</p>
<p>Hari Sabtunya, semua peserta yang terbagi beberapa kelompok itu memaparkan hasil perjalanannya masing-masing. Kami menyusuri kawasan Braga dan Banceuy. Kelompok lainnya ada yang menyusuri kawasan Cikutra, kawasan Gedung Sate, Kawasan Tamansari, hingga kawasan Dago di bagian utara Kota Bandung.</p>
<p>Lalu, data-data yang kami kumpulkan di lapangan dimasukkan ke PetaKita yang digagas oleh National Geographic Indonesia. Menurut Tantyo Bangun, Editor In Chief National Geographic Indonesia, pemetaan partisipatif yang berbasiskan situs web ini merupakan respon atas teknologi internet pada masa kini. “Pemetaan yang melibatkan publik untuk berpartisipasi dan memperkaya kebutuhan data spasial dengan tema tertentu. Jadi semua orang bisa berkontribusi untuk membagi pengalaman pada orang lain,” kata Tantyo pada workshop yang digelar di Gedung Sabuga Bandung.</p>
<p>Melalui layanan “Google Earth”, kita bisa mencari suatu lokasi dalam peta yang merupakan potret dari arah langit. Kita juga dapat melihat setiap lorong jalan, perempatan, tikungan, bahkan pintu rumah dengan sudut pandang mata kamera. Tak berhenti disitu. Kita pun dapat memutar kamera 360 derajat, nengok kanan-kiri, atas-bawah, mirip game-lah.</p>
<p>Untuk membangun layanan ini, dengan mobil yang dilengkapi kamera, Google menelusuri kota, lorong, dan mengambil jutaan gambar sepanjang jalan yang dilalui.</p>
<p>Di Indonesia, sepertinya punya tradisi yang berbeda. Kita tumbuh bukan dalam budaya membaca peta. Kita tumbuh dalam budaya tegur sapa, ngobrol, biacara. Tak ada peta di mobil kita, tak ada peta di rumah kita.</p>
<p>Memang kita sepertinya tak butuh itu. Toh kalau kita tersesat ada ribuan orang di jalan yang dapat kita tanya. Jika kita tanya, dengan gaya yang khas mereka biasanya menjawab, &#8220;Lurus saja, nanti belok kanan, belok kiri. Di situ ada tikungan, mentok, ada pos kamling. Nanti disana nanya lagi aja.&#8221;</p>
<p>Sumarno Harjokartono, salahsatu praktisi pemetaan yang ikut membekali kami saat itu mengatakan bahwa kita memang masih kurang peduli dengan peta. “Padahal dengan adanya peta, kebijakan dan perencanaan pembangunan tataruang dapat terbantu dengan mudah. Bahkan warga juga bisa tahu luasan dan kondisi kawasan dengan fungsinya,” kata Sumarno. Jadi, lanjutnya, agar kebutuhan kita sebagai manusia yang membutuhkan petunjuk-petunjuk dapat dipenuhi, kita mulai saja sendiri memetakan sesuai minat dan kebutuhan sendiri.</p>
<p>Membaca peta adalah bagian tak terpisahkan dari tradisi membaca, berpikir, dan menganalisis. Buta baca peta akan menyebabkan “greget” dari sebuah informasi tidak akan tersampaikan. Ketika belajar sejarah, kita diajarkan bahwa Belanda membangun jalan pos yang menghubungkan sisi barat dengan sisi timur Pulau Jawa. Tidak ada yang istimewa.</p>
<p>Padahal kalau informasi itu disampaikan dengan dilengkapi peta rasanya akan lain. Dengan memberi prespektif geografis, asosiasi dan informasi, maka kita akan menangkap informasi itu lebih “greget.” Bukan sekadar jalan yang menghubungkan Anyer dengan Panarukan saja, tapi kita juga bisa membayangkan jalur yang dilaluinya yang berupa pantai, gunung. Termasuk dengan kota-kota yang dilaluinya.</p>
<p>Popo Dedi Iskandar, salahsatu peserta workshop itu mengatakan jalan-jalan dengan panduan peta itu sangat menyenangkan. “Saya biasanya hanya melintasi ruas-ruas jalan di Bandung begitu saja. Tidak tahu di kawasan tersebut ada tempat-tempat menarik,” katanya. “Bahkan bisa dinikmati dengan jalan kaki setelah tahu jalurnya.”</p>
<p>Ahmad Yunus, seorang peserta lainnya mengatakan bahwa inisiatif National Geographic Indonesia ini sangat baik. “Ajaklah komunitas-komunitas yang ada untuk memperbanyak informasi di PetaKita. Semakin beragam komunitas yang menyumbang semakin beragam pula informasi yang ada,” kata Yunus.***</p>
<p>National Geographic Indonesia Traveler Vol.1, No. 4, 2009</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=193&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2009/05/09/sepenggal-paris-van-java/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KLuB Perkenalkan Ubuntu 9.04</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2009/04/04/klub-perkenalkan-ubuntu-9-04/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2009/04/04/klub-perkenalkan-ubuntu-9-04/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2009 14:05:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linux]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[rumah pena]]></category>
		<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[klub]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Klub Linux Bandung (KLuB), Minggu (26/04/2009) memperkenalkan Ubuntu Linux terbaru versi 9.04 berjuluk Jaunty Jackalope. Acara yang digelar di Museum Konferensi Asia Afrika, Gedung Merdeka Jl Asia Afrika Bandung itu diikuti oleh sekitar 70 orang.
Peserta yang mengikuti Ubuntu Realese Party di Bandung itu berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar SMP, mahasiswa, dosen, dan profesional. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=195&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Klub Linux Bandung (KLuB), Minggu (26/04/2009) memperkenalkan Ubuntu Linux terbaru versi 9.04 berjuluk Jaunty Jackalope. Acara yang digelar di Museum Konferensi Asia Afrika, Gedung Merdeka Jl Asia Afrika Bandung itu diikuti oleh sekitar 70 orang.<span id="more-195"></span></p>
<p>Peserta yang mengikuti Ubuntu Realese Party di Bandung itu berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar SMP, mahasiswa, dosen, dan profesional. &#8220;Peserta juga datang dari seluruh penjuru mata angin Bandung. Dari Padalarang di barat hingga Rancaekek di timur. Dari Lembang di utara dan Dayeuhkolot di Selatan,&#8221; kata Andi Sugandi, salahsatu pegiat gerakan open source di Bandung.</p>
<p>Desmond, dari Meseum Konferensi Asia Afrika mengatakan bahwa pihaknya sangat mendukung gerakan open source. &#8220;Semangat kebersamaan dan berbaginya itu sama dengan semangat Konferensi Asia Afrika,&#8221; katanya.</p>
<p>Terdapat 3 versi pada rilis Ubuntu 9.04 ini, yaitu Desktop, Server dan Netbook Remix yang masing-masing dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pengguna Ubuntu. Terdapat banyak fitur-fitur terbaru, antara lain GNOME 2.26, sistem notifikasi terbaru, proses booting yang lebih cepat, dukungan filesystem Ext4, Linux kernel 2.6.28, dukungan untuk cloud computing, dan masih banyak lagi.</p>
<p>KLuB merupakan sebuah komunitas tempat berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam menggunakan open source software di Bandung. &#8220;Kita mengajak warga Bandung untuk menggunakan software legal. bahkan kita menawarkan software yang legal dan lisensinya bebas,&#8221; kata Andi. &#8220;Bebas digunakan, bebas dimodifikasi dan bebas didistribusikan.&#8221;</p>
<p>Selain berkomunikasi di ruang maya melalui milis maupun forum, anggota KLuB juga kerap kopi darat. Sebagai ruang berinteraksinya, KLuB secara rutin menggelar pertemuan di darat. &#8220;Kita setiap Sabtu sore bertemu di markas KLuB di Jl Tubagus Ismail 40,&#8221; kata Andi.***</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/195/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=195&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2009/04/04/klub-perkenalkan-ubuntu-9-04/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Menulis Deskripsi</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2009/03/09/belajar-menulis-deskripsi/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2009/03/09/belajar-menulis-deskripsi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 02:54:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Penulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Deskripsi adalah satu teknik menulis menggunakan detail dengan tujuan membuat pembaca seakan-akan berada di tempat kejadian, ikut merasakan, mengalami, melihat dan mendengar mengenai satu peristiwa atau adegan. Menulis deskripsi bisa membuat karakter yang digambarkan lebih hidup gambarannya di benak pembaca.   
Contoh tulisan deskriptif: potongan tulisan berjudul “Tolong Kasihani Kami …” (Kompas, 23 Juli [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=191&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Deskripsi adalah satu teknik menulis menggunakan detail dengan tujuan membuat pembaca seakan-akan berada di tempat kejadian, ikut merasakan, mengalami, melihat dan mendengar mengenai satu peristiwa atau adegan. Menulis deskripsi bisa membuat karakter yang digambarkan lebih hidup gambarannya di benak pembaca.   <span id="more-191"></span></p>
<p>Contoh tulisan deskriptif: potongan tulisan berjudul “Tolong Kasihani Kami …” (Kompas, 23 Juli 1991)</p>
<p><strong>Tolong Kasihani Kami… </strong></p>
<p>Seandainya penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) bisa bicara mungkin yang terucap adalah kalimat judul tulisan ini. Sayangnya, bersuara pun penyu-penyu itu tidak mampu. Kita tidak tahu apa yang dirasakannya saat pisau menyayat leher dan perutnya.</p>
<p>Di Jalan Sidakarya, kawasan Sesetan Denpasar, lebih dari 20 ekor penyu hijau tergeletak di halaman, tidak bisa bergerak karena kaki depannya terikat. Hanya kepala bergerak atau matanya menyipit. Karapas yang tadinya selalu terkena air laut nampak kering. Kadang penyu-penyu itu berhari-hari kekeringan menanti datangnya ajal di ujung pisau.</p>
<p>Sore itu, salah satu di antaranya sudah diletakkan terbalik di atas alas penjagalan. Ada desih lirih yang hampir-hampir tidak terdengar. Kaki belakang penyu yang tidak diikat meronta-ronta dan matanya berkedip-kedip ketika lehernya diiris pisau. Darah segar segera menetes ke ember penampungan. Semakin lama darah semakin deras mengalir karena luka irisan semakin besar menganga. Darah mulai berhenti mengalir saat leher hampir putus.</p>
<p>Di Tanjung Benoa, Bali, tempat penjagalan penyu lainnya di Pulau Bali, penyu dijagal lebih sadis. Penyu dalam keadaan hidup ketika Sanusi, 52, mengiris sambungan lunak karapas bawah dan karapas atas. Tidak terdengar suara apa pun dari sang penyu. Yang terdengar hanya bunyi mata pisau menyayat kulit lunak. Penyu sebesar hampir satu meter itu mencoba meronta walaupun itu tentu sia-sia. Kaki depannya telah diikat jadi satu. Hanya kaki belakang dan kepalanya yang bisa bergerak-gerak.</p>
<p>Kemudian dengan paksa, karapas bawahnya dibetot sampai lepas dari tubuhnya. Nampak isi bagian dalam yang tercabik berlumur darah. Siksaan belum berakhir sampai di sini. Saat daging dan isi perutnya diambil pun nampak kepala, kaki dan ekornya masih bergerak-gerak kesakitan, sampai akhirnya dia betul-betul mati. …</p>
<p><strong>Prinsip. </strong></p>
<p>Ada tiga prinsip dalam menulis deskriptif:</p>
<p>- Dalam penulisan deskripsi ada satu clear dominant impression (kesan dominan yang jelas). Misalnya kalau kita ingin menjelaskan mengenai seekor anjing, penting kita memilih dan memberi tahu pembaca apakah anjing itu mengancam atau binatang yang jinak menyenangkan. Kita harus memilih satu kesan dominan itu, tidak bisa dua-duanya. Kesan dominan ini akan memandu kita memilih detail dan ketika disusun dalam kalimat akan menjadi jernih bagi pembaca.</p>
<p>- Penulisan deskrispi bisa obyektif atau subyektif, memberikan penulis pilihan kata, warna kata, dan suasana yang cukup luas. Misalnya, deskripsi obyektif seekor penyu akan menyebutkan fakta tinggi, berat, warna, dan lainnya. Deskripsi subyektif tetap membutuhkan rincian obyektif itu tetapi juga menekankan perasaan penulis terhadap penyu itu, dan juga kebiasaan dan personalitinya, seperti penyu tidak bisa bersuara, selalu berada di air (laut), tidak bisa melawan ketika di daratan, kondisi kesakitan.</p>
<p>- Tujuan dari penulisan deskripsi adalah melibatkan pembaca sehingga ia bisa membayangkan sesuatu yang kita deskripsikan. Karena itu penting menggunakan detail yang spesifik dan konkret.</p>
<p><strong>Aturan </strong></p>
<p>- Penulisan deskripsi bergantung pada detail konkret yang ditangkap oleh panca indra. Ingat kita memiliki lima panca indra.</p>
<p>- Penulis harus hati-hati memilih detail untuk mendukung kesan utama yang dipilih. Atau dengan kata lain, penulis memiliki wewenang untuk menyingkirkan detail yang tidak sesuai dengan kesan utama.</p>
<p>- Deskripsi sangat sering bergantung pada emosi yang ingin ditunjukkan. Karena itu kata kerja, kata keterangan kata kerja, dan kata sifat lebih bisa digunakan menunjukkan emosi dibandingkan kata benda.</p>
<p>-Kecuali deskripsi yang obyektif, kita harus yakin kesan utama yang dipilih itu membuat pembaca percaya (suatu kondisi mental yang komplek menyangkut keyakinan, rasa, nilai, dan emosi)</p>
<p><strong>Strategi </strong></p>
<p>- Pertama coba sampaikan semua detail; kemudian kesan utama dibangun dengan detail ini.</p>
<p>- Pastikan detail Anda konsisten dengan kesan utama. Untuk memudahkan catat lima panca indra dalam selembar kertas, apa yang tersensor.</p>
<p>- Coba membawa pembaca berdasarkan urutan kronologis ruang dan waktu. Misalnya, menjelaskan urut-urutan perjalanan kereta dari satu tempat ke tempat lain atau menjelaskan aliran sungai dari mata air sampai ke rumah tangga.</p>
<p>- Gunakan pendekatan dulu-sekarang-nanti untuk menunjukkan proses perubahan atau perbaikan. Misalnya keadaan hutan sebelum ditebang, keadaan sekarang.</p>
<p>- Pilih emosi dan coba deskripsikan. Mungkin lebih sulit untuk memulainya tetapi akan berarti ketika sudah jadi.  Meningkatkan kemampuan menulis deskripsi, menajamkan indera  Banyak penulis frustasi karena cerita yang mereka tulis datar-datar saja dan tidak ada elemen kehidupan. Mengapa? Cerita tidak dalam dan tidak menarik karena pembaca tidak mendapatkan gambaran situasi yang jernih. Hanya melalui penulisan deskripsi penulis bisa mentransfer gambaran situasi yang hidup (antara lain karena menimbulkan emosi) dan jernih.</p>
<p>Untuk bisa menulis deskripsi dengan baik, panca indera (penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, perabaan) penulis menjadi penting. Bagaimana penulis bisa menajamkan panca inderanya?</p>
<p><strong>Latihan </strong></p>
<p>- Penglihatan: Lihat satu obyek/benda di depan Anda sekarang ini. Lupakan kata sifat dan coba mendeskripsikan obyek/benda itu. Kalau benda itu sepotong kue, misalnya, jangan menulis “sepotong kue yang enak” (enak adalah kata sifat), tetapi deskripsikan “bentuk kuenya, warna kuenya, ukuran kuenya, di mana kue diletakkan.” Coba buang sebanyak mungkin kata sifat dalam uraian Anda, dan gunakan kata benda untuk menggambarkan obyek itu. Contoh lain: jangan menuliskan “bunga indah” tetapi tunjukkan apa yang membuat bunga itu indah.</p>
<p>- Pendengaran: Ketika Anda ingin mendeskripsikan satu adegan, misalnya ruangan kelas yang berisik, pilihlah kata-kata yang sunguh bisa menangkap situasi itu dengan memunculkan suara-suara yang terdengar.</p>
<p>- Penciuman: Kesan dari indera penciuman sangat lama tersimpan di dalam benak daripada penglihatan atau suara. Kesan bau-bauan disimpan di otak terasosiasi dengan orang, benda, dan suasana ketika bau-bauan itu tercium. Di otak semua orang tersimpan berbagai pengalaman melalui indera penciuman yang diasosiasikan dengan tempat atau peristiwa dengan seseorang yang berbeda-beda.</p>
<p>Pengalaman ini sangat khas. Coba buat list bau-bauan dan asosiasinya. Misalnya, ketika mencium bau soto betawi mengingatkan Anda pada suasana rumah orangtua Anda. Seperti juga ketika mencoba mendeskripsikan berkait dengan apa yang Anda lihat, mendeskripsikan yang terkait dengan indera penciuman sulit karena sebenarnya Anda (di otak) tahu seperti apa bau-bauan yang ingin Anda deskripsikan tetapi sulit menjelaskannya.</p>
<p>Beberapa orang memiliki pengalaman yang sama menyangkut bau-bauan tertentu, misalnya kebanyakan orang tahu bau bunga melati. Ketika Anda bercerita mengenai perceraian, “Nina melangkahkan kakinya ke kebun penuh bunga. Harum melati membuatnya menjadi sedih. Harum bunga melati mengingatkannya pada suaminya yang masih dicintainya. Mengingatkannya pada hari bahagia ketika ia dan suami bersanding di pelaminan.”</p>
<p>- Pengecap: Cara paling mudah mendeskripsikan rasa ecap adalah dengan mengecap obyek yang akan dideskripsikan. Latihan: coba rasakan kue, kemudian deskripsikan.</p>
<p>- Perabaan: Tangan memilki indera peraba yang memberikan kesan tekstur di otak. Latihan: coba deskripsikan bola tenis.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/191/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=191&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2009/03/09/belajar-menulis-deskripsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Panduan Penulisan Mata Uang dan Angka</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2009/02/22/panduan-penulisan-mata-uang-dan-angka/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2009/02/22/panduan-penulisan-mata-uang-dan-angka/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2009 02:32:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Klub Tulis]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Penulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini panduan penulisan mata uang dan angka yang Jaringan Berita Pena Indonesia (JBPI) gunakan. Mungkin ada gunanya buat Anda yang kerap bingung menulis mata uang dan angka.
Panduan Penulisan Mata Uang dan Angka
Satuan uang asing (dolar AS mungkin bisa dikecualikan) harus dikonversi ke rupiah. Nama mata uang selalu ditulis dengan huruf kecil, kecuali di awal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=189&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Berikut ini panduan penulisan mata uang dan angka yang Jaringan Berita Pena Indonesia (JBPI) gunakan. Mungkin ada gunanya buat Anda yang kerap bingung menulis mata uang dan angka.</em><span id="more-189"></span></p>
<p><strong>Panduan Penulisan Mata Uang dan Angka</strong></p>
<p>Satuan uang asing (dolar AS mungkin bisa dikecualikan) harus dikonversi ke rupiah. Nama mata uang selalu ditulis dengan huruf kecil, kecuali di awal kalimat.</p>
<p>Contoh:<br />
Nilai tukar rupiah terhadap dolar selalu merosot.<br />
Saya kekurangan koleksi uang baht dan mark Jerman.</p>
<p>Kecuali dolar (aslinya dollar), nama mata uang selalu ditulis bentuk aslinya dan tidak ditulis miring. Misalnya: Mata uang Prancis adalah franc. Mata uang Ekuador adalah sucre. Mata uang Inggris adalah poundsterling.</p>
<p>Jumlah rupiah yang tertentu ditulis dengan lambang &#8220;Rp&#8221;, tanpa tanda titik. misalnya: Rp 151.350 (bukan Rp.151.350,00)<br />
Jumlah dolar ditulis dengan tanda: Contoh: US$ 1.523 (bukan 1.523 dolar AS) S$ 2.150 (bukan 2.150 dolar Singapura) A$ 3.250 (bukan 3.250 dolar Australia)</p>
<p>Jumlah setengah yang tidak menunjukkan lima persepuluh tidak ditulis dengan angka 0,5. Contoh: bukan 3,5 jam, tapi 3 jam 30 menit; 3.30 menit; 90 menit, atau tiga setengah jam. bukan 7,5 tahun, tapi 7 tahun 6 bulan; 90 bulan, atau tujuh setengah tahun.</p>
<p>Jumlah angka bulat juta, miliar, triliun ditulis dengan huruf. Misalnya: Ibu memberi uang saku Rp 2 juta (bukan Rp 2.000.000).<br />
Penduduk dunia tahun 2020 diperkirakan 5 miliar (bukan 5.000.000.000) orang.</p>
<p>Dengan alasan agar gampang dibaca, jumlah satu ribu sampai sembilan ribu masih ditulis dengan angka. Misalnya: Rp 1.000 bukan: Rp 1 ribu US$ 2.000 bukan: US$ 2 ribu 3.000 yen bukan: 3 ribu yen naik 1.000 persen bukan: naik 1 ribu persen menampung 2.000 orang bukan: menampung 2 ribu orang mengimpor 3.000 ton jagung bukan: mengimpor 3 ribu ton</p>
<p>Untuk jumlah sepuluh ribu ke atas, angka ribunya ditulis dengan huruf. Contoh: Rp 10 ribu bukan: Rp 10.000 A$ 352 ribu bukan: A$ 352.000 125 ribu yen bukan: 125.000 yen jarak 10 ribu kilometer bukan: jarak 10.000 kilometer menampung 20 ribu orang bukan: menampung 20.000 orang mengimpor 13 ribu ton bukan: mengimpor 13.000 ton</p>
<p>Catatan: Untuk angka sepuluh, seratus, seribu, sejuta bisa ditulis fleksibel, misalnya: Jangankan seratus tahun, seribu tahun pun saya akan setia menunggumu. Sayang, sejuta bintang di langit tak bisa menandingi kemilau wajahmu.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/189/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=189&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2009/02/22/panduan-penulisan-mata-uang-dan-angka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Laut Mereka Memanen Rumput</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2009/02/12/di-laut-mereka-memanen-rumput/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2009/02/12/di-laut-mereka-memanen-rumput/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 23:13:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[pulau buton]]></category>
		<category><![CDATA[rumput laut]]></category>
		<category><![CDATA[sulawesi tenggara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[
Jalesveva jayamahe, di laut kita jaya. Dan harusnya, kejayaan juga menyangkut kesejahteraan jiwa dan raga penduduk yang tercukupi kebutuhan pangan, sandang, papan, dan pendidikan pada seluruh pulau di Nusantara. 
Robo, warga Desa Selmona, Kepulauan Aru (Provinsi Maluku), kini mampu mengepulkan asap dapurnya sepanjang tahun tanpa berutang. Itu salah satunya berkat pemasukan dari usaha pembudidayaan rumput [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=183&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em></em></p>
<div id="attachment_185" class="wp-caption alignleft" style="width: 227px"><em><em><img class="size-medium wp-image-185" title="rumput-laut-karyajaya-buton11" src="http://asep.files.wordpress.com/2009/02/rumput-laut-karyajaya-buton11.jpg?w=217&#038;h=290" alt="Warga Karya Jaya, Pulau Buton Sulawesi Tenggara mengepulkan asap dapurnya dari budidaya rumput laut. " width="217" height="290" /></em></em><p class="wp-caption-text">Warga Karya Jaya, Pulau Buton Sulawesi Tenggara mengepulkan asap dapurnya dari budidaya rumput laut. </p></div>
<p><em>Jalesveva jayamahe, di laut kita jaya. Dan harusnya, kejayaan juga menyangkut kesejahteraan jiwa dan raga penduduk yang tercukupi kebutuhan pangan, sandang, papan, dan pendidikan pada seluruh pulau di Nusantara. </em></p>
<p>Robo, warga Desa Selmona, Kepulauan Aru (Provinsi Maluku), kini mampu mengepulkan asap dapurnya sepanjang tahun tanpa berutang. Itu salah satunya berkat pemasukan dari usaha pembudidayaan rumput laut.</p>
<p>Bagi penduduk kepulauan seperti Robo dan para warga Desa Selmona lain yang dikaruniai lahan berupa laut nan luas, budidaya rumput laut merupakan kegiatan yang sangat menjanjikan.  <span id="more-183"></span></p>
<p>“Selmona kini semakin hidup karena rumput laut,” katan Robo. “Kami sudah tidak sulit makan dan dapat membiayai sekolah anak di kota.”</p>
<p>Budidaya rumput telah memberi jalan keluar bagi warga Selmona dari belitan masalah ekonomi. Warga tekun menggeluti budidaya rumput laut sejak awal. Kegiatan ini makin berkembang dengan dorongan Yayasan Sitakena untuk menumbuhkan peluang hidup lebih baik bagi warga.</p>
<p>Mereka datang mendukung warga untuk melihat potensi desa yang dapat dikembangkan dengan beradaptasi pada iklim yang berubah. Dan solusi yang mereka pilih adalah mengajak warga membudidayakan rumput laut.</p>
<p><strong>Ladang rumput laut di Buton</strong><br />
Meningkatnya kualitas hidup Robo dan warga Desa Salmona di Kepulauan Aru juga dinikmati Tahinuddin di Desa Sulaa, Pulau Buton (Provinsi Sulawesi Tenggara).</p>
<p>Pada 2006, Tahinuddin bersama tujuh orang temannya yang membudidayakan rumput laut membentuk kelompok pengelola budidaya rumput laut bernama Sabar Menanti. Jaringan Pengembangan Kawasan Pesisir (JPKP) Buton, sebuah lembaga sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Pulau Buton membantu kelompok tersebut.</p>
<p>Pada saat panen rumput laut pertama kali, Tahinuddin memperoleh 1,2 ton rumput laut kering. Pada saat itu harga di Bau-Bau, kota utama di Pulau Buton, mencapai Rp 4.900 per kilogram. Sehingga, pada panen pertama itu Tahinuddin mendapatkan hasil sebesar Rp 5.880.000, dari modal awal sekitar Rp 2 juta.</p>
<p>“Pada 2007, saya sisihkan hasil penjualan untuk menambah modal. Dengan modal Rp 3,5 juta, hasil panen berikutnya dapat 2,1 ton,” kata Tahinuddin. “Harga jual saat itu mencapai Rp 6.200 per kilogram, jadi saya bisa mendapat uang Rp 13.020.000.”</p>
<p>Persoalan penduduk pulau kecil warga yang tinggal di kawasan pesisir pantai biasanya dikenal sebagai nelayan penangkap ikan. Tapi mahalnya biaya untuk melaut karena naiknya harga bahan bakar membuat sebagian besar nelayan tidak bisa pergi mencari ikan.</p>
<p>Iklim yang berubah tak menentu juga membuat bingung nelayan menentukan waktu yang tepat melaut. Perubahan iklim membuat nelayan miskin yang menggunakan perahu kecil tak mau mengambil resiko berhadapan dengan ombak besar yang bisa datang kapan saja tanpa bisa diterka.</p>
<p>Nelayan di Pulau Jawa pada saat berhenti melaut masih memiliki pilihan pekerjaan lain, terutama menjadi pekerja kasar pada berbagai sektor. Tapi bagi nelayan yang tinggal di pulau-pulau kecil dan terpencil yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara, tak ada pilihan lain.</p>
<p>Ombak besar yang mengepung tempat tinggalnya dan siap menelan apa saja memaksa nelayan di pulau-pulau kecil tak melaut karena resikonya terlalu mahal. Artinya, berbeda dengan nelayan di Pulau Jawa yang masih punya pilihan pekerjaan alternatif, para nelayan di pulau-pulau terpencil kehilangan pekerjaan sama sekali pada saat ombak tinggi.</p>
<p>Warga di Kabupaten Kepulauan Aru merupakan salah satu komunitas yang tidak bisa memperoleh pendapatan sepanjang tahun karena terpencil dan berubahnya iklim itu.</p>
<p>Desa-desa yang berada di pulau-pulau yang menjadi gugusan Kepulauan Aru, untuk menuju Dobo, ibukota kabupaten itu harus menggunakan perahu dengan menyusuri lautan hingga beberapa jam. Misalnya warga Desa Selmona yang posisinya di utara Kepulauan Aru, membutuhkan waktu hingga tujuh jam dengan perahu bermesin diesel ganda untuk mencapai Dobo.</p>
<p><strong>Titik terang</strong></p>
<div id="attachment_187" class="wp-caption alignright" style="width: 388px"><img class="size-full wp-image-187" title="rumput-laut-aru" src="http://asep.files.wordpress.com/2009/02/rumput-laut-aru.jpg?w=378&#038;h=288" alt="Rumput laut juga memberi berkah bagi warga Selmona, sebuah desa terpencil di Kepulauan Aru, Maluku." width="378" height="288" /><p class="wp-caption-text">Rumput laut juga memberi berkah bagi warga Selmona, sebuah desa terpencil di Kepulauan Aru, Maluku.</p></div>
<p>Berhasilnya budidaya rumput laut yang dilakukan kelompok Sabar Menanti di Buton, kata Asman, pegiat JPKP, karena rajin merawat dan punya semangat untuk hidupnya berubah menjadi lebih baik.</p>
<p>“Dengan berkelompok mereka saling belajar bagaimana merawat rumput laut yang baik. Hasilnya sangat luar biasa. November 2008, Tahinuddin mampu menghasilkan 3 ton dengan harga jual mencapai Rp 32 juta,” papar Asman.</p>
<p>Sejak Januari 2008, Tahinudin bersama anggota kelompok Sabar Menanti lainnya mulai melakukan pengembangan usaha. Selain membudidayakan rumput laut, mereka juga melakukan pembibitan rumput laut. Mereka merasakan kegiatan ini sebagai peluang usaha yang menjanjikan.</p>
<p>“Dengan makin banyaknya orang yang membudidayakan rumput laut, kian banyak pula permintaan akan bibit rumput laut yang baik,” kata Tahinuddin.</p>
<p>Pembibitan rumput laut perlu waktu lebih singkat antara Januari hingga Mei sepanjang tahunnya. “Kami menyesuaikan waktu pembibitan dengan waktu penanaman rumput laut oleh kawan-kawan pembudidaya di Pulau Buton dan sekitarnya,” lanjut Asman.</p>
<p>Penjualan bibit rumput laut oleh kelompok Sabar Menanti ini mampu mencapai 360 ikat. Dengan harga jual untuk satu ikat mencapai Rp 50 ribu, mereka memperoleh pendapatan hingga Rp 18 juta dalam satu periode pembibitan.</p>
<p>Kelompok Sabar Menanti membuat pembibitan rumput laut di Desa Wantopi, Buton. Dari situ mereka memasarkan bibit tersebut di kota Bau-bau dan Kabupaten Buton.  Dengan membudidayakan rumput laut yang digelutinya sejak tiga tahun ini, Tahinuddin dan anggota kelompok Sabar Menanti, Desa Sulaa itu hidup kian sejahtera.</p>
<p>“Dari hasil rumput laut, saya bisa membeli perahu bermotor untuk merawat rumput laut dan sepeda motor untuk di darat,” katanya.***</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/183/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=183&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2009/02/12/di-laut-mereka-memanen-rumput/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asep.files.wordpress.com/2009/02/rumput-laut-karyajaya-buton11.jpg?w=224" medium="image">
			<media:title type="html">rumput-laut-karyajaya-buton11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asep.files.wordpress.com/2009/02/rumput-laut-aru.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rumput-laut-aru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menumbuhkan Peluang pada Iklim yang Berubah</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2008/12/17/menumbuhkan-peluang-pada-iklim-yang-berubah/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2008/12/17/menumbuhkan-peluang-pada-iklim-yang-berubah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Dec 2008 02:36:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[oxfam GB]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[pesisir]]></category>
		<category><![CDATA[pulau terpencil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Kepulauan Aru di Maluku sangat kayan dengan sumber daya lautnya. Hanya dengan memancing semalam, warga Marlasi, Aru Utara ini mampu mendapat sepikulan ikan segar. <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=173&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="wp-caption alignleft" style="width: 363px"><img title="Petani Sayur Tanimbar" src="http://farm4.static.flickr.com/3220/3115038586_7b41c5a889.jpg?v=0" alt="Vitalis, warga Bomaki, Kepulauan Tanimbar, Maluku menghidupi keluarganya dari bertani sayuran." width="353" height="500" /><p class="wp-caption-text">Vitalis, warga Bomaki, Kepulauan Tanimbar, Maluku menghidupi keluarganya dari bertani sayuran.</p></div>
<p>Perubahan iklim sangat berbahaya bagi masyarakat miskin dan masyarat pesisir di berbagai belahan dunia. Begitu juga denbgan masyarakat di Indonesia yang terdiri atas jutaan pulau-pulau. Pada pulau-pulau terpencil, perubahan iklim sangat terasa dampaknya. Hujan yang tak tentu datangnya membuat mereka mengalami kerawanan pangan. Untuk memperoleh hasil laut terhadang ombak besar. Dan untuk bercocok tanam tergantung guyuran hujan. <span id="more-173"></span></p>
<p>Kehidupan petani di Kepulauan Tanimbar, misalnya. Petani miskin di sana mengatakan bahwa saat ini ada masalah dalam pertanian. Mereka mengeluh bahwa masa tanam sekarang hanya sekali setahun. Masalahnya mereka tidak bisa memprediksi curah hujan. Sehingga tidak tahu kapan saatnya menanam dan kapan saatnya panen.</p>
<p>Agar petani dapat mejalani hidupnya sepanjang tahun dalam perubahan iklim ini mereka harus diajak beradaptasi. “Oxfam GB berupaya melangkah untuk menumbuhkan peluang masyarakat miskin di pulau terpencil menyiasati perubahan iklim,” kata Aloysius Suratin, Manajer Program Building Opportunities, Oxfam GB Kantor Makassar.</p>
<p>Secara sederhana, Oxfam GB berupaya agar masyarakat disana dapat memenuhi hidupnya sepanjang tahun dengan menyesuaikan kondisi musim. Sebagai model, Oxfam GB membuat program “Menumbuhkan Peluang” itu di Pulau Tunda Banten, Pulau Buton dan Muna Sulawesi Tenggara, serta Kepulauan Tanimbar dan Kepulauan Aru di Maluku.<img class="alignright" title="aloy" src="http://farm4.static.flickr.com/3274/3114260489_3a225d811e.jpg?v=0" alt="" width="329" height="212" /></p>
<p>Dipilihnya pulau-pulau itu karena letaknya yang sangat terpencil dan perubahan iklim dampaknya sangat terasa langsung. Sebagian besar warga di sana hidup di pesisir pantai yang lautnya sangat dipengaruhi iklim. “Dulu musim itu dapat diprediksi, sehingga masyarakat akan tahu kapan hujan dan kapan kemarau. Tapi dengan pemanasan global, iklim menjadi berubah tak tentu waktunya,” imbuh Aloy, panggilan akrabnya.</p>
<p>Tak tentunya musim itu berakibat pada pemenuhan kebutuhan masyarakat di pulau-pulau terpencil itu. Selama ini, untuk menyambung hidup mereka mengandalkan sumber daya yang ada di laut. Tapi dengan perubahan iklim yang tidak menentu, waktu melaut mereka juga kina tak menentu. Pasalnya musim gelombang ombak yang besar dapat datang tiba-tiba. Tentunya mereka tidak bisa melaut jika gelombang ombak besar datang. Karena selama ini mereka hanya menggunakan perahu dayung kecil yang tak mampu menerjang ombak besar.</p>
<p>“Jika tidak melaut, sudah pasti mereka tidak dapat memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan saja yang erat kaitannya dengan kesehatan dan kelangsungan hidup mereka tidak mampu,” kata Wahyu Irianto, Program Officer Building Opportunities Oxfam GB Makassar.</p>
<p>Oxfam GB datang ke pulau-pulau terpencil itu untuk membangun peluang baru bagi masyarakat disana agar mampu memenuhi kebutuhan pangannya sepanjang tahun. Dalam musim ombak tenang mereka bisa memperoleh hasil laut, dan pada musim ombak besar mereka dapat memanfaatkan hasil alam di darat serta tabungan dari hasil melaut.</p>
<p>Agar program dapat berjalan dengan baik dan efektif, Oxfam GB dengan dukungan Komisi Eropa, menggandeng lembaga swadaya masyarakat lokal di lokasi program. Jaringan Pengembangan Kawasan Pesisir (JPKP) Buton bekerja di Pulau Buton dan Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Yayasan Sor Silai bekerja di Kepulauan Tanimbar, Maluku. Dan Yayasan Sitakena bekerja di Kepulauan Aru, Maluku.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 319px"><img title="Kepulauan Aru Masih Kaya Hasil Lautnya" src="http://farm4.static.flickr.com/3096/3115090540_709f9f8ec3.jpg?v=0" alt="Kepulauan Aru di Maluku sangat kayan dengan sumber daya lautnya. Hanya dengan memancing semalam, warga Marlasi, Aru Utara ini mampu mendapat sepikulan ikan segar. " width="309" height="221" /><p class="wp-caption-text">Kepulauan Aru di Maluku sangat kayan dengan sumber daya lautnya. Hanya dengan memancing semalam, warga Marlasi, Aru Utara ini mampu mendapat sepikulan ikan segar. </p></div>
<p>Agar masyarakat di pulau-pulau terpencil itu mampu beradaptasi dengan iklim yang tak menentu itu, Oxfam GB memberikan bantuan pelatihan dan modal kerja. “Tahap pertama yang dilakukan adalah membangun kelompok-kelompok masyarakat. Kelompok itu disesuaikan dengan karakter masing-masing tempat,” kata Aloy.</p>
<p>Ada kelompok penangkap ikan, pengolahan hasil ikan, budidaya rumput laut, pertanian, peternakan, penjual ikan, dan penjual kue. “Selain itu kami juga mendorong kelompok-kelompok itu membuat koperasi,” imbuh Aloy.</p>
<p>Dengan adanya koperasi, diharapkan masyarakat dapat menabung dan mengelola keuangan dengan produktif. “Selain itu agar mampu lepas dari jeratan utang rentenir,” timpal Yustina Ike Christanti, Program Officer Building Opportunities Oxfam GB Makassar.</p>
<p>Setelah kelompok itu kuat, berbagai pelatihan diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Pelatihan budidaya, pengolahan hasil, dan pengetahuan akses pasar diberikan kepada kelompok-kelompok tersebut,” kata Asman, pegiat JPKP Buton.</p>
<p>Dengan berbagai pelatihan itu, sambung Asman, masyarakat dapat memperoleh informasi dan motivasi untuk mandiri. “Yang sangat sulit adalah proses pendampingannya. Kalau tidak terus dimotivasi secara rutin, mereka suka berpuas diri dengan yang didapat dan jelek dalam pengelolaan keuangan,” imbuhnya.</p>
<p>Hal senada disampaikan Felix, Direktur Yayasan Sor Silai Tanimbar. Menurutnya, jika pendampingan tidak rutin dilakukan, masyarakat suka cepat berpuas diri. “Yang berat adalah memotivasi mereka untuk berpikiran maju. Karena lokasi desa dampingan yang jauh, sangat menyulitkan pendampingan secara sering,” kata Felix.</p>
<p>Bagi Oxfam GB, pangan merupakan hak setiap warga negara yang harus dipenuhi negara. “Tapi hingga kini baru dianggap sebagai komoditi. Sehingga orang miskin sangat sulit memperolehnya,” kata Ike, panggilan Yustina.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img title="Menuju Keluarga Sejahtera di Pulau Terpencil" src="http://farm4.static.flickr.com/3186/3115796300_3569d8a3f0.jpg?v=0" alt="Keluarga di Kepulauan Tanimbar ini kehidupannya sangat dipengaruhi alam. Saat angin barat tiba yang membuat ombak di laut tinggi, mereka tidak dapat mencari nafkah di laut. Dengan belajar berkebun, mereka dapat hidup sepanjang tahun dengan mengikuti siklus musim." width="500" height="259" /><p class="wp-caption-text">Keluarga di Kepulauan Tanimbar ini kehidupannya sangat dipengaruhi alam. Saat angin barat tiba yang membuat ombak di laut tinggi, mereka tidak dapat mencari nafkah di laut. Dengan belajar berkebun, mereka dapat hidup sepanjang tahun dengan mengikuti siklus musim.</p></div>
<p>Masalah lainnya, sambung Ike, adanya politisasi nasi pada masa lalu. “Dulu semua warga Indonesia diajarkan bahwa yang namanya pangan yang utama adalah nasi. Ini sekarang menjadi masalah serius bagi masyarakat di pulau-pulau terpencil yan g tidak mengenal menanam padi,” katanya.</p>
<p>Dengan mengutamakan nasi sebagai pangan, masyarakat pesisir sangat tergantung pada pasokan beras dari luar. Dan karena ongkos kirim yang mahal, harga beras disana juga menjadi sangat mahal.</p>
<p>“Perubahan iklim dan ketergantungan pangan dari luar menjadi faktor penyebab kerentanan pangan terjadi di pulau-pulau terpencil,” tutur Aloy.</p>
<p>Program Building Opportunities yang digelar Oxfam GB dengan mitra-mitranya atas dukungan Komisi Eropa ini bertujuan melepaskan masyarakat di pulau terpencil lepas dari kerentanan pangan. “Jika masyarakat mampu beradaptasi pada perubahan iklim dengan ketrampilannya, tentu mereka akan dapat memenuhi kebutuhan pangannya,” pungkas Aloy.***</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/173/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=173&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2008/12/17/menumbuhkan-peluang-pada-iklim-yang-berubah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm4.static.flickr.com/3220/3115038586_7b41c5a889.jpg?v=0" medium="image">
			<media:title type="html">Petani Sayur Tanimbar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm4.static.flickr.com/3274/3114260489_3a225d811e.jpg?v=0" medium="image">
			<media:title type="html">aloy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm4.static.flickr.com/3096/3115090540_709f9f8ec3.jpg?v=0" medium="image">
			<media:title type="html">Kepulauan Aru Masih Kaya Hasil Lautnya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm4.static.flickr.com/3186/3115796300_3569d8a3f0.jpg?v=0" medium="image">
			<media:title type="html">Menuju Keluarga Sejahtera di Pulau Terpencil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Seribu Pulau</title>
		<link>http://asep.wordpress.com/2008/12/12/perjalanan-seribu-pulau/</link>
		<comments>http://asep.wordpress.com/2008/12/12/perjalanan-seribu-pulau/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 07:53:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Saefullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[kawasan timur indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pesisir]]></category>
		<category><![CDATA[pulau terpencil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asep.wordpress.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[November hingga Desember 2008 ini, saya melakukan perjalanan ke pulau-pulau di kawasan Indonesia Timur. Pulau Buton, Pulau Muna, Kepulauan Tanimbar, dan Kepulauan Aru yang saya kunjungi. Untuk mengunjungi pulau-pulau tersebut saya singgah di Makassar, Kendari, dan Ambon. Senangnya bisa bersua dengan teman-teman lama di kota-kota tersebut.
Saat catatan ini saya tulis 19 November 2008, sedang di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=169&subd=asep&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignright" src="http://farm4.static.flickr.com/3043/3114960991_cde99b1248.jpg?v=0" alt="" width="257" height="194" />November hingga Desember 2008 ini, saya melakukan perjalanan ke pulau-pulau di kawasan Indonesia Timur. Pulau Buton, Pulau Muna, Kepulauan Tanimbar, dan Kepulauan Aru yang saya kunjungi. Untuk mengunjungi pulau-pulau tersebut saya singgah di Makassar, Kendari, dan Ambon. Senangnya bisa bersua dengan teman-teman lama di kota-kota tersebut.<span id="more-169"></span></p>
<p>Saat catatan ini saya tulis 19 November 2008, sedang di Bandara Pattimura, Ambon. Menikmati akses internet lelet sambil menunggu pesawat Trigana yang akan membawa saya ke Saumlaki, ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB). Di Saumlaki, saya akan mengunjungi beberapa desa di Kepulauan Tanimbar.</p>
<p>Dari Saumlaki di Kepulauan Tanimbar, saya akan menuju Kepulauan Aru. Entah lewat laut atau udara. Tergantung moda transportasi yang akan saya dapatkan nanti.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 399px"><img title="Ferry, Transportasi Utama di Maluku Tenggara" src="http://farm4.static.flickr.com/3096/3115796634_dfdf3ec417.jpg?v=0" alt="" width="389" height="244" /><p class="wp-caption-text">Maluku Tenggara terdiri atas gugusan pulau-pulau. Tanimbar, Kei, dan Aru terdapat di Maluku Tenggara. Untuk menghubungkannya, satu ferry KMP Kormomolin menyusurinya untuk mengantar orang, barang dan hewan.   </p></div>
<p>Baru Pulau Buton dan Pulau Muna yang saya telah kunjungi. Banyak cerita menarik dan berbagai kearifan lokal warga di sana dalam menjalani hidup. Kehidupan di pulau-pulau itu sangat tergantung dengan alam. Saat memasuki musim angin barat yang menimbulkan ombak di laut besar, pendapatan mereka menurun. Bahkan banyak juga yang tidak dapat memperoleh pendapatan sama sekali, karena tak bisa melaut.</p>
<p>Sampai jumpa dengan cerita-cerita saya nanti usai perjalanan ini.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asep.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asep.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asep.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asep.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asep.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asep.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asep.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asep.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asep.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asep.wordpress.com/169/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asep.wordpress.com&blog=119471&post=169&subd=asep&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asep.wordpress.com/2008/12/12/perjalanan-seribu-pulau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7770514aab575194e6338d451a2679c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm4.static.flickr.com/3043/3114960991_cde99b1248.jpg?v=0" medium="image" />

		<media:content url="http://farm4.static.flickr.com/3096/3115796634_dfdf3ec417.jpg?v=0" medium="image">
			<media:title type="html">Ferry, Transportasi Utama di Maluku Tenggara</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>