Senin siang kemarin, saya harus menuju Purwokerto. Kereta api menjadi pilihan transportasi ke sana dari Cirebon. Alasannya karena di kereta dapamerokok dengan leluasa tanpa menganggu kenyamanan orang. Beberapa saat setelah kereta meninggalkan Stasiun Cirebon, kondektur mulai memeriksa tiket. Di gerbong yang saya tumpangi, semuanya menunjukkan tiket. Saat kondektur tiba di depan saya. “Cirebon,” ucap saya singkat padanya. Dan kondektor yang dikawal seorang polisi itu bergegas meninggalkan saya.
Dalam hati saya berucap, sakti juga ya kata Cirebon. Padahal tiket kereta Sawung Galih siang itu tiketnya sekitar Rp 70 ribu.
Tapi ucapan sakti itu tidak tiba-tiba muncul dari mulut saya begitu saja. Saat memasuki Stasiun Cirebon, saya larak-lirik jadwal kereta di loket penjualan tiket menuju arah timur. Baru saja baca jadwal yang tertera, seorang petugas keamanan stasiun menyapa.
“Ke mana Mas,” ucapnya. “Ke Purwokerto,” jawab saya. “Langsung aja masuk,” katanya sambil menggiring saya ke dalam stasiun. Penjaga pintu masuk stasiun yang biasa memeriksa tiket dan memungut uang peron bagi pengantar atau penjemput, saat itu tersenyum ramah dan mempersilahkan saya masuk.
Setelah di dalam stasiun saya duduk nyaman sambil memperhatikan gera-gerik semua orang di Stasiun Cirebon siang itu. Lucu juga ternyata. Banyak hal unik pada kehidupan di stasiun. Mulai dari petugas keamanan, calon penumpang dari kalangan penegak hukum, kondektur serta calon penumpang.
Setelah menanti cukup lama, saya dipanggil petugas keamanan yang menyapa tadi ke sebuah kantin. Begitu berhadapan Ia berkata, keretanya sudah mau masuk. Makna yang saya pahami dari kalimat itu Ia minta ongkosnya dibayar sekarang. Saya sodorkan selembar uang Rp 50 ribu padanya.
Tak lama kereta pun muncul. Saya diantar naik kereta tersebut dan dicarikan kursi kosong. Setelah saya duduk Ia berpesan. “Nanti bilang aja Cirebon pada kondekturnya,” ucapnya.
Begitu pengalaman saya tentang saktinya kata “Cirebon”.




