Bulan Juni lalu, di Bandung diadakan Forum Asia Afrika. Hasilnya, ada deklarasi yang memuat langkah-langkah perlindungan dan pengakuan kekayaan intelektual negara-negara Asia-Afrika di dunia internasional.
Mereka sepakat bersama-sama melindungi budaya tradisional dan sumberdaya alam dari penjarahan oleh negara-negara maju. Selama ini dengan teknologinya, negara maju mengeksploitasi dan mendapat hasil yang besar. Namun,tidak ada keuntungan ekonomi yang berarti bagi negara asal.
Kepedulian terhadap budaya lokal ternyata telah lama dilakukan Indramayu. Yang cukup fenomenal,Indramayu telah mendaftarkan Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) atau hak cipta motif batik Indramayu.
Langkah tersebut merupakan terobosan baru yang luar biasa. Motif batik tradisional Indrmayu itu didaftarkan ke Ditjen HaKI Departemen Kehakiman guna mendapatkan perlindungan hukum.
Pendaftaran hak cipta motif batik Indramayu bertujuan melindunginya dari pembajakan dari pihak lain yang merugikan.Dengan terdaftarnya motif batiktersebut,Indramayu dapat memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakannya. Imbalan bagi Indramayu tergantung kesepakannya dengan pengguna.
Dalam era teknologi saat ini, pembajakan motif batik dapat dilakukan dengan mudah. Begitu juga dengan kreativitas menciptakan motif-motif batik baru daqpat dilakukan dengan mudah. Beberapa industri batik telah menggunakan komputer untuk membuat desain motif-motif baru, atau memodifikasi motif yang ada.
Jika kita konsisten dengan hak cipta, tentunya kita juga akan menggunakan aplikasi komputer legal untuk mendesain motif batik. Masalahnya, hingga kini masih banyak yang menggunakan aplikasi bajakan untuk mengembangkan usahanya. Tentunya itu dilakukan karena harga aplikasi legal sangat mahal.
Menghadapi masalah itu sebenarnya sangat mudah. Gerakan Open Source di dunia teknologi informasi mampu membuat teknologi memberi manfaat kepada semua pihak. Dengannya orang dapat menggunakan komputer dengan cara yang halal dan murah.
Untuk membuat atau memodiofikasi motif batik, aplikasi open source dapat diperoleh dengan bebas.
GIMP (GNU Image Manipulation) bisa dijadikan alternatif pengganti Photoshop. GIMP yang bisa diunduh di www.gimp.org. Software lainnya adalah Irfan View yang bisa diunduh di www.irvanview.com. Ia mampu menampilkan gambar atau foto sekaligus menyuntingnya.
Kalau ingin lebih mudah, sebenarnya bisa menggunakan linux dari berbagai distro yang ada. Ubuntu misalnya, ia distro yang cukup lengkap dan penggunaanya mudah. Kelebihan lainnya adalah dukungan komunitasnya di Indonesia yang sangat aktif.
Jadi dengan open source, kita dapat berkarya tanpa membajak.****





hehe ubuntu yah bos, emang keren tuh SO. ada yang bilang SO yang dipake menunjukkan pribadi orang yang pake loh. misal klo pake Win berarti orangnya gak mau susah, pake mac orangnya apik2 dan suka seni, nah klo orang yang pake linux gimana tuh….?
By: himura on July 6, 2007
at 1:51 am
Yang pake linux, orang kere yang gak sanggup beli Windows dan produk Apple
Selain itu ia lagi demam karena dipatuk pinguin. Sehingga kerjanya ngomporin orang pakai linux
By: asf on July 6, 2007
at 3:03 am
pemerintah harus perbaiki daya beli masyarakatnya, baru bisa kampanye anti barang bajakan.
intinya *DAYA BELI*
By: neen on July 6, 2007
at 4:53 am
postingan under theme “pembajakan” makin banyak aja, saya jadi ngerti ternyata masih ada segelintir rakyat indonesia yang masih save dengan orisinalitas.
By: the23wind on July 6, 2007
at 8:20 am
semoga bukan krn ‘asal gratis’ ya kang..
masi ada pilihan alternatif lain..kalo mau legal..
By: dani iswara on July 6, 2007
at 2:56 pm
hidup XP .. huehehe
By: hhan on July 6, 2007
at 5:10 pm
Seperti kata Gus Pur, “githu aja kok repot….”
mau pilih win , mac , atau linux asal legal seeh nggak apa2x toh. yang penting nggak melanggar hukum beres.
By: S3s4t on July 8, 2007
at 3:59 am
@neen
Daya beli memang harus ditingkatkan. Itulah fungsinya pengelola negara. Kalau gak sanggup meningkatkan daya beli, ya jangan boros dong menggunakan duit rakyat untuk bersenang-senang.
Kalau ada software yang dapat diperoleh dengan bebas, kenapa harus beli
@the23wind
Lisensi dan hak cipta memang mainan industri. Tapi kita juga harus menghargai hasil olah pikir para pencipta.
@dani iswara
Ya.. Tentu saja bebas (free), bukan berarti gratis. Yang terpenting adalah semangat berbagi dan penghargaan terhadap jerih payah orang lain.
@hhan
XP memang sisitem operasi yang membuat saya nakal. Terima kasih XP, Anda telah memberikan saya pengalaman berkencan dengan komputer yang nyaman. Dan saya juga telah membayar harga lisensi Anda
XP, Anda masih saya simpan dgn rapih. Anda nyaman kan berdampingan dengan CD Mandriva dan Ubuntu dalam satu box
@S3sat
Ya… kita bebas memilih. Mau Windows, Mac, atau Linux. Tapi kalau ada yang bebas, kenapa mesti ambil yang harus dibayar mahal? Terutama bagi lembaga pemerintah yang menggunakan duit rakyat.
By: asf on July 8, 2007
at 10:26 am
wah ubuntu sekarang jadi OS kesayanganku…
kalo browsing, demen banget pake OS ini, tapi kadang2 ke windows juga…
masih pake windows euy lom berani full ke linux, soalnya lagi nunggu alternatif aplikasi web design yang bisa nyaingi dreamweaver di linux…
By: bobby on September 4, 2007
at 3:05 pm