Cirebon, Kota Udang yang Pudar

Dulu Cirebon dikenal sebagai ”kota udang”, penghasil udang dan ikan tangkapan laut lain terkemuka di pesisir Indonesia. Sebutan ”kota udang” dicetuskan sejak tahun 1937, menandai logo kota yang sah, berikut dua patung relief udang besar terpampang di atas gedung Balai Kota. Setiap sudut kota dan tiang-tiang lampu penerang jalan pun disemarakkan gambar-gambar udang.

Namun, sebutan ini makin pudar belakangan. Melihat data-data perikanan Indonesia, wilayah Cirebon dan Ciayumajakuning secara umum tak lagi dominan sebagai penghasil udang, atau bahkan jenis ikan laut lain.

Data kabupaten/kota Cirebon dan Indramayu menunjukkan wilayah ini menghasilkan 111.860 ton hasil perikanan laut pada tahun 2005/2006. Namun, data Departemen Keluatan dan Perikanan 2005 menunjukkan, Pelabuhan Ikan Cirebon diperkirakan hanya menyumbang 1,8% saja produksi udang nasional. Dilihat dari hasil udang tangkapan oleh nelayan ke laut, Cirebon menyumbang lebih kecil lagi, kurang dari 1%. Jelaslah, predikat kota udang sudah harus dicopot dari Cirebon. Manado dan Ambon lebih tepat memiliki predikat itu, dengan produksi udang jauh melampaui Cirebon.

Tak hanya Cirebon telah kehilangan predikat kota udang, perannya sebagai pelabuhan perikanan secara umum pun terus merosot. Cirebon hanya menyumbang 1,8% produksi ikan tuna tangkapan nasional.

Merosotnya pelabuhan perikanan juga ditunjukkan oleh minimnya ekspor produk perikanan. Cirebon adalah satu dari 39 kota pelabuhan yang memiliki Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan. Tapi, laboratorium ini hanya mengeluarkan 31 sertifikat ekspor untuk produk perikanan yang memenuhi kualitas untuk dikirim ke Uni Eropa. Serifikat ekspor paling sedikit di antara laboratorium utama di seluruh Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon sendiri menunjukkan produksi udang yang terus merosot dari tahun ke tahun. Pada tahun 1998 produksi udang masih 222 ton, tapi merorot menjadi 131 ton pada 2004.

Kondisi tidak jauh berbeda terjadi di Kabupaten Cirebon. Dari produksi sebesar 833 ton pada tahun 2000, anjlok menjadi 874 ton pada 2004.

Kehancuran budidaya udang di Cirebon disebabkan berbagai faktor. Pola budidaya secara intensif salah satu yang dituding menyebabkan ketidakseimbangan lingkungan sehingga banyak udang mati dan menimbulkan kerugian dalam jumlah besar. Selain itu, abrasi pantai akibat gerusan ombak juga telah memusnahkan ratusan hektar lahan tambak. Para nelayan juga mengeluh air laut pesisir Cirebon sudah banyak tercemar limbah industri, padahal bertanam udang harus didukung air laut yang beroksigen bagus.

Banyak lahan tambak hilang. Padahal, pada masa keemasannya ribuan hektar tambak yang terbentang di daerah pesisir utara Cirebon mampu menyerap sangat banyak tenaga kerja.

Terjadi pergeseran jenis pekerjaan di pesisir dan perkampungan nelayan Cirebon dan sekitarnya dalam beberapa tahun terakhir. Dari data tiga tahun silam, hanya tinggal 1.800-an nelayan dan pekerja ikan yang masih bergelut di laut. Surutnya populasi pekerja ikan, bisa jadi terkait dengan terdesaknya areal lahan pantai yang berubah menjadi pabrik, perkantoran, dan perumahan.

Namun, meski lahan untuk tambak udang menyempit, Cirebon dan Indramayu sebenarnya masih memiliki laut lepas. Dan mengingat bahwa Cirebon juga tidak memiliki aktivitas niaga pelabuhan non perikanan yang mencolok, jelaslah Cirebon dan wilayah pesisir seperti Indramayu belum memanfaatkan kawasan lautnya dengan optimal. Wilayah laut Ciayumajakuning boleh dikata merupakan wilayah yang belum ”dijamah”.

Eksploitasi perikanan laut secara sehat menuntut beberapa prasyarat. Pertama, memenuhi kebutuhan modal para nelayan.

Ketika tambak hancur, banyak tenaga kerja yang akhirnya kembali pada usaha semula, yakni menangkap ikan ke tengah laut. Namun, upaya ini tidak banyak menolong ekonomi masyarakat pesisir, karena usaha penangkapan ikan dihadang kendala penangkapan berlebihan di pesisir. Ketika ikan habis, nelayan harus makin jauh mencari ikan ke tengah laut. Di sini mereka terhadap oleh biaya membeli kapal lebih besar untuk menghadang ombak lebih tinggi serta bahan bakar yang makin mahal. Hasil tangkapan tak sebanding dengan ongkos produksi.

Tapi, modal saja tidak cukup. Jika ikan berhasil ditangkap, pengolahan pasca-tangkapan sangat penting, terlebih jika produk dimaksudkan untuk ekspor. Banyak negara importir kini mensyaratkan kualitas produk yang memenuhi standar kesehatan. Pendidikan dan penguatan mutu sumberdaya manusia di bidang perikanan menjadi hal yang mendesak.

Alam Cirebon menawarkan kemurahan antara lain berupa laut. Tapi, hanya jika mutu manusianya memadai mereka bisa memanfaatkan kemurahan itu.***

About these ads

13 thoughts on “Cirebon, Kota Udang yang Pudar

  1. sayang banget yah, kini udang hanya tinggal nama saja.
    mungkin ini adalah PR bagi masyarakat Cirebon pada umumnya bagaimana mengembalikan `udang` bukan hanya sebagai logo dan slogan semata, tapi sebagai sesuatu ayng memberi dampak positif bagi masyarakat Cirebon dan sekitarnya :-)

  2. saya sangat menyayangkan Cirebon tidak mengoptimalkan potensi lautnya. Selain udang yang nyaris lenyap, ternyata banyak juga potensi Cirebon yang terlantar. Dan penguasa, ternyata tak peduli dengan kondisi tersebut :(

  3. kita tidak perlu heran soal udang ini, kini semua sudah tau bahwa kiamat sudah dekat…sadarlah wahai manusia…jaga dan peliharalah dunia dan semua isinya, untuk kelangsungan hidup kta dan anak cucu

  4. Ke empaaaaaaaaaaaattt!!
    Saya orang Kuningan, tetanggaan ma Cherbon.
    Cirebon tu pantainya emang udah kotor. Bener kali udah tercemar sama limbah industri. Sangat disayangkan padahal udang khan mahal kalau di ekspor?!

  5. Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan memang perlu bekerjasama dan saling mendukung. Cirebon dan Indramayu, bisa mati kalau Kuningan tidak memberi airnya :)
    Sebaliknya, Cirebon juga harus ikut serta menjajakan hasil bumi dan objek wisata Kuningan. Termasuk menjajakan hasil bumi dan kerajinan dari Indramayu dan Majalengka.

    Kalau semua bekerjasama, Ciayumajakuning akan menjadi kawasan yang menarik. Baik sebagai kawasan dagang, kawasan wisata, maupun kawasan agrobisnis.

    Yuk ah….

  6. benar mas… Cirebon itu potensial sekali jika mau dikembangkan. Utamanya laut. Udang. Sebuah tema kota yang justru bagian dari laut itu sendiri. Tapi gemanya kok kini adem ayem ya mas…. pekerjaan Pemda dan masyrakat tentunya ditunggu untuk menuju Cirebon Modern. Aja terkenal urange bae yaa… tapi urange langka, tah?

  7. terima kasih atas kunjungannya kang!
    jadi inget waktu nakal di Buntet, mancing di Kanci suka banyak dapat ikan. Sekarang gimana ya?

  8. priben khabare kang, isun wis suwe ora nguru maning ano produk sing mambu-mambu urang ning cerbon enak rasane, kayo trasine, krupuke lan kecape. wah PR iku dulur-dulur ning dinas perikanan. kesuwun?

  9. Astagfirullah.. kembali lagi ke SDA disana dan ketegasan dari pmerintah dalam menegakan RTRW yang baik.
    Semoga kedepannya ada yang menjadi pionir dalam kebangkitan nyata wilayah Cirebon sebelum memang berani untuk menjadi provinsi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s